SUMENEP, Seputar Jatim – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, meminta Wakil Bupati Sumenep, Imam Hasyim, untuk melaksanakan Shalat Istisqa sebagai salah satu ikhtiar spiritual dalam menghadapi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Sumenep, baik daratan maupun kepulauan.
Selain melalui doa bersama, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga melakukan berbagai upaya untuk mengatasi krisis air, mulai dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pemetaan sumber air potensial, pembangunan sumur bor, hingga pendistribusian air bersih kepada masyarakat terdampak.
Khofifah menjelaskan, Operasi Modifikasi Cuaca telah dilakukan sejak 6 September. Upaya tersebut dilaksanakan dengan mempertimbangkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai titik-titik awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sejak 6 September, kita melakukan OMC, Operasi Modifikasi Cuaca. Kalau BMKG bilang ini ada titik-titik awan, nah sudah kita akan mengikuti dengan operasi modifikasi cuaca. Sudah turun sejauhnya hujan ringan sampai dengan sedang,” ujarnya, usai mengelilingi stan bantuan dalam kegiatan Sapa Bansos dan Bakti Sosial Jawa Timur, yang digelar dalam rangka Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, Rabu (14/10/2026).
Di tengah upaya tersebut, Khofifah juga meminta Wakil Bupati Sumenep, untuk mengajak masyarakat melaksanakan Shalat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar bersama memohon turunnya hujan yang membawa rahmat dan manfaat.
Ajakan ini menjadi perhatian di tengah kondisi kekeringan yang berdampak pada ketersediaan air bersih, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan kekeringan dan kepulauan yang menghadapi tantangan akses air.
“Kita juga meminta Shalat Istisqa ya kawan-kawan. Jadi nanti juga Pak Wabup, setiap Jumat ini saya minta tolong, setelah Shalat Jumat dilanjutkan dengan Shalat Istisqa, memohon hujan yang menjadi rahmat dan manfaat,” katanya.
Selain melalui pendekatan spiritual, pemerintah juga berupaya mengidentifikasi sumber-sumber air yang berpotensi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pemetaan dilakukan dengan mempertimbangkan jarak sumber air, titik strategis penyaluran, serta kemungkinan pembangunan sumur bor.
Khofifah mencontohkan, terdapat sumber air dengan jarak hingga 17 kilometer, dari kawasan Arjuno menuju Singosari. Selain itu, ada pula sumber air dengan jarak 16 kilometer dan 11 kilometer yang menjadi pertimbangan dalam upaya pemenuhan kebutuhan air.
“Ada yang 17 kilometer, itu yang dari Arjuno sampai ke Singosari. Ada 16, ada 11 kilometer. Mana titik strategis yang airnya bisa ditarik, untuk sumur mana yang memungkinkan untuk dilakukan sumur bor. Jadi sinergi kita semuanya,” jelasnya.
Di sisi lain, pendistribusian air bersih juga terus dilakukan untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air. Khofifah menyebut, jumlah kabupaten/kota di Jawa Timur yang masuk kategori krisis air dan telah menetapkan status tanggap darurat bertambah dari 24 menjadi 25 daerah.
“Kita juga dropping air bersih. Nanti mungkin kita bisa sama-sama melihat dropping air bersih. Karena ada 25 kabupaten kota, tadinya 24, sekarang tambah satu, 25 kabupaten kota yang kategori krisis air dan kemudian mengeluarkan SK tanggap darurat,” ungkapnya.
Khofifah berharap berbagai langkah tersebut dapat berjalan beriringan, baik melalui upaya teknis pemerintah maupun ikhtiar spiritual masyarakat. Sinergi antarpihak dinilai penting untuk menghadapi dampak kekeringan sekaligus memastikan kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi.
Ia pun berharap hujan segera turun di wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten Sumenep, sehingga dapat membantu mengatasi kekeringan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Tentu kita mohon pada Allah dari apa Shalat Istisqa dan Operasi Modifikasi Cuaca, harapan kita Allah menurunkan segera hujan yang memberi rahmat dan manfaat. Amin,” pungkasnya. (EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://www.seputarjatim.com










