Kesehatan

Kasus Kematian Bayi, Lima Organisasi Profesi Kesehatan Sebut Bukan Malapraktik

179
×

Kasus Kematian Bayi, Lima Organisasi Profesi Kesehatan Sebut Bukan Malapraktik

Sebarkan artikel ini
20231204 114327 scaled
Foto Istimewa

Sumenep, seputarjatim.com- Pemerintah Kabupaten Sumenep bergerak serius dalam menangani kasus dugaan malpraktik pasien bayi yang meninggal di Puskesmas Batang-Batang setelah pengambilan sampel darah dari tumit. Skrining Hipotiroid Kongenital ini dilakukan untuk memeriksa kemungkinan adanya gangguan pertumbuhan yang dialami bayi tersebut. Pada Senin (4/12/2023), Bupati Sumenep Achmad Fauzi membentuk dan mengutus satuan tugas khusus (satgasus) audit kematian bayi untuk menyelidiki kasus ini secara independen.

“Tim ini langsung saya bentuk untuk memeriksa kasus ini secara mendalam. Pemerintah Kabupaten Sumenep memberikan atensi khusus kepada dinas kesehatan. Masyarakat harus tahu yang sebenarnya terjadi. Tim saya bentuk meliputi berbagai unsur mulai dari tenaga kesehatan, akademisi, dan perwakilan organisasi profesi kedokteran, kebidanan dan keperawatan,” terang Bupati Fauzi, Senin (4/12/2023).

Baca Juga :  Sejumlah klinik Kecantikan Di Sumenep Diduga Tidak Berizin

Diskusi pendalaman kasus kematian bayi digelar di Aula Puskesmas Batang-Batang. Kepala Puskesmas Batang-Batang Fatimatul Insaniyah mengatakan, semua prosedur pengambilan sampel SHK telah dilakukan secara benar.

“Petugas sudah pakai APB, lalu diambil sampel darah di bagian tumit bagian dalam, bekas suntikan diberi alkohol. Dan semua prosedur sudah benar,” kata Fatimatul Insaniyah.

Dalam pendalaman yang dilakukan 3 organisasi tenaga kesehatan sekaligus yakni Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Sumenep, disampaikan bahwa tidak ada korelasi kematian bayi dengan pengambilan sampel SHK.

Baca Juga :  Beda dengan Ambulan, Dinkes Pertegas Kegunaan Mobil Pusling yang Diberikan kepada Puluhan Puskesmas di Sumenep

“Tidak ada keterkaitan antara SHK dengan kematian yang dialami bayi. Karena jika dilihat kronologi, semua tahapan tindakan medis sudah sesuai SOP. Penyebabnya bukan SHK, tapi diduga penyebab kematian adalah infeksi paru-paru,” kata Anggota IDI dr. Rifmi Utami.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Sumenep Slamet Boedihardjo berharap, pembentukan satgasus audit kematian bayi ini akan membuat kasus tersebut terang benderang.

“Tim ini akan merangkul semua unsur tak terkecuali tokoh masyarakat dan ulama. Kami sangat terbuka ya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Hasilnya tentu kami jelaskan ke publik,” katanya. (her/red)

Tinggalkan Balasan