Para Penempuh Jalan Sunyi

Tak Berkategori159 Dilihat

Seputarjatim.com Ada saat di mana dunia keramaian sudah tak lagi menarik perhatian. Saat hidup sudah terlalu sering diisi oleh hal-hal menjenuhkan, memilih menyepi bisa menjadi pilihan. Dalam doktrin agama, ketika sudah bosan dengan gemerlap dunia, menyepi dapat dapat menjadi solusinya. Orang yang memilih menyepi, otomatis ia menempuh jalan sunyi. Ia harus siap dianggap berbeda. Bahkan, dalam satu waktu, orang lain akan menganggapnya tidak ada.

Menempuh jalan sunyi hanya dapat dilakukan oleh orang yang benar-benar siap. Siap diperlakukan berbeda dalam hal apa saja. Seorang sufi misalnya, dalam kehidupan sehari-hari ia banyak melakukan hal yang oleh orang lain dianggap aneh. Memilih jalan sunyi, bagi sebagian orang, merupakan pilihan gila yang pantas ditertawakan. Jika dapat memilih keramaian, mengapa harus terjebak dalam kesunyian? Bukankah sunyi itu sepi dan tak berarti?

Seseorang yang sudah terbelenggu dalam gemerlap keramaian, biasanya akan memahami bahwa kesunyian merupakan realitas yang pantas ditertawakan. Baginya, kesunyian merupakan pilihan yang dapat melahirkan ketakutan. Seakan-akan, jika sedang memilih menyepi, seseorang akan hidup sendiri. Padahal, di dalam kesunyian lah terkadang kejernihan berpikir datang tanpa diundang.

Dalam dunia sepak bola, penjaga gawang merupakan kumpulan pemilih jalan sunyi. Mengapa demikian? Di tengah cara pandang bahwa sepak bola hanya soal mencetak gol ke gawang lawan, maka memilih menjadi penjaga gawang merupakan pilihan yang harus dipikirkan matang-matang.

Baca Juga :  Asyik Judi Remi, 4 Pemuda Ditangkap

Saat sepak bola hanya dipahami sebagai atraksi menyerang kemudian mencetak gol, maka peran penjaga gawang hanya akan dipandang sebelah mata. Dipuja saat mampu tampil baik menjaga gawangnya, tapi dicerca saat melakukan blunder, meski itu yang pertama. Bagi penjaga gawang, melakukan blunder akan dianggap dosa abadi yang tak terampuni. Blunder yang ia lakukan akan menutupi ribuan penyelamatan yang pernah ditorehkan.

Ada dua alasan mengapa penjaga gawang layak dikatakan sebagai penempuh jalan sunyi. Pertama, dari sisi perlakuan. Saat Anda menonton laga sepak bola, penjaga gawang akan diperlakukan berbeda. Saat pemain lain mengenakan kostum yang sama, penjaga gawang diberi kostum berbeda. Dari awal masuk lapangan kita sudah tau mana penjaga gawangnya.

Bagi saya, pemberian kostum yang berbeda bukan berarti diskriminasi. Itu adalah simbol bahwa penjaga gawang merupakan kumpulan penempuh jalan sunyi. Oleh sebab itu, untuk kostum yang dikenakan, ia harus dibedakan dari pemain kebanyakan. Sebab, seperti yang sudah saya katakan, memilih jalan sunyi berarti memilih berbeda, bahkan berbeda dengan kawan-kawannya.

Perlakuan berbeda terhadap penjaga gawang bukan hanya dalam kostum yang dikenakan, tapi juga dalam aturan di lapangan. Saat pemain lain dilarang menyentuh bola, penjaga gawang harus melakukannya. Saat pemain lain berusaha memasukkan bola, penjaga gawang harus jatuh bangun menghalaunya. Itulah aturan dalam sepak bola. Dan, penjaga gawang, memang harus diperlakukan berbeda.

Kedua, dari sisi apresiasi yang didapatkan. Hampir sulit ditemukan bahwa pemain terbaik dunia akan didapatkan oleh penjaga gawang. Saat sepak bola hanya dilihat dari gol yang diciptakan, maka pemain terbaik dunia pasti akan jatuh pada penyerang. Anda lihat saja, beberapa tahun terkahir, pemain terbaik selalu diberikan kepada pemain di posisi yang sama: memasukkan bola ke gawang lawannya.

Baca Juga :  Gowes Kemanusiaan Peringati HUT Lantas ke-64

Akhirnya, sepak bola hanya dipahami sebagai seni memasukkan bola. Sedang yang jatuh bangun mencegah bola masuk ke gawangnya, hanya akan diganjar dengan gelar penjaga gawang terbaik. Itu saja.

Menjaga tiang selebar 7,32 meter dan setinggi 2,44 meter merupakan pilihan sunyi yang harus diapresiasi. Meski cenderung dipandang sebelah mata, posisi penjaga gawang tetaplah luar biasa. Mereka adalah sekumpulan orang yang siap diperlakukan berbeda, tidak begitu diapresiasi sebagaimana yang diterima kawan-kawannya.

Dipuja saat mampu menggagalkan peluang, tapi dicaci saat melakukan kesalahan. Dan, sampai kapan pun, penjaga gawang tetaplah sekumpulan penempuh jalan sunyi; mereka akan selalu sendiri, menyepi, dan tidak terlalu diapresiasi.

Meski demikian, para penempuh jalan sunyi adalah pencari jalan ilahi. Tak sakit saat dicaci, dan tak merasa besar saat dipuji. Mereka adalah penempuh yang siap menerima apa pun yang terjadi. Sebab, dalam benak mereka tertanam satu prinsip yang tertanam dalam hati: “Biarkan Aku menempuh jalan sunyi. Bagiku, kesunyian adalah dunia kebahagiaan. Manusia terlahir sunyi dan akan berakhir dalam keadaan sunyi.(*)

Komentar