Puluhan Ton Sampah Tertumpuk, DLH Sumenep Akui Mesin RDF Kewalahan

- Redaksi

Selasa, 8 Juli 2025 - 18:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TERSENYUM: Kepala Bidang Persampahan DLH Sumenep, Deddy Surya, ketika berbicara tumpukan sampah di Sumenep (Doc. Seputar Jatim)

TERSENYUM: Kepala Bidang Persampahan DLH Sumenep, Deddy Surya, ketika berbicara tumpukan sampah di Sumenep (Doc. Seputar Jatim)

SUMENEP, Seputar Jatim – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, merasa kewalahan untuk mengalola sampah yang terus datang setiap hari.

Diketahui, sebanyak 36 ton sampah yang menumpuk, namun hanya 3 sampai 4 ton yang berhasil diolah menjadi energi.

Satu-satunya mesin Refuse Derived Fuel (RDF) yang dimiliki DLH Sumenep ibarat prajurit tunggal di medan perang. Sebab, kapasitas maksimumnya hanya 10 ton per hari.

Selebihnya, puluhan ton sampah terus menumpuk tanpa jada, menunggu waktu membusuk atau dikubur begitu saja.

“Kami berjuang sebisanya. Tapi kalau sampah terus datang tanpa henti, dan yang bisa diolah cuma segitu, ya TPA ini tinggal menunggu waktu untuk kolaps,” ujar Kepala Bidang Persampahan DLH Sumenep, Deddy Surya. Selasa (8/7/2025).

Baca Juga :  BRIDA Sumenep Dorong Kampus Lokal Lebih Serius Kembangkan Riset yang Aplikatif

Menurutnya, sumber utama sampah berasal dari aktivitas rumah tangga, pasar, dan pusat-pusat perdagangan. Yang menjadi masalah bukan hanya jumlah, tetapi juga karakteristik sampah yang belum terpilah. Semua tercampur jadi satu baik organik, plastik, logam, hingga limbah medis rumahan.

“Kalau datangnya sudah dalam kondisi campur aduk, maka proses olahnya jadi jauh lebih sulit. Mesin RDF tidak bisa sihir. Butuh input yang bersih,” jelasnya.

Meski pihaknya sudah menggencarkan berbagai strategi teknis yaitu menambah armada, memperluas titik-titik drop box, hingga membentuk belasan bank sampah di tingkat RT dan RW. Tapi semua itu seperti membasuh luka besar dengan kapas kecil jika kesadaran masyarakat tetap rendah.

“Kita bisa beli alat baru, kita bisa bangun sistem baru, tapi kalau masyarakat masih buang sampah seenaknya, semua akan sia-sia. Ini bukan sekadar urusan pemerintah, ini soal perilaku kolektif,” tegasnya

Ia pun mengaku banyak warga yang masih membuang sampah langsung ke sungai atau pinggir jalan saat malam hari.

Bahkan, ada yang menganggap memilah sampah itu merepotkan dan tidak penting. Padahal, kebiasaan itu justru yang mempercepat kehancuran sistem pengelolaan.

Dan saat ini, pihaknya mencoba membalik pendekatan. Edukasi bukan lagi hanya dalam bentuk spanduk dan brosur, tapi melalui gerakan komunitas sekolah berbasis lingkungan, kader pilah sampah di tiap kelurahan, dan pelibatan aktif pemuda. Program 3R (Reduce, Reuse, Recycle) tidak lagi hanya slogan, tapi sedang dijadikan gaya hidup.

“Kita ingin menciptakan revolusi lingkungan dari rumah-rumah warga. Kalau semua orang sadar, meski hanya mengurangi satu kantong plastik per hari, itu sudah luar biasa,” imbuhnya.

Baca Juga :  Bupati Sumenep Pastikan RPJMD 2025-2029 Dapat Dijadikan Tolak Ukur Keberhasilan Pembangunan Daerah

Deddy mengingatkan, bahwa bom waktu lingkungan ini tidak akan menunggu. Jika tidak ada perubahan perilaku besar-besaran, maka bukan hanya TPA yang akan runtuh, tetapi juga kualitas hidup generasi mendatang.

“Lingkungan yang kita rusak hari ini adalah warisan buruk untuk anak cucu kita besok. Pertanyaannya, maukah kita diingat sebagai generasi yang diam saat krisis datang?,” tukasnya. (Sand/EM)

*

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Di Balik Pencitraan SPPG Rubaru, Anak Sekolah Diduga Dijadikan Uji Coba MBG
MBG dari SPPG Pakamban Laok 2 Picu Diare Siswa, Wali Murid Takut Melapor
Desa Meddelan Diguncang Dugaan Korupsi hingga Proyek Siluman, Tokoh Pemuda Ancam Audiensi Camat Lenteng
Klarifikasi Kepala SPPG Jambu Berbelit, Sertifikat Wajib MBG Terbukti Belum Lengkap
Proyek Jalan Gelap di Desa Meddelan, Camat Lenteng Pilih Diam
Achmad Fauzi Wongsojudo Lantik Lima Komisioner KI Sumenep Periode 2025–2029
Dugaan Korupsi BUMDes, Kades Meddelan Pilih Tutup Mulut dan Blokir WhatsApp Wartawan
Tumpahan CPO Cemari Laut Gili Iyang Sumenep, Minyak Tongkang Capai Bibir Pantai

Berita Terkait

Selasa, 27 Januari 2026 - 17:27 WIB

Di Balik Pencitraan SPPG Rubaru, Anak Sekolah Diduga Dijadikan Uji Coba MBG

Selasa, 27 Januari 2026 - 16:12 WIB

MBG dari SPPG Pakamban Laok 2 Picu Diare Siswa, Wali Murid Takut Melapor

Senin, 26 Januari 2026 - 09:43 WIB

Desa Meddelan Diguncang Dugaan Korupsi hingga Proyek Siluman, Tokoh Pemuda Ancam Audiensi Camat Lenteng

Minggu, 25 Januari 2026 - 16:00 WIB

Klarifikasi Kepala SPPG Jambu Berbelit, Sertifikat Wajib MBG Terbukti Belum Lengkap

Sabtu, 24 Januari 2026 - 20:22 WIB

Proyek Jalan Gelap di Desa Meddelan, Camat Lenteng Pilih Diam

Berita Terbaru