SUMENEP, Seputar Jatim – Menjelang bulan suci Ramadan, Pasar Anom Sumenep, Madura, Jawa Timur, kembali menunjukkan perannya sebagai barometer ekonomi rakyat.
Aktivitas jual beli mulai meningkat, daya beli masyarakat menguat, sementara kewaspadaan terhadap potensi lonjakan harga menjadi perhatian utama.
Di tengah kepadatan pasar, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak).
Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap aman dan harga berada dalam kendali menjelang Ramadan.
Bersama jajaran Forkopimda serta kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Fauzi menyusuri lorong-lorong pasar. Ia mendatangi sejumlah lapak, mulai dari beras, minyak goreng, telur, daging ayam, hingga daging sapi.
Tak sekadar memantau, ia juga berdialog langsung dengan pedagang dan pembeli guna menggali kondisi riil di lapangan yang kerap tidak sepenuhnya tergambar dalam laporan administratif.
Komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang, yang hampir selalu menjadi pemicu inflasi musiman yang tak luput dari perhatian. Harga dicermati, pasokan dipastikan, dan potensi gangguan distribusi diantisipasi.
“Kami ingin memastikan masyarakat bisa menyambut Ramadan dengan tenang. Jangan sampai kebutuhan pokok justru menjadi beban karena harga tak terkendali,” katanya, Sabtu (14/2/2026).
Dari hasil pemantauan, stok bahan pokok di Pasar Anom masih mencukupi. Sejumlah harga memang mulai bergerak naik, namun belum menunjukkan lonjakan signifikan.
Meski demikian, Fauzi menegaskan pemerintah daerah tidak akan menunggu situasi memburuk.
Ia telah menginstruksikan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk melakukan pemantauan ketat dan pendataan harian terhadap stok serta pergerakan harga di pasar tradisional. Data tersebut akan menjadi dasar pengambilan kebijakan, termasuk kemungkinan intervensi pasar bila diperlukan.
Lebih jauh, ia juga memberikan peringatan tegas kepada pelaku usaha agar tidak memanfaatkan momentum Ramadan untuk meraup keuntungan berlebihan melalui praktik penimbunan atau kenaikan harga yang tidak wajar.
“Ramadan adalah bulan ibadah. Jangan dinodai dengan praktik dagang yang merugikan masyarakat. Pemerintah akan bertindak tegas jika ditemukan pelanggaran,” tegasnya.
Sidak ini menjadi penegasan kehadiran pemerintah di tengah denyut ekonomi rakyat. Stabilitas harga kebutuhan pokok ditegaskan sebagai komitmen yang diawasi langsung dari lapangan, bukan sekadar melalui laporan di balik meja birokrasi. (Sand/EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://seputarjatim.com









