EDITORIAL: DPRD Sumenep, Joget, Nyawer, Hingga Temuan Celana Dalam

Didik Setia Budi, Pemred seputarjatim.com

Nasional47 Dilihat

Seputarjatim.com- DPRD Kabupaten Sumenep menjadi buah bibir belakangan terakhir. Aksi joget dan nyawer diatas kapal, hingga yang terbaru adanya temuan celana dalam di dalam ruang rapat paripurna DPRD. Ada yang berpikir ini lucu mengundang tawa, ada pula yang menilainya serius, berpikir ada yang tidak beres. Yang pasti, berita ini menyeruak ke publik, diterima dan ditangkap masyarakat.

Menyoal anggota DPRD Sumenep adalah melihat prestasi yang dilakukan. Seberapa besar para wakil rakyat itu berbuat untuk konstituennya. Seberapa melayani, mereka dalam fungsinya di lembaga legislatif.

Di tengah krisis kepercayaan yang terjadi (baca: beli suara untuk maju nyaleg), catatan kontroversi etik anggota DPRD Sumenep ini akan direkam selamanya oleh publik. Dalam sebuah obrolan ringan misalnya, seorang tukang becak yang sedang ngopi di sebuah warung ikut berkomentar tentang video viral anggota dewan joget dan nyawer. Empat tukang becak mengurubungi handphone pemilik warkop yang sedang memutar video di youtube.

“Genika paserah? Nyaman gih deddi dewan. Keule tak meliya pole mon genika maju. Deri partai napa genika. Kecuali adu’um lema lamber se mirah,” kata tukang becak yang berkumpul saat itu.

Baca Juga :  Silaturahmi ke Ponpes, Kiai Muda Jatim Pendukung Ganjar Beri Bantuan danĀ  Santunan Anak Yatim di Magetan

Dan memang pantas, para tukang becak memiliki penilaian standar mereka soal kinerja wakil rakyat. Yang harus misalnya, giat membantu mengembangkan ekonomi masyarakat, mencari solusi kesulitan warga, atau lainnya.

Juna: Bukan Wartawan, Saya LSM dan Selamanya Begitu

Saya mengenalnya sejak 2009. Namanya Juna. Pria ini aktif sejak dulu menyuarakan persoalan masyarakat, mengkritisi kebijakan publik yang kurang pas, termasuk protes tentang video viral anggota dewan joget dan nyawer.

“Saya memang aktivis LSM dan akan selalu begitu. Niat saya ingin memberi sumbang ide untuk kemajuan Sumenep. Kalau mau mendirikan media juga bisa. Tapi enggak, saya tetap aktivis LSM. Bukan pekerja media. Karena akan lebih riskan kalau LSM lalu ikut mendirikan media. Nanti akan campur aduk dan sarat kepentingan. Jadi saya istiqomah saja. Di dunia saya, LSM,” terang Juna.

Baca Juga :  Tiga Siswa Di Bojonegoro Diduga Di pukul Gurunya

Juna mengakui, sejak 2009 hingga 2023, aktivis LSM di Kabupaten Sumenep mulai ‘berguguran’. Banyak yang vakum, jatuh sakit, dan ada yang membangun perusahaan media. Tak heran, jika beberapa tahun terakhir demo LSM jarang ditemui.

“Saya muncul lagi untuk menggairahkan pengawasan lembaga swadaya masyarakat (LSM) akan kinerja pemerintah. Unsur LSM harus tetap ada. Jadi fungsi kontrol oleh LSM harus tetap dilakukan. Di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, aktivis LSM itu banyak. Di Sumenep sekarang yang sedikit. Tapi gak apa-apa, walaupun sedikit tapi saya tetap bersuara,” tegasnya.

Saya menyimak Juna berbicara. Dalam hati saya kagum dengan prinsip LSM ya tetap LSM. Prinsip Juna tidak menyatukan dunia LSM dengan kewartawanan adalah poin penting yang saya catat. Karena memang bahaya, jika kerja profesional wartawan tidak dilakoni oleh orang yang bukan murni pewarta.

Juna menyedot dalam rokoknya. Asap membumbung tinggi. Kopi di gelasnya sudah habis. Handphone nya memutar video viral joget anggota dewan. (bersambung)

Komentar