oleh

Gililabak, Pulau Tanpa Sekolah

SUMENEP, seputarjatim.com Senin pagi, menjadi waktu upacara bendera di semua sekolah tanah air. Murid berbaris rapi, kibarkan merah putih,  mendengar pembacaan teks Pembukaan Undang-Undang 1945, dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tapi tidak di Pulau ini. Tak ada sekolah, kegiatan itu nyaris tak ada. Ironi, sejak lama Pulau Gililabak tak pernah miliki sekolah.

“Saya juga hafal lagu kebangsaan Indonesia Raya. Disini memang gak pernah ada sekolah, tapi kami hafal lagu itu,” ucap Syaiful, salah seorang warga.

Bersekolah, menurut Syaiful adalah hal yang didambakan warga Pulau Gililabak. Syaiful mengaku heran, populasi penduduk yang terus bertambah, tak membuat pemerintah setempat sadar arti pentingnya membangun sekolah.

“Coba lihat anak-anak kecil itu. Mereka itu harusnya duduk didalam kelas bukannya mancing,” katanya.

Saat ini menurut Syaiful, warga Gililabak yang sadar pendidikan terpaksa menitipkan anak-anak mereka kepada famili diluar Pulau untuk menuntut ilmu. Ada yang Sekolah Dasar, SMP dan SMA.

“Sebagian orang tua mencari sekolah di Pulau lain, seperti Pulau Poteran. Sebagian ada yang mengirim anaknya ke Pondok Pesantren. Kalau gak gitu, mengalah dengan keadaan, ya tidak sekolah. Bodoh terus kami,” imbuhnya.

Perkembangan pesat wisata Pulau Gililabak, tak seiring dengan kemajuan pendidikan di Pulau seluas dua lapangan bola itu. Menurut Syaiful, seringkali wisatawan keliling Pulau dan bertanya letak sekolah di Pulau ini. “Saya jawab gak ada, mereka heran,” kata Syaiful.

Sekolah bagi warga Pulau Gililabak adalah impian. Warga kecewa kondisi mereka tak sama. Pulau Gililabak hanya menjadi tempat bersenang-senang wisatawan. Mereka singgah untuk berlibur dan mencari hiburan. Ribuan foto selfie para wisatawan yang bertebaran di dunia maya, sekilas menggambarkan betapa majunya taraf hidup masyarakat setempat.

Langkah Syaiful terhenti didepan rumah penduduk. Seorang nenek dan cucunya tengah serius menganyam daun kelapa untuk jebakan ikan.

“Itu sticker KPU. Tiap Pilkada kami didata. Alhamdulillah, kami masih dianggap sebagai warga negara,” pungkas Syaiful sambil menunjuk bagian atas pintu rumah.

Kami berlalu, berjalan menyusuri putih Pantai Gililabak. Puluhan perahu nelayan berjejer rapi di sebuah tepian. Pada tiang tertinggi perahu, berkibar merah putih! (dik/red) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *