Ibnu Hajar: Pahlawan Adalah Mereka yang Berjuang untuk Kesejahteraan dan Kemakmuran Rakyat

- Redaksi

Minggu, 10 November 2024 - 15:31 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

Budayawan dan Sastrawan Nasional, Ibnu hajar

Budayawan dan Sastrawan Nasional, Ibnu hajar

SUMENEP, Seputar Jatim – Budayawan dan Sastrawan Nasional asal Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Ibnu Hajar, memberikan gagasannya mengenai pahlawan kekinian dimomentum Hari Pahlawan Nasional, pada 10 November 2024.

Setiap tanggal tersebut, Bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan, dimana pada saat itu perlawanan bangsa Indonesia terutama arek-arek Suroboyo melawan penjajah.

“Jadi dengan pekik merdekanya Bung Tomo itu mengusir penjajah, karena pada saat itu kita sudah merdeka, kemudian didatangi lagi oleh agresi tentara Belanda ke Negeri kita,” ujarnya, Minggu (10/11/2024)

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh karena itu, lanjut dia, dalam konteks kekinian mari budayakan nilai-nilai kepahlawanan. Kalau sekarang sudah tidak berperang, tidak ada penjajah secara fisik, kemudian siapa yang akan menjadi pahlawan.

Baca Juga :  Debat Kedua, FAHAM Komitmen Tingkatkan Akses Kesehatan, Pendidikan dan Infrastruktur yang Lebih Baik

“Pahlawan adalah mereka yang berjuang untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Pahlawan adalah mereka yang menghibahkan jiwa raganya untuk kemaslahatan ummat, itulah pahlawan dalam konteks kekinian. Karena untuk mencari orang yang seperti itu saat ini ulit sepertinya di negeri ini,” tegasnya.

Lanjut ia mengatakan, jadi apapun profesinya entah buruh tani, aparatur negara, wakil rakyat, entah itu mentri, bahkan presiden sekaligus kalau menghibahkan jiwa raganya dan berjuang untuk kemaslahatan ummat atau berjuang untuk memakmurkan negara ini layak juga disebut sebagai seorang pahlawan.

Oleh karena itu, sambung dia, nilai-nilai kejuangan dan nilai-nilai kepahlawanan itu harus dibudayakan. Di momentum hari ini, jangan memperingati secara seremonial saja, tetapi nilai-nilai yang terkandung di kejuangan para pahlawan yang telah mendahului ayo ditiru.

“Beliau-beliau itu telah mengorbankan jiwa raganya bahkan nyawa pun dia tidak hiraukan, demi kemerdekaan dan demi kemajuan bangsa dan negeri ini,” bebernya.

Baca Juga :  KPU Sumenep Sukses Gelar Debat Kedua Bagi Pasangan Cabup dan Cawabup 2024

Tidak hanya itu, ia menegaskan, bahwa siapapun layak menjadi pahlawan, dan siapapun juga layak disebut sebagai seorang pahlawan, asal dia berjuang dengan ikhlas dan tulus, dalam artian tidak berjuang dengan modus.

“Nah, kalau berjuang dengan modus karena kepentingan pribadi, kemudian rakyat dijadikan judul tapi ternyata dibalik itu, ada kepentingan pribadi yang terselip itu juga tidak layak disebut sebagai pahlawan,” kata pria yang selalu memakai topi itu.

Lebih lanjut, pihaknya menyampaikan, jadi bagaimana orang yang menghibahkan dirinya secara tulus dan ikhlas, bahkan orang yang jujur sekalipun, walaupun seorang petani atau nelayan yang jujur ikhlas bekerja kemudian hasil pekerjaannya untuk masyarakat dan itu membawa kesejahteraan bagi ummat maka layak dia disebut sebagai seorang pahlawan.

“Jadi, ayo kita budayakan orang-orang yang seperti itu, agar nilai-nilai kepahlawanan itu tidak hilang dan diwariskan kepada generasi muda kita,” pungkasnya. (Sand/EM)

*

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

TEMPO BERJUDI DI MADURA
Antrean BBM di Sumenep: Ketika Masyarakat Membayar dengan Waktu dan Uang
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
PPPK untuk SPPG, Guru dan Nakes Masih Menunggu: Kebijakan yang Mengusik Rasa Keadilan
Saat Publik Gugat SPPG di Sumenep, SPPI Absen dari Klarifikasi
Pendidikan Kehilangan Arah: Saat Kebijakan Reaktif Mengalahkan Perencanaan
Demokrasi Dijual Murah, Pilkada Langsung dalam Cengkeraman Politik Uang
MENUMBUHKAN ASA DI PAUD RA: Integrasi Inquiry, PjBL, dan Computational Thinking Dalam Dekapan Kurikulum Berbasis Cinta

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 20:18 WIB

TEMPO BERJUDI DI MADURA

Kamis, 10 September 2026 - 14:26 WIB

Antrean BBM di Sumenep: Ketika Masyarakat Membayar dengan Waktu dan Uang

Senin, 3 Agustus 2026 - 20:27 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Rabu, 21 Januari 2026 - 19:14 WIB

PPPK untuk SPPG, Guru dan Nakes Masih Menunggu: Kebijakan yang Mengusik Rasa Keadilan

Selasa, 13 Januari 2026 - 18:58 WIB

Saat Publik Gugat SPPG di Sumenep, SPPI Absen dari Klarifikasi

Berita Terbaru

Pengamat Kebijakan Publik, Fauzi As (Doc. Seputar Jatim)

Opini Publik

TEMPO BERJUDI DI MADURA

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:18 WIB

PAKAIAN: Polresta Sumenep, mengamankan sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan kasus persetubuhan pelajar (Dok. Seputar Jatim)

Hukum & Kriminal

Terbongkar! Pria di Sumenep Diduga Setubuhi Pelajar 17 Tahun Dua Kali

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:11 WIB

Pamflet ekspansi pasar Rokok Makayasa (Dok. Seputar Jatim)

Ekonomi

Rokok Makayasa Bangun Jaringan Besar hingga Luar Jawa

Kamis, 10 Sep 2026 - 09:03 WIB