Antrean BBM di Sumenep: Ketika Masyarakat Membayar dengan Waktu dan Uang

- Redaksi

Kamis, 10 September 2026 - 14:26 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

Opini, SeputarJatim.com – Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Madura, khususnya Kabupaten Sumenep, seharusnya tidak dipandang sebagai pemandangan biasa.

Di balik panjangnya barisan kendaraan, ada waktu yang terbuang, aktivitas yang tertunda, bahkan penghasilan masyarakat yang ikut tergerus.

Bagi sebagian masyarakat, mengantre BBM mungkin hanya persoalan menunggu. Namun bagi sopir, pedagang, pekerja lapangan, nelayan, dan pelaku usaha kecil, waktu adalah bagian dari penghasilan mereka.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika mereka harus berhenti berjam-jam di antrean, ada pekerjaan yang tertunda dan kesempatan ekonomi yang hilang. Persoalannya semakin serius ketika kondisi seperti ini berlangsung berulang.

Masyarakat tentu membutuhkan penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Apakah persoalannya berada pada distribusi, peningkatan konsumsi, keterbatasan pasokan di SPBU, atau faktor lain?

Sebab, jika stok BBM tersedia secara nasional tetapi masyarakat di daerah masih harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkannya, berarti ada persoalan yang perlu dilihat lebih jauh.

Baca Juga :  TOTALITAS PERAN PEMILIH PEMULA PADA PEMILU

Ketersediaan di tingkat depo atau terminal tidak akan banyak berarti bagi masyarakat apabila pasokan tidak hadir tepat waktu di SPBU.

Dampaknya juga tidak berhenti pada antrean. Ketika sopir kehilangan waktu, biaya operasional meningkat. Ketika kendaraan distribusi terhambat, pergerakan barang ikut terganggu. Pada akhirnya, tekanan tersebut dapat merembet kepada harga barang dan biaya transportasi yang kembali harus ditanggung masyarakat.

Kondisi Madura, khususnya Sumenep, juga memiliki tantangan tersendiri. Wilayah geografis yang luas dan terdiri atas daratan serta kepulauan membuat persoalan distribusi membutuhkan perhatian yang lebih serius.

Kelancaran pasokan tidak cukup hanya dipastikan di wilayah perkotaan, tetapi juga harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di wilayah yang aksesnya lebih terbatas.

Karena itu, antrean BBM seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak, bukan sesuatu yang dianggap sebagai keadaan normal.

Pemkab memang bukan pihak yang menentukan seluruh kebijakan distribusi BBM. Namun pemerintah daerah tidak harus pasif. Pemkab dapat memperkuat koordinasi dengan Pertamina dan instansi terkait untuk memantau pasokan di SPBU, memastikan distribusi ke wilayah daratan maupun kepulauan berjalan lancar, serta memperketat pengawasan terhadap penyaluran BBM bersubsidi agar tepat sasaran.

Baca Juga :  Musuh Pengecut Jenderal Sakera

Informasi kepada masyarakat juga perlu diperkuat. Ketika terjadi gangguan pasokan, masyarakat berhak mendapatkan informasi yang jelas mengenai kondisi di lapangan dan langkah yang sedang dilakukan pemerintah.

Pada akhirnya, masyarakat Sumenep tidak hanya membutuhkan BBM. Mereka membutuhkan kepastian bahwa kebutuhan dasar tersebut tersedia tanpa harus mengorbankan waktu dan penghasilan.

Masyarakat sudah membayar BBM dengan uang mereka. Jangan sampai mereka juga harus membayarnya dengan waktu, pekerjaan, dan penghasilan yang hilang di tengah antrean.***  (Ulul Abror /Penulis dan pemerhati isu sosial kemasyarakatan, lulusan S1 Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Ampel Surabaya.)

Penulis : Ulul Abror

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
PPPK untuk SPPG, Guru dan Nakes Masih Menunggu: Kebijakan yang Mengusik Rasa Keadilan
Saat Publik Gugat SPPG di Sumenep, SPPI Absen dari Klarifikasi
Pendidikan Kehilangan Arah: Saat Kebijakan Reaktif Mengalahkan Perencanaan
Demokrasi Dijual Murah, Pilkada Langsung dalam Cengkeraman Politik Uang
MENUMBUHKAN ASA DI PAUD RA: Integrasi Inquiry, PjBL, dan Computational Thinking Dalam Dekapan Kurikulum Berbasis Cinta
Mengawal Mutu dari Ujung Negeri, Kerja Sunyi Pengawas Madrasah RA–MI di Balik KBC dan RDM
Wajah Buram SPPG Guluk-Guluk Sumenep: Celah Kecil Runtuhkan Program Prabowo Subianto
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 14:26 WIB

Antrean BBM di Sumenep: Ketika Masyarakat Membayar dengan Waktu dan Uang

Senin, 3 Agustus 2026 - 20:27 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Rabu, 21 Januari 2026 - 19:14 WIB

PPPK untuk SPPG, Guru dan Nakes Masih Menunggu: Kebijakan yang Mengusik Rasa Keadilan

Selasa, 13 Januari 2026 - 18:58 WIB

Saat Publik Gugat SPPG di Sumenep, SPPI Absen dari Klarifikasi

Minggu, 11 Januari 2026 - 19:55 WIB

Pendidikan Kehilangan Arah: Saat Kebijakan Reaktif Mengalahkan Perencanaan

Berita Terbaru

Pamflet ekspansi pasar Rokok Makayasa (Dok. Seputar Jatim)

Ekonomi

Rokok Makayasa Bangun Jaringan Besar hingga Luar Jawa

Kamis, 10 Sep 2026 - 09:03 WIB

MENDUNG:
Gedung Pemerintah Kabupaten Sumenep tampak dari halaman depan (Mufti Che - Seputar Jatim)

Pemerintahan

Bayar PBB-P2 Makin Mudah, Sumenep Mulai Terapkan SPPT Elektronik

Selasa, 8 Sep 2026 - 15:09 WIB