SUMENEP, Seputar Jatim – Di tengah derasnya arus modernisasi, Grup Ludruk Madura Rukun Karya membuktikan bahwa seni tradisi tetap mampu bertahan. Memasuki usia ke-50 tahun, kelompok kesenian legendaris ini terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu ikon budaya Madura.
Momentum bersejarah tersebut diperingati keluarga besar Rukun Karya melalui pengajian umum bersama Lora Muhammad Syahid Kholil As’ad Syamsul Arifin. Kegiatan itu menjadi wujud rasa syukur sekaligus doa agar perjalanan panjang Rukun Karya senantiasa diberkahi dan terus menjadi penjaga warisan budaya Madura.
Selama lima dekade, Rukun Karya telah melewati berbagai dinamika perkembangan zaman. Dari masa kejayaan seni pertunjukan tradisional hingga menghadapi tantangan era digital, grup ludruk ini tetap bertahan berkat dedikasi para seniman, dukungan masyarakat, serta kecintaan terhadap budaya lokal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih dari sekadar kelompok seni, Rukun Karya menjadi ruang berkumpul para pelaku seni untuk berkarya, belajar, sekaligus menjaga keberlangsungan ludruk agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Dalam perjalanannya, Rukun Karya telah membawa kesenian Madura tampil di berbagai daerah, tidak hanya di Pulau Garam, tetapi juga di luar Madura, seperti Bali dan Jakarta Selatan.
Bagi para anggotanya, Rukun Karya telah menjadi rumah besar yang menyimpan banyak kisah, pengalaman, dan ikatan kekeluargaan yang terjalin selama puluhan tahun.
Salah satu anggota senior Rukun Karya, Erpan, mengaku bersyukur menjadi bagian dari perjalanan panjang grup tersebut. Ia mengatakan, sebagian besar hidupnya dihabiskan bersama Rukun Karya.
“Alhamdulillah, hari ini Rukun Karya genap berusia 50 tahun. Saya sendiri sudah bergabung sejak masih kelas 5 SD hingga sekarang. Banyak sekali pengalaman dan perjalanan yang saya rasakan bersama Rukun Karya,” katanya, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, Rukun Karya memiliki nilai sejarah yang besar bagi perkembangan seni tradisional Madura. Selain menjadi tempat berkarya, grup tersebut juga menjadi ruang bagi para seniman untuk belajar, berkembang, dan melestarikan budaya daerah.
“Rukun Karya bukan hanya tempat mencari pengalaman dalam dunia seni, tetapi sudah seperti keluarga besar. Banyak suka dan duka yang kami jalani bersama selama puluhan tahun,” ujarnya.
Saat ini, Rukun Karya dipimpin oleh Edy Suhandi Keron, putra almarhum H. Suharun Keron yang menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah berdiri dan berkembangnya grup ludruk tersebut.
Di bawah kepemimpinan generasi penerus, Rukun Karya terus berkomitmen menjaga warisan seni tradisional agar tidak tergerus perkembangan zaman. Regenerasi seniman serta peningkatan kualitas pertunjukan menjadi fokus utama agar ludruk tetap diminati masyarakat.
“Harapan kami, Rukun Karya tetap menjadi bagian dari kebanggaan masyarakat Madura. Semoga ke depan semakin berkembang, tetap dicintai masyarakat, dan mampu melahirkan generasi baru yang peduli terhadap seni tradisi,” ungkap salah satu keluarga besar Rukun Karya.
Peringatan HUT ke-50 ini menjadi refleksi atas perjalanan panjang sebuah kelompok seni yang mampu bertahan berkat kekuatan budaya, semangat para seniman, dan dukungan masyarakat. Dengan usia setengah abad, Rukun Karya menegaskan bahwa kesenian tradisional Madura tetap memiliki ruang untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi bagian penting dari identitas budaya daerah di tengah perubahan zaman. (EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://seputarjatim.com









