SUMENEP, Seputar Jatim – Sejarah besar Madura tidak bisa dilepaskan dari peran para raja dan tokoh leluhur yang turut mewarnai perjalanan peradaban Nusantara.
Jejak kepemimpinan mereka, mulai dari Sumenep, Pamekasan, Sampang hingga Bangkalan, menjadi bagian penting dari sejarah yang perlu terus dikenang dan diwariskan kepada generasi penerus.
Komitmen merawat warisan sejarah tersebut kembali diwujudkan Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui peringatan Haul Raja-Raja Madura. Kegiatan yang berlangsung sehari sebelum peringatan Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke-757 itu menjadi momentum untuk mengenang jasa para leluhur sekaligus menggali nilai-nilai keteladanan dari perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Madura.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejumlah tokoh dari empat kabupaten di Madura turut hadir dalam momentum yang sarat nilai sejarah dan religius tersebut.
KHR Khalil Muhammad, salah satu tokoh Madura asal Pamekasan, mengatakan bahwa haul bukan sekadar kegiatan mengenang para leluhur, melainkan juga menjadi sarana mengambil pelajaran dari kebaikan dan perjuangan yang telah mereka tinggalkan.
“Esensi haul adalah meneladani hal-hal baik yang dicetak para pendahulu kita, dan sekaligus mendoakan para beliau tersebut agar senantiasa mendapat ampunan dan syafaat dari Yang Maha Kuasa,” ungkapnya, Jumat (30/2026).
Dalam catatan sejarah, Madura pernah dipimpin oleh puluhan raja yang memiliki peran penting dalam perjalanan pemerintahan dan perkembangan wilayahnya.
Di wilayah timur Madura, Sumenep memiliki tokoh sentral yang diawali Aria Wiraraja dan diakhiri Tumenggung Prabuwinoto. Sementara di wilayah Pamekasan dan Sampang, sejumlah nama yang tercatat dalam perjalanan sejarah di antaranya Kiai Wonorono, Raden Adipati Pramono atau dikenal sebagai Pangeran Bonorogo, serta Panembahan Ronggosukowati.
Adapun di wilayah barat Madura, terdapat nama Ario Lembu Petteng, Pangeran Demang Plakaran, Pangeran Pragalba, hingga Panembahan Lemah Duwur yang dikenal sebagai cikal bakal Dinasti Cakraningrat.
Sementara itu, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menegaskan, peringatan Haul Raja-Raja Madura harus menjadi ruang refleksi untuk mengenang perjuangan para pendahulu sekaligus melanjutkan cita-cita besar mereka dalam membangun peradaban.
“Di sini kita memperingati tokoh-tokoh pilihan ini, meneladani dan merefleksikan, serta meneruskan cita-cita besar membangun peradaban bangsa,” pungkasnya.
Melalui momentum tersebut, nilai-nilai perjuangan, keteladanan, dan warisan sejarah para raja diharapkan tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi terus hidup sebagai inspirasi dalam membangun Madura dan menjaga identitas sejarahnya. (EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://www.seputarjatim.com










