Kisah Keluarga Penghuni Hutan Bojonegoro

Ekonomi, Regional132 Dilihat

Seputar Jatim, Bojonegoro, Senin 17 Juni 2019- Agar bisa berkomunikasi dan juga hidup seperti masyarakat lainnya, Camat Bubulan Agus, bersama forpimka  Bubulan bekerjasama dengan Pemerintah Desa Sumberbendo dan masyarakat sekitar, bergotong royong melakukan pemindahan dan membangun rumah warga di wilayahnya yang kurang mampu.

Menurut Camat Bubulan, Satu keluarga ini di huni oleh suami istri dan enam anaknya, dengan kepala Rumah tangga Suntono (52) seorang pesanggem warga Dusun Sumurlo Desa Sumberbendo Kec. Bubulan yang dihuni berserta istri dan 6 (enam) anaknya, yang selama ini hidup ditengah hutan desa setempat.

Rumah Pak Suntono ini, kondisinya sangat memprihatinkan serta tidak layak untuk ditempati dan letaknya terpencil ditengah hutan. Melihat kondisi seperti itu, atas himbauan Bupati kami bersama Forpimca Bubulan dan pemerintah desa, kami memindahkannya ke lokasi yang lebih ramai dan merehabnya agar layak dihuni,’’ ucap Agus, Senin (17/6/2019).

Baca Juga :  Sembuh Dari Corona, Samidah Ikuti Senam Kebugaran

Dijelaskan juga oleh Agus bahwa satu keluarga ini tinggal dirumah tersebut sebelum direnovasi, selama 19 tahun tanpa penerangan dan perabotan yang lain serta MCK, berukuran kecil, atapnya terbuat dari daun jati sebagian dindingnya kulit kayu yang sudah jebol dimakan usia, serta lantainya tanah dan apabila turun hujan semua bocor.

“Yang jelas tidak layak huni,” tandas Camat Bubulan

Agus mengatakan bahwa Forpimcam Bubulan, serta pemdes Sumberbendo dan masyarakat sekitar bergotong royong merehab rumah Suntono ini, dengan anggaran dari desa dan dana bantuan dari masyarakat yang peduli.

Baca Juga :  Promo Hunian Modern, Perumahan Kalianget Paradise

Rehab rumah suntono diperkirakan akan selesai beberapa hari kedepan, dan ditargetkan hari kamis ini dan semua rumah sebelumnya dibongkar total dan diganti dengan yang baru. Mulai dari atap yang semula atap dari daun jati sebagian diganti dengan asbes. Sedangkan dinding semula dari kulit kayu diganti memakai kasibot, serta lantai juga di rabat.

“Ini merupakan bentuk kepedulian dan sinergitas antara Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Desa, Tentara dan Kepolisian serta masyarakat terhadap warga miskin,” Pungkas Agus. (red)

Komentar