SUMENEP, Seputar Jatim – Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter yang berlaku efektif di seluruh SPBU sejak 10 Juni 2026, kini diiringi keluhan masyarakat terkait sulitnya memperoleh BBM bersubsidi jenis Pertalite di sejumlah SPBU di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Sejumlah pengendara mengaku harus berkeliling dari satu SPBU ke SPBU lainnya karena stok Pertalite kosong. Kondisi tersebut memicu antrean panjang di SPBU yang masih memiliki persediaan Pertalite dan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.
Salah satu pengendara roda dua, Misbah, mengaku telah mencari Pertalite sejak pagi namun hingga sore baru berhasil mendapatkannya di SPBU depan Universitas PGRI Sumenep setelah mendatangi beberapa SPBU lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sejak pagi saya keliling mencari Pertalite, tetapi di beberapa SPBU stoknya kosong. Baru di SPBU depan kampus Universitas PGRI Sumenep ini saya bisa mendapatkan Pertalite. Yang membuat kami bingung, yang naik itu harga Pertamax, tetapi kenapa Pertalite justru sulit dicari,” ujar Misbah saat ditemui media di lokasi antrean, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena akan berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat yang sangat bergantung pada BBM bersubsidi.
Ia juga mengingatkan pemerintah dan pihak terkait untuk segera memberikan penjelasan kepada publik mengenai penyebab kelangkaan tersebut agar tidak menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
“Pemerintah harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sampai kapan masyarakat harus kesulitan mendapatkan Pertalite? Jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin akan muncul oknum yang memanfaatkan situasi dengan menjual BBM eceran dengan harga jauh lebih mahal karena barangnya sulit didapat,” tegasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh seorang mahasiswi, Anisah. Ia mengaku kesulitan memperoleh Pertalite dalam beberapa hari terakhir sehingga harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengantre sebelum berangkat ke kampus.
“Saya setiap hari harus ke kampus. Kalau Pertalite sulit didapat dan harus antre panjang, tentu ini menjadi hambatan bagi aktivitas kami. Waktu yang seharusnya digunakan untuk kuliah justru habis di jalan atau di antrean SPBU,” bebernya.
Anisah berharap pemerintah daerah, Pertamina, dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk memastikan distribusi BBM bersubsidi berjalan normal dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.
“Jangan sampai masyarakat terus dibiarkan bingung. Pemerintah harus turun tangan dan memberikan solusi nyata agar kondisi ini tidak semakin menyulitkan warga,” imbuhnya.
Fenomena sulitnya memperoleh Pertalite di sejumlah SPBU Sumenep dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian masyarakat.
Selain menyebabkan antrean kendaraan yang mengular, kondisi tersebut juga memunculkan kekhawatiran akan potensi permainan harga di tingkat pengecer apabila pasokan BBM bersubsidi tidak segera kembali normal. (EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://seputarjatim.com









