RT, Dimana Negara Bermula

Oleh Didik Setia Budi, Budayawan Gagal, kini jurnalis TV

Pemerintahan248 Dilihat

SUMENEP, seputarjatim.com- RT, singkatan dari Rukun Tetangga (RT). Kata yang pasti tak asing di telinga kita. Sejak kecil kita sering mendengarnya. Entah dari Ayah, kakak, atau Ibu kita.

Ayah mau berangkat rapat RT ya, Nak. Ibu mau arisan RT. Kakak mau ikut lomba makan kerupuk RT. Ya, pelafalan kata RT memang bahasa kita sehari-hari. Bahasa warga. Sejak lama, dan begitu hingga dewasa.

Dari RT, Negara bermula. Memang benar istilah ini. Tidak melebih-lebihkan. RT adalah organisasi formal terendah di masyarakat. RT mewarnai level teratas organisasi Negara ini. Sama halnya DPR, MPR, MA, MK, RT pun sebuah organisasi. Punya visi, dan tujuan mulia.

20230527 213923
Warga sedang diskusi membahas program RT. (SJ photo)

Sejak kecil, saya sering ikut Ayah untuk sekedar rapat RT. Digandeng Ibu ke arisan RT. Ikut lomba balap karung RT, walau tak juara. Hingga saat ini, saya pun beranjak menjadi anggota RT.

Baca Juga :  Hari Pahlawan, Walikota Risma Ajak Warga Meneladani Nilai Perjuangan

Sabtu malam, 27 Mei 2023, saya hadir di rapat RT 16 RW 3, Perum Bima Regency, Marengan Daya. Senang rasanya bisa berkumpul sesama warga RT. Dengan bersarung saya berangkat. Disana sudah berkumpul Pak Supardi, Ketua RT. Ada sesepuh RT Pak Suratman, Pak Masduki, dan sejumlah warga muda termasuk saya.

20230527 214012
(SJ photo)

Rapat RT dulu dan sekarang tetaplah sama. Semua permasalahan warga dibahas, dicari solusinya. Ketua RT memimpin diskusi cara pengelolaan sampah, membahas papan nama jalan di setiap blok perumahan, mencari solusi segera dibangunnya masjid, membahas langkah menangkal pasukan kambing masuk ke perumahan, dan masih banyak rencana lain.

Alur diskusi RT sangat ringan namun mendalam. Semua terlibat ikut andil dalam mencari solusi. Pak Supardi, sang Ketua RT bijak mendengarkan usulan dari setiap warga.

Baca Juga :  Sumenep Siaga Corona

Rapat RT menjalin silaturahmi. Di tempat ini semua hati terpatri. Di RT saya, siapapun dan apapun sama. Rapat duduk dan lesehan bersama. Tak ada tinggi, tak ada rendah.

Jam 22.00 WIB rapat RT selesai. Kami kembali ke rumah masing-masing. Kami, semuanya bersalaman. Pak Masduki menyambut di teras rumahnya. Sama dengan rapat RT di era Ayah saya dulu. Tuan rumah kerap menyediakan menu khusus bagi tamunya. Ya, malam ini saya membawa pulang gado-gado istimewa Pak Masduki.

Bagi saya, RT adalah organisasi istimewa. Maka percayalah, jika Gubernur, Bupati, Walikota, hingga Presiden yang akan berkuasa pun ditentukan dari organisasi ini. Percaya saja lah. Salam Rukun Tetangga…! (red)

Komentar