Budaya

Warga Pakondang Sumenep Sambut Bulan Suci Ramadhan dengan Gelar Tradisi ‘Akosar’

28
×

Warga Pakondang Sumenep Sambut Bulan Suci Ramadhan dengan Gelar Tradisi ‘Akosar’

Sebarkan artikel ini
IMG 20240311 WA0003
Warga Desa Pakondang Sumenep, Madura, Jawa Timur, melakukan tradisi 'Akosar' atau membersihkan makam leluhur

SUMENEP, SEPUTARJATIM – Menelang Bulan Suci Ramadhan, warga di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, melakukan tradisi ‘Akosar’ atau membersihkan makam leluhur secara bersama-sama.

Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun, seperti yang dilakukan oleh warga Desa Pakondang, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep.

Bagi mereka, tradisi itu masih kental di tengah masyarakat dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.

Akosar merupakan bahasa madura yang berarti ziarah makam atau yang dalam bahasa jawanya dikenal sebagai ‘Nyekar‘.

Kegiatan Ngusar salah satunya berlangsung di kompleks pemakaman leluhur mereka yaitu di Komplek Pemakaman Gel Jeteh Tepatnya di Dusun Banakaja.

Baca Juga :  Tingkatkan Ekonomi Rakyat, Disbudporapar Sumenep Bakal Gelar Bazar Takjil selama Bulan Ramadhan

Warga datang berbondong-bondong dengan membawa peralatan pertanian untuk membersihkan kompleks pemakaman tersebut.

Salah satu warga setempat, Hairuddin mengatakan, tradisi Ngusar menyambut bulan suci Ramadhan bertujuan untuk memberikan kenyamanan kepada warga saat berziarah ke makam leluhur mereka.

“Kalau makamnya sudah bersih, maka ziarahnya akan nyaman dan ibadahnya lebih tenang,” katanya, Senin (11/3/2024).

Lanjut ia menyampaikan, kebudayaan merupakan pondasi kehidupan masyarakat dalam menjalan berbagai kesehariannya. Dengan kebudayaan masyarakat menjadi rekat dan sulit untuk dipecah belah.

Kegiatan kebudayaan ini biasanya dilakukan oleh masyarakat desa saat menyambut bulan suci ramadhan dan juga disaat Menyambut Hari Raya Idul Fitri.

“Kerja bakti bersih-bersih makam sudah menjadi tradisi masayarakat disini dalam menyambut datangnya bulan suci ramadan dan juga saat menyambut hari raya idul fitri,” ujarnya.

Baca Juga :  Wali Murid PAUD El Fath Harap Kegiatan Penghargaan 'Aku Bisa' Bisa Ditiru Sekolah Lain di Sumenep

Sementara itu, Tokoh Agama di Lingkungan Warga setempa, Ki Sumerang menuturkan, bahwa kegiatan positif ini akan terus dilakukan dan sudah menjadi agenda masyarakat sekitar, dan juga sudah menjadi kegiatan turun temurun dari sejak dulu, karena menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama.

Menurutnya, tradisi Ngusar seperti ini juga menjadi sarana mengingatkan manusia yang masih hidup pada sebuah kematian.

Dengan demikian, orang-orang yang masih berada di muka bumi akan lebih mengingat Sang Pencipta.

“Tradisi Ngusar juga bisa menjadi media peringatan kepada yang hidup bahwa akan mati. Maka sebelum mati, rajin-rajinlah beribadah khususnya di bulan Ramadhan di mana semua ibadah pahalanya dilipatgandakan,” imbuhnya.

Maka Dari itu, lewat kegiatan rutin tahunan menjelang Ramadhan seperti ini, pihaknya berharap masyarakat sekitar dapat menjaga tradisi leluhur.

Ia pun mengungkapkan, mengapa Tradisi Ngusar seperti inimasih tetap dilestarikan. Hal itu karena kami melibtkan anak-anak muda dalam setiap kegiatan tradisi.

“Anak-anak muda selalu kami ajak untuk ikut Ngusar. Tujuannya agar tradisi ini masih tetap lestari dan yang muda tidak lupa dengan leluhurnya,” ungkapnya.

“Kami berharap semoga masyarakat bisa selalu menjaga tradisi ini. Karena jika Komplek pemakaman sudah bersih para peziarah yang datang ingin mengirim doa atau berziarah ke kuburan untuk para leluhur yang sudah meninggal lebih nyaman dan lebih khusuk, dan itu semua adalah bagian kewajiban kita bersama,” harapnya. (EM)

*

Tinggalkan Balasan