SUMENEP, Seputar Jatim – Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, kembali memainkan kartu budaya dalam strategi pembangunan daerah melalui Festival Ojung 2026 yang digelar di Pantai Galung, Desa Juruan Daja, Kecamatan Batuputih.
Tradisi lokal didorong naik kelas, bukan lagi sekadar ritual tahunan, melainkan “brand” budaya yang diproyeksikan mampu mengangkat wajah pariwisata Sumenep.
Ribuan warga memadati area pantai sejak siang. Di tengah terik dan debur ombak, arena Ojung menjadi magnet utama. Dua peserta saling berhadapan, bergantian melayangkan rotan ke tubuh lawan. Setiap pukulan memicu sorak-sorai, menciptakan suasana tegang sekaligus memikat.
Namun Ojung bukan sekadar pertunjukan fisik. Ia adalah warisan panjang masyarakat Madura, tradisi yang memuat doa, harapan, dan simbol perlawanan terhadap kerasnya alam, terutama saat kemarau panjang.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Faruq Hanafi, menyebut bahwa Ojung sedang diarahkan menjadi bagian dari paket wisata unggulan daerah.
“Kami ingin ada kesinambungan. Tidak berhenti di festival, tapi masuk ke kalender wisata, bahkan menjadi daya tarik bagi wisatawan luar daerah,” katanya, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, pendekatan ini sekaligus membuka ruang bagi pelaku ekonomi kreatif lokal untuk terlibat lebih luas,0mulai dari kuliner, kerajinan, hingga jasa pariwisata.
Di balik ambisi besar tersebut, lanjut dia, persoalan klasik kembali mencuat: minimnya regenerasi pelaku Ojung. Tidak semua generasi muda tertarik terlibat dalam tradisi yang dikenal keras dan berisiko ini.
Senada disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep, Agus Dwi Saputra, yang menegaskan bahwa arah kebijakan pemerintah kini tidak hanya berhenti pada pelestarian.
“Kami ingin Ojung ini punya posisi strategis. Bukan hanya dijaga, tetapi dikembangkan sebagai identitas daerah yang punya nilai ekonomi,” bebernya.
Langkah Pemkab Sumenep terlihat semakin sistematis. Festival tidak lagi digelar secara sederhana, tetapi dikemas dengan pendekatan event modern, mulai dari penataan lokasi, penguatan panggung pertunjukan, hingga promosi digital.
Agus Dwi Saputra tidak menampik hal tersebut. Ia justru menyatakan bahwa keberlanjutan Ojung sangat bergantung pada keberanian generasi muda untuk mengambil peran.
“Kalau tidak ada regenerasi, maka semua ini hanya akan jadi seremonial. Kita butuh anak muda yang mau belajar dan menjaga tradisi ini,” tuturnya.
Di sisi lain, Ojung memiliki dimensi spiritual yang kuat. Tradisi ini kerap dikaitkan dengan ritual meminta hujan dan keselamatan desa. Namun ketika dibawa ke panggung festival, muncul kekhawatiran akan pergeseran makna.
Transformasi menjadi tontonan publik dan komoditas wisata berpotensi mengaburkan nilai sakral yang selama ini dijaga masyarakat.
Pemerintah daerah menyadari dilema tersebut. Karena itu, pendekatan yang diambil adalah menjaga substansi tradisi, sambil memperkuat kemasan agar tetap relevan di era modern.
“Kami tidak mengubah nilai dasarnya. Yang kami benahi adalah cara penyajiannya,” tandas Agus. (Sand/EM)
*
Penulis : Sand
Editor : EM
Sumber Berita: https://seputarjatim.com









