OPINI PUBLIK, Seputar Jatim – Jika ada satu pertanyaan besar yang terus menggelayuti benak masyarakat Sumenep hari ini, pertanyaannya adalah: mau dibawa ke mana Sumenep 10 tahun ke depan?
Kabupaten di ujung timur Pulau Madura ini bukanlah kabupaten biasa. Sumenep adalah kabupaten dengan sejarah kerajaan, kekayaan laut yang melimpah, 126 pulau, tradisi pesantren yang kuat, dan potensi wisata kelas dunia dari Gili Labak hingga Keraton.
Namun di balik semua keagungan itu, Sumenep masih menyimpan pekerjaan rumah yang tidak ringan: angka kemiskinan yang masih tinggi, kualitas pendidikan yang belum merata hingga kepulauan, infrastruktur antarpulau yang belum optimal, dan ekonomi kreatif berbasis pesantren dan maritim yang belum digarap serius.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah kompleksitas itu, Sumenep tidak butuh pemimpin coba-coba. Sumenep butuh sosok yang lengkap.
Dan sosok lengkap itu tercermin pada dua nama: H. Hamid Ali Munir dan H. Herman Dali Kusuma.
Mengapa harus mereka?
1. Perpaduan Ideal: Religiusitas dan Profesionalitas politisi
Sumenep adalah Kota Santri. Pemimpinnya harus paham bahasa pesantren, mengerti kultur kiai dan santri, serta memiliki kedekatan spiritual dengan masyarakat. Sosok H. Hamid Ali Munir merepresentasikan itu. Ia adalah figur yang matang secara sosial-keagamaan, diterima di kalangan ulama dan tokoh masyarakat.
Sementara itu, untuk mengelola pemerintahan modern yang rumit dengan 27 kecamatan daratan dan kepulauan, dibutuhkan manajer birokrasi yang andal. H. Herman Dali Kusuma dikenal sebagai sosok pklitisi yang memahami detil tata kelola pemerintahan, perencanaan anggaran, dan pelayanan publik.
Sumenep butuh kombinasi keduanya: hati seorang santri dan otak seorang manajer. Jika religiusitas tanpa manajemen yang baik akan menjadi jargon, maka manajemen tanpa jiwa religius akan kehilangan ruhnya. Duet keduanya adalah keseimbangan.
2. Pemahaman Mendalam Tentang Daratan dan Kepulauan
Masalah terbesar Sumenep adalah disparitas. Yang di Kota Sumenep berbeda kebutuhannya dengan yang di Masalembu, Sapeken, atau Arjasa.
Sosok seperti H. Hamid Ali Munir dan H. Herman Dali Kusuma bukanlah sosok karbitan yang baru mengenal Sumenep dari baliho. Mereka adalah figur yang tumbuh, berinteraksi, dan memahami denyut nadi masyarakat Sumenep secara utuh, dari ujung keraton hingga ujung perahu nelayan di pulau-pulau terluar. Mereka paham bahwa membangun Sumenep tidak bisa hanya dengan membangun kota, tapi membangun konektivitas keadilan.
3. Kepemimpinan yang Menyejukkan, Bukan Memecah Belah
Sumenep hari ini butuh persatuan. Politik identitas yang tajam dan konflik kepentingan hanya akan membuat Sumenep jalan di tempat. Yang dibutuhkan adalah sosok penyejuk, pengayom, yang bisa merangkul semua golongan: tua-muda, daratan-kepulauan, NU-Muhammadiyah, nelayan-petani, birokrat-pengusaha.
Figur H. Hamid Ali Munir dan H. Herman Dali Kusuma adalah tipikal pemimpin yang tidak gaduh, tidak suka pencitraan berlebihan, tapi bekerja dengan pendekatan kekeluargaan dan silaturahmi. Gaya kepemimpinan seperti inilah yang dibutuhkan Sumenep untuk menjaga kondusivitas sekaligus mendorong percepatan pembangunan.
Pada akhirnya, membangun Sumenep bukan soal siapa yang paling populer di media sosial, tapi siapa yang paling paham peta jalan Sumenep. Bukan soal siapa yang paling banyak berjanji, tapi siapa yang paling mampu menunaikan janji dengan rekam jejak yang teruji.
Sumenep memiliki semua modal untuk menjadi kabupaten terdepan di Jawa Timur. Modal alamnya ada, modal budayanya ada, modal manusianya ada. Yang kini dibutuhkan adalah nahkoda yang tepat.
Dan bagi banyak masyarakat, nahkoda itu ada pada keteladanan dan pengalaman sosok H. Hamid Ali Munir dan H. Herman Dali Kusuma.
Penulis: Ketua IWO Sumenep Imam Mustain R
Penulis : Imam M R
Sumber Berita: https://www.seputarjatim.com










