SUMENEP, Seputar Jatim – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menghadirkan konsep berbeda dalam Pameran Pembangunan Madura Night Vaganza (MNV) 2026.
Mengusung nuansa Pendopo Keraton Sumenep, stan Bappeda tidak hanya menampilkan sisi budaya, tetapi juga menyampaikan pesan tentang keterkaitan sejarah, kearifan lokal, tata kelola pemerintahan, dan arah pembangunan daerah.
Konsep tersebut terlihat pada stan Bappeda yang berada di GOR A. Yani Pangligur, Sumenep, Jumat (28/8/2026) malam.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Nuansa Keraton dan Pendopo dipilih untuk menegaskan bahwa pembangunan daerah tetap berpijak pada identitas serta karakter masyarakat Sumenep.
Kepala Bappeda Kabupaten Sumenep, Arif Firmanto, mengatakan konsep stan tersebut dirancang dengan mempertimbangkan nilai filosofis, bukan semata aspek estetika.
“Kami mengonsep stan ini tidak sekadar mengedepankan aspek estetika, tetapi juga mengandung pesan filosofis mengenai keterkaitan antara budaya, tata kelola pemerintahan, dan perencanaan pembangunan daerah,” katanya, saat ditemui di lokasi MNV 2026.
Menurut Arif, Keraton menjadi simbol perjalanan sejarah, kepemimpinan, dan jati diri Kabupaten Sumenep. Sementara Pendopo dimaknai sebagai ruang terbuka yang merepresentasikan kebersamaan, pelayanan, musyawarah, serta interaksi antara pemerintah dan masyarakat.
“Pendopo secara filosofis merupakan ruang terbuka, tempat berkumpul, bermusyawarah, menerima aspirasi, dan membangun kesepakatan. Nilai tersebut selaras dengan tugas dan fungsi Bappeda dalam mengoordinasikan proses perencanaan pembangunan daerah secara partisipatif, terpadu, terarah, dan berkelanjutan,” bebernya.
Arif menegaskan, pembangunan daerah tidak semestinya hanya diukur dari pencapaian target dan indikator. Nilai budaya, tradisi, karakter masyarakat, serta potensi lokal juga perlu menjadi bagian dari proses pembangunan.
Karena itu, kehadiran Bappeda dalam MNV 2026 menjadi ruang untuk memperkenalkan bagaimana arah perencanaan pembangunan Sumenep disusun dan diterjemahkan ke dalam berbagai program serta kebijakan daerah.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak lepas dari akar budaya dan karakter masyarakat. Pembangunan bukan hanya tentang pencapaian target, tetapi juga bagaimana nilai, tradisi, dan potensi lokal menjadi bagian dari kekuatan pembangunan daerah,” ujarnya.
Ia berharap, stan Bappeda tidak sekadar menjadi tempat penyajian informasi pembangunan, tetapi juga menjadi ruang interaksi dan edukasi bagi masyarakat untuk memahami arah kebijakan pembangunan Kabupaten Sumenep.
“Harapannya, konsep ini tidak hanya menjadi ruang penyajian informasi perencanaan pembangunan, tetapi juga menjadi ruang representasi Bappeda sebagai rumah perencanaan pembangunan daerah. Tempat gagasan, aspirasi, data, dan arah kebijakan dipertemukan untuk mewujudkan Kabupaten Sumenep yang semakin unggul, mandiri, dan sejahtera,” harapnya.
Dalam pameran tersebut, Bappeda menampilkan sejumlah informasi mengenai arah kebijakan, program, capaian, dan inovasi pembangunan Kabupaten Sumenep.
Materi yang disajikan melalui berbagai infografis meliputi visi dan misi daerah, delapan program unggulan 2025–2029, capaian indikator pembangunan, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK), e-Stunting, E-SAKIP, hingga program Peti Koin Bermantra.
Berbagai informasi tersebut dikemas dalam satu konsep stan yang memadukan unsur budaya dengan informasi pembangunan. Masyarakat pun tidak hanya disuguhkan tampilan visual, tetapi juga dapat memperoleh gambaran mengenai proses perencanaan dan arah pembangunan Kabupaten Sumenep.
“Keraton sebagai simbol jati diri, Pendopo sebagai ruang musyawarah, dan Bappeda sebagai rumah perencanaan. Berpijak pada budaya, menata pembangunan, dan merencanakan masa depan Kabupaten Sumenep,” pungkasnya. (EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://seputarjatim.com










