APSI Minta Industri Rokok Buka Pasar Lebih Luas, Petani Madura Tak Boleh Kesulitan Menjual

- Redaksi

Selasa, 25 Agustus 2026 - 22:58 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

TERSENYUM: Sekjen APSI, Sulaisi Abdurrazaq (Dok. Seputar Jatim)

TERSENYUM: Sekjen APSI, Sulaisi Abdurrazaq (Dok. Seputar Jatim)

SUMENEP, Seputar Jatim – Musim panen tembakau Madura, Jawa Timur, kembali menjadi perhatian publik. Di tengah tingginya hasil panen petani, persoalan serapan dan kepastian pasar menjadi hal penting yang perlu mendapat perhatian seluruh pemangku kepentingan.

Pemerhati kebijakan, Sulaisi Abdurrazaq, menyerukan agar para pengusaha besar industri tembakau bersama-sama membuka pasar seluas-luasnya bagi petani Madura.

Menurutnya, petani membutuhkan kepastian bahwa hasil kerja keras mereka sejak masa tanam hingga panen memiliki tempat untuk dipasarkan dengan harga yang layak sesuai kualitas.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seruan tersebut disampaikan Sulaisi saat menyikapi kondisi petani yang mulai memasuki puncak musim panen. Ia meminta perusahaan dan pengusaha tembakau tidak hanya melihat Madura sebagai daerah penghasil bahan baku, tetapi juga ikut menjaga keberlangsungan petani sebagai produsen.

“Mari bersama-sama bantu petani tembakau Madura. Buka pasar seluas-luasnya. Kalau tembakaunya berkualitas, belilah dengan harga yang tinggi dan layak sesuai kualitasnya. Jangan sampai petani sudah mengeluarkan modal dan tenaga besar, tetapi ketika panen justru kesulitan mencari pasar,” katanya, saat dikonfirmasi Media ini, Selasa, (25/8/2026).

Baca Juga :  Lakpesdam dan LPBH NU Temui Kapolresta Sumenep, Desak THM yang Langgar Aturan Ditutup Permanen

Menurutnya, semakin banyak perusahaan besar yang membuka pembelian tembakau, semakin besar pula peluang petani mendapatkan pilihan pasar. Kondisi itu sekaligus dapat mengurangi ketergantungan terhadap sejumlah titik pembelian tertentu.

Sulaisi yang juga menjabat sebagai Sekjen APSI menilai, antrean panjang kendaraan petani dan pedagang di sejumlah gudang tembakau di Madura menjadi gambaran nyata tingginya kebutuhan terhadap pasar.

Di gudang milik Haji Her di Pamekasan, misalnya, kendaraan pengangkut tembakau dilaporkan mengantre hingga sekitar satu kilometer atau lebih. Sejumlah petani dan pedagang bahkan disebut rela menunggu berhari-hari untuk mendapatkan giliran menjual hasil panennya.

Bagi Sulaisi, kondisi tersebut patut menjadi perhatian bersama. Di satu sisi, antrean menunjukkan adanya serapan. Namun di sisi lain, fenomena itu juga menjadi pesan bahwa pasar tembakau Madura masih perlu diperluas.

“Kita tentu miris melihat petani harus mengantre sampai berhari-hari. Mereka datang membawa hasil panen yang menjadi sumber penghidupan keluarganya. Pengusaha yang membuka pembelian dan menyerap tembakau petani patut diapresiasi karena ikut membantu menyelamatkan petani,” ujarnya.

Ia pun mengajak perusahaan besar yang memiliki jaringan industri tembakau di Madura untuk mengambil peran lebih besar dalam pembelian tembakau petani Madura.

Baca Juga :  Kasus Dugaan Pencurian Kayu di Nonggunong, Tiga Tersangka Terancam Dijemput Paksa

Menurutnya, pembelian tetap harus mengacu pada standar dan kualitas, tetapi akses pasar perlu dibuka selebar mungkin.

“Petani di Madura tidak meminta dikasihani. Mereka hanya ingin hasil kerja kerasnya dihargai. Kalau kualitasnya bagus, berikan harga yang bagus. Bagi Pengusaha besar Seperti, Jarum, Sampoerna, Gudang Garam, dan yang lainnya mari hadir bersama-sama menyelamatkan petani tembakau Madura,” tegas Sulaisi dalam seruannya untuk menyelamatkan petani tembakau Madura.

Ia menambahkan, keberadaan tembakau tidak hanya berkaitan dengan petani dan perputaran ekonomi. Komoditas tersebut juga melibatkan pedagang, buruh tani, tenaga angkut, pekerja gudang, hingga masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perdagangan tembakau.

Karena itu, semakin luas serapan pasar, semakin besar pula dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat Madura.

Selain menyerukan kepada perusahaan besar, Sulaisi meminta pemerintah ikut mengambil langkah konkret. Salah satunya dengan mendorong perusahaan dan pengusaha tembakau yang ada di Madura untuk memperluas pembelian selama musim panen.

Ia mengusulkan agar pemerintah mengeluarkan surat edaran kepada para pelaku usaha tembakau sebagai bentuk dorongan agar penyerapan hasil panen petani semakin luas.

“Pemerintah juga harus hadir. Kalau perlu segera keluarkan surat edaran kepada para pengusaha tembakau yang ada di Madura. Dorong mereka membuka pasar dan memperbesar serapan. Pemerintah jangan membiarkan petani menghadapi persoalan pasar sendirian,” tegasnya.

Pengacara yang getol mengkritisi kebijakan yang tidak pro rakyat ini kembali menegaskan bahwa yang dibutuhkan petani bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan ekosistem perdagangan yang sehat.

Petani didorong menghasilkan tembakau berkualitas, sementara perusahaan harus membuka pasar dan memberikan harga yang layak sesuai mutu.

Menurutnya, hubungan tersebut harus dibangun secara seimbang. Industri membutuhkan bahan baku, sedangkan petani membutuhkan pasar. Keduanya harus berjalan beriringan agar mata rantai ekonomi tembakau Madura tetap hidup.

Baca Juga :  H. Mu’min Target Serap 1.000 Ton Tembakau Madura, Harga Tembus Rp72 Ribu per Kilogram

“Kalau sebuah usaha Industri Rokok mengambil bahan baku dan menjalankan aktivitas ekonominya di Madura, maka keberadaan petani juga harus menjadi perhatian. Jangan sampai petani berjuang sendiri. Kalau tidak mampu membantu menyelamatkan petani, tentu keberadaan usaha itu harus dipertanyakan manfaatnya bagi masyarakat Madura,” tegasnya.

Musim panen 2026 diharapkan menjadi momentum bagi seluruh perusahaan dan pengusaha tembakau untuk memperluas serapan. Sebab, bagi petani, keberadaan pasar bukan hanya soal transaksi jual beli, tetapi menyangkut keberlangsungan usaha dan penghidupan keluarga mereka.

Petani membutuhkan pasar, perusahaan membutuhkan bahan baku, dan pemerintah berkewajiban memastikan ekosistem perdagangan berjalan sehat. Kolaborasi ketiganya dinilai menjadi kunci agar tembakau tetap menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Madura. (EM)

*

Penulis : EM

Sumber Berita: https://seputarjatim.com

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lakpesdam dan LPBH NU Temui Kapolresta Sumenep, Desak THM yang Langgar Aturan Ditutup Permanen
Warga Kepulauan Sumringah, Jalan Jathe Lanjheng Kangean Kini Mulus
Semarak HUT ke-81 RI, DWP RSUDMA Sumenep Sabet Gold Lomba Lagu Daerah Nusantara
Santri PP Mathla’ul Anwar Gelar Refleksi Kemerdekaan RI ke 81, Ibnu Hajar: Belajar adalah Perjuangan
Jelang HUT RI ke 81, Paskibraka Sumenep 2026 Dikukuhkan di Pendopo Keraton
Hening di TMP Jokotole, Forkopimda Sumenep Kenang Jasa Pahlawan Jelang HUT RI ke-81
IWO Sumenep Rayakan HUT ke 14, Kapolresta Akui Pers Mitra Strategis Kepolisian
Warga Gapura Ditemukan Meninggal di Rumah, Polisi Sebut Dugaan Sementara Bunuh Diri

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 22:58 WIB

APSI Minta Industri Rokok Buka Pasar Lebih Luas, Petani Madura Tak Boleh Kesulitan Menjual

Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:06 WIB

Lakpesdam dan LPBH NU Temui Kapolresta Sumenep, Desak THM yang Langgar Aturan Ditutup Permanen

Kamis, 20 Agustus 2026 - 12:31 WIB

Warga Kepulauan Sumringah, Jalan Jathe Lanjheng Kangean Kini Mulus

Selasa, 18 Agustus 2026 - 13:02 WIB

Semarak HUT ke-81 RI, DWP RSUDMA Sumenep Sabet Gold Lomba Lagu Daerah Nusantara

Senin, 17 Agustus 2026 - 22:40 WIB

Santri PP Mathla’ul Anwar Gelar Refleksi Kemerdekaan RI ke 81, Ibnu Hajar: Belajar adalah Perjuangan

Berita Terbaru