SUMENEP, Seputar Jatim – Kepala Raudlatul Athfal Hidayatut Thalibin (RA HT), Siti Maysaroh, mengamankan ompreng berserta Menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) kering dari SPPG Pakamban Laok 2 Yayasan Bumi Asfan Abadi, lantaran tak kunjung dijemput usai ditolak wali murid.
Ompreng dan MBG kering tersebut kemudian dimasukkan ke dalam ruangan dan dikunci sebagai bentuk tanggung jawab serta demi keamanan dan bukan ditahan.
Lanjut ia menegaskan, bahwa pihaknya tidak pernah ada niat sedikit pun untuk menyandera atau menahan ompreng MBG.
“Saya menunggu penjemput ompreng sampai pukul 12.30 WIB. Karena lama tidak dijemput dan saya khawatir tidak aman, akhirnya saya masukkan ke ruangan dan dikunci,” ujarnya saat dimintai keterangan, Sabtu (31/1/2026).
Lebih lajut ia menambahkan, pihaknya bersama para guru lain justru menunggu agar ompreng dan menu MBG yang ditolak wali murid bisa segera dikembalikan.
“Tidak ada niat menahan. Kami di sekolah bersama guru-guru lain menunggu. Bahkan kami juga ingin mengembalikan menu MBG kering yang jelas-jelas ditolak wali murid,” tegasnya.
Menurutnya, pengamanan ompreng dan paket MBG tersebut merupakan bentuk tanggung jawab sebagai kepala sekolah agar barang itu tetap aman.
“Ini murni tanggung jawab saya. Ompreng dan menu MBG itu tidak diterima wali murid. Kalau sampai hilang, siapa yang bertanggung jawab? Karena lama menunggu dan tidak ada penjemput, akhirnya saya dan guru-guru lain pulang. Saya kembali lagi, namun sudah tidak ada mobil BGN,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh SPPG Pakamban Laok 2 Yayasan Bumi Asfan Abadi, menuai penolakan keras dari seluruh wali murid RA HT.
Bantuan yang seharusnya menunjang pemenuhan gizi anak justru dinilai tidak layak, minim nilai gizi, dan terkesan asal-asalan.
Kepala RA HT Siti Maysaroh menegaskan, penolakan tersebut merupakan keputusan bersama wali murid setelah melihat langsung isi paket MBG yang diterima anak-anak.
“Semua wali murid sepakat menolak. Isinya hanya roti, susu kotak rasa cokelat, dan potongan pepaya tiga sampai empat iris. Itu pun datang terlambat. Menu seperti ini jelas tidak mencerminkan program gizi, apalagi untuk anak usia dini,” pungkasnya.
Sementara itu, upaya konfirmasi yang dilakukan media kepada pihak SPPG Pakamban Laok 2 Yayasan Bumi Asfan Abadi, Pragaan, Sumenep, Madura, melalui pesan WhatsApp, namun tidak mendapat respons hingga berita ini diterbitkan. (EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://www.seputarjatim.com









