Lomba Makan Kerupuk, Yang Bukan Kalender Even

Ditulis Didik Setia Budi, Jurnalis TV, pengurus RT

Nasional92 Dilihat

Seputarjatim.com- Saat kecil, saya jadi peserta andalan untuk maju lomba makan kerupuk Agustusan. Lokasinya di pinggir pantai, Jl Tasik Timur, Kalianget Timur. Tahun 1989, sekolah dasar, kelas satu saat itu. Kata tetangga, saya bisa menggigit sangat baik kerupuk yang digantung. Selain itu, feeling saya juga kuat untuk memperkirakan arah gerak kerupuk pascadigigit, yang kadang goyang ke kanan atau ke kiri.

Menang di sesi makan kerupuk, saya juga diutus mewakili blok rumah saya bertanding di lomba pecah air dengan mata tertutup. Saya ingat betul, sempat didiskualifikasi Pak RT. Karena bukan kantung air yang saya gebuk, melainkan kepala teman saya sendiri. Ibunya marah-marah. Adi, teman saya yang kepalanya benjol, nangis.

images 4
Foto Istimewa

Itu sekelumit memori kecil, yang tak pernah bisa dihapus, seberapa berubahpun dunia. Warna warni merah putih, riuh sorak ibu-ibu pendukung, suara bising soundsytem pemandu lomba, dan rasa bangga naik ke podium juara lomba makan kerupuk, adalah hal yang tak bisa dilupakan.

Baca Juga :  Sampaikan Pidato Ketua MA di Upacara HUT MARI ke 77, Ini Harapan Ketua PN Sumenep

Dan seiring berjalannya waktu, memori lomba agustusan, terus membekas di benak saya. Memori ini secara otomatis muncul saat masuk bulan Agustus. Warni-warni merah putih di jalan, gerbang merah putih yang berdiri di kantor-kantor, mengingatkan momen indah itu. Bahwa, saya adalah juara lomba makan kerupuk tak terkalahkan!

 

images 10
Foto Istimewa

Memasuki tahun 2023, suasana peringatan HUT RI mungkin tak semeriah di masa kecil saya. Lebih modern memang. Jika dulunya bendera merah putih saya buat dari kertas minyak, kini bendera merah putih berbahan kain mudah dibeli di banyak lokasi. Jenis bendera merah putih bermacam-macam. Ada yang ukuran mini, ukuran sedang, baliho merah putih, umbul-umbul, bahkan juga tersedia aneka bentuk kerajinan bendera merah putih yang dibentuk ketupat dan bebek-bebekan.

Sayangnya, modernisasi yang berlangsung itu, mulai mengurangi semarak perayaan HUT RI di berbagai daerah. Contohnya saja, lomba agustusan menjadi sangat jarang. Ada, tapi di level kecamatan. Makin jarang di level desa, kian sunyi di level bawahnya. Tak semeriah dulu. Banyak warga Desa menonton lomba agustusan di desa lainnya. Anak-anak kecil, kini, banyak menonton lomba agustusan dari ponsel orang tuanya. Sedih memang.

Baca Juga :  Gus-Gus Nusantara Jawa Timur Peringati Nuzulul Quran Sambil Santuni Anak Yatim
images 5
Foto Istimewa

Maka menjelang bulan kemerdekaan, ayolah mengenang masa-masa indah kecil kita. Saya yang juara lomba makan kerupuk, mungkin pembaca punya spesifikasi lain di lomba memasukkan paku ke botol, atau salodor mungkin. Karena kemeriahan menyambut hari kemerdekaan menjadi bagian dari semangat nasionalisme. Dan, semangat itu harus dipupuk sejak dini, agar melekat di memorinya kelak. Memori yang akan selalu diingat hingga dewasa dan tua.

Lomba makan kerupuk, memang bukan hal penting sekaliber kalender even tahunan kota. Ini cuma lomba adu cepat melahap kerupuk yang digantung dengan seutas tali. Tapi percayalah, bahwa lomba makan kerupuk di Bulan Agustus memiliki makna lebih dari itu. Disini, benih-benih nasionalisme mulai tertanam di jiwa anak. Percayalah.

Jadi tunggu apalagi? Ayo meriahkan penyambutan HUT RI ke-78 di kampungmu..! (*)

Komentar

Post Terkait