Opini

Menyiapkan Pesantren Bervisi Global Sebagai Warisan Kebudayaan

67
×

Menyiapkan Pesantren Bervisi Global Sebagai Warisan Kebudayaan

Sebarkan artikel ini
20240703 131831
Penyair dan Budayawan Sumenep, Ibnu Hajar

SEPUTAR JATIM

Pesantren : Warisan yang Tetap Eksis
Pondok pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Lembaga pendidikan yang memiliki ciri keagamaan ini, hampir tersebar di seantero Nusantara, terutama Jawa dan Madura.

Mungkin saja, di seluruh Indonesia pesantren memiliki jumlah ribuan dan tetap menjadi idola sebagian besar kaum muslim Indonesia. Sudah jamak dilakukan anak-anak kaum muslim pernah dibesarkan di lembaga pendidikan bernama pesantren : sebuah lembaga yang didirikan pada awalnya untuk mengembangkan dakwah islamiyah sekaligus pernah menjadi wadah gerakan perjuangan para ulama dan santri pada awal-awal kemerdekaan.

Hal itu tentu saja menjadi bukti sangat sederhana tentang gerakan multi peran pesantren dalam meneguhkan eksistensi gerakan sosialnya, terutama dalam garis perjuangan menegakkan kalimatillah dan melakukan gerakan hubbul waton dalam konteks Keindonesiaan.

Akibat sejumlah peran dan gerakan yang dilakukannya dalam rentang panjang sejarah Indonesia, tidak heran kalau pada gilirannya, pesantren dianggap sebagai khazanah bangsa Indonesia yang memiliki keunikan luar biasa, sampai ada yang menyebut pesantren sebagai ”kotak ajaib” yang menyimpan banyak pertanyaan.

Nilai unik itulah yang pada gilirannya menjadi magnitude sejumlah kalangan untuk melirik pesantren sebagai obyek studi ilmiah yang menyimpan seribu misteri. Berbagai penelitian telah dilakukan tentang pesantren dalam berbagai sisi, dan berbagai telah dilahirkan untuk mendokumentasikan siapa dan apa sebenarnya pesantren?

Karena pesantren dengan demikian, tidak hanya menjadi peninggalan sejarah masa lalu yang archaik, tetapi terus bergerak dinamis meneguhkan posisi dan eksistensinya, sehingga setiap yang terkait dengan pesantren menjadi sesuatu yang selalu menarik untuk dikaji dan diteliti.

Asumsi tersebut, secara substansial menjadi garansi awal untuk mengatakan bahwa pesantren – yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai khazanah yang kaku dan beku, karena dianggap terlalu kental dengan simbol tradisionalismenya – sebenarnya merupakan khazanah yang selalu bergerak dinamis dengan sejumlah kreatifitas yang telah dilahirkannya.

Baca Juga :  Taraban Protes

Kreatifitas tersebut, yang pada gilirannya memposisikan pesantren sebagai khazanah intelektualitas dan pusat gerakan dakwah Islam yang sangat strategis dalam konteks indonesia, lebih-lebih gerakan dakwah yang dilakukan di Jawa.

Salah satu sisi unik dari pesantren adalah kemampuannya dalam mempertahankan jati diri sebagai khazanah lokal yang tidak bisa dilupakan. Pesantren memiliki kemampuan melakukan pelestarian terhadap budaya lokal yang istiqamah. Pelestarian budaya memang telah menjadi salah satu ciri menonjol dari budaya pesantren, walaupun selama ini acapkali tidak mendapatkan apresiasi.

Dalam keterkaitan ini, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang notabene masih diyakini sebagai lembaga pendidikan alternatif di Indonesia. Dengan pendekatan moral yang tinggi dan ilmu pengetahuan yang sangat kompleks, keberadaan pesantren tetap menunjukkan eksistensinya yang cukup ampuh di tengah geliat kemajuan dunia pendidikan.

Sebagai warisan lokal, pesantren yang berjumlah ribuan di Indonesia merupakan potensi besar yang dimiliki bangsa Indonesia.
Pesantren bahkan menjadi salah satu pilar pengembangan pendidikan Islam di Indonesia yang telah teruji dan tangguh dalam mengikuti ritmen kehidupan zaman yang terus berkembang pesat.

Pesantren dan Tantangan Global
Tugas utama setiap lembaga pendidikan ialah menyiapkan generasi yang berkualitas, baik dakam aspek wawasan, moralitas maupun skil.

Pendidikan pada dasarnya memiliki tujuan untuk membebaskan manusia dari berbagai belenggu sosial di sekitar dirinya, baik belenggu intelektual maupun belenggu sosial budaya dan ekonomi. Intinya, pendidikan ingin membentuk individu yang independen dan memiliki potensi dan skill yang bisa memposisikan dirinya pada posisi dimana pasar kehidupan membutuhkannya.

Dalam konteks ini, pesantren harus berbenah dan menyadari bahwa kehidupan telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, sehingga banyak hal yang harus disiapkan oleh pesantren sebagai alternatif, sehingga arah pengembangan pesantren tidak hanya merujuk pada pengalaman masa lalu, melainkan harus diarahkan ke arah yang jelas dan memenuhi kebutuhan pasar, sehinga keberadaan pesantren akan tetap relevan dengan kebutuhan zaman, apalagi konsep dasar yang telah terbangun di pesanteran adalah salihun fi kulli zaman wa makan : selalu relevan dengan perubahan zaman dan kondisi yang berubah, serta konsep al-mukhafadzatu ala qadim as-salih wa al-akhdzu bi jadid al-aslah.

Baca Juga :  Catatan Buku Putih 1,5 Milyar Uang Diantar Kerumah "ADP"

Oleh karena itu, pendidikan pesantren sejatinya harus dikembangkan secara proaktif untuk merespon kemajuan zaman global dengan tetap tidak menafikan apa yang telah menjadi identitas pesantren. Konsep al-mukhafadzatu ala qadim as-salih wa al-akhdzu bi jadid al-aslah, inilah yang mendasari mengapa pesantre harus tetap berpijak pada eksistensi klasikalnya dan tetap senaniasa mengikuti ritmen kehidupan global dengan dinamis. Hal itu bisa sederhanakan dengan pemikiran berikut :

1. Tradisi pendidikan lama pesantren, misalnya pengajaran, model pendidikan serta kurikulum klasik pesantren harus tetap dipertahankan, karena hal itu menggambarkan tentang eksistensi pesantren yang kokoh. Kurikulum klasik yang dikembangkan di pesantren selama bertahun-tahun merupakan dasar keilmuan dan pengalaman yang dimiliki oleh pesantren.

2. Sebagai lumbung pengemblengan kader muslim yang tidak membatasi dirinya hanya pada kelompok sosial tertentu, pesantren harus mampu menyadari bahwa setiap kader yang dididik di pesantren akan hidup di tengah-tengah masyarakat yang penuh dengan tantangan, sehingga proses pendidikan yang diberikan haruslah memenuhi kebutuhan santri setelah ia kembali di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan dengan kurikulum modern sebagaimana menjadi kebutuhan zaman modern, harus diberikan di pesantren, baik dalam bentuk skil dan kemampuan-kemampuan lain yang sekiranya akan dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat nantinya.

Akhirnya, keberadaan pesantren dengan semangat global, akan dapat semakin mengukuhkan keberadaan pesantren di tengah pergulatan kemajuan global yang tampak semakin keras dan menantang. Pesantren harus tetap eksis di tengah kemajuan apapun yang dilahurkan oleh kehidupan dengan cara melakukan perimbangan yang maksimal. *)

Penulis: Penyair dan Budayawan Sumenep

Tinggalkan Balasan