Said Abdullah Akui Ratusan Pesantren di Indonesia Jadi Motor Ekonomi Kreatif

- Redaksi

Kamis, 23 Oktober 2025 - 11:18 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

TERSENYUM: Ketua DPP PDI Perjuangan sekaligus Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, MH Said Abdullah (Doc. Seputar Jatim)

TERSENYUM: Ketua DPP PDI Perjuangan sekaligus Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, MH Said Abdullah (Doc. Seputar Jatim)

NASIONAL, Seputar Jatim – Di tengah derasnya arus modernisasi global, Ketua DPP PDI Perjuangan sekaligus Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, MH Said Abdullah, menyebutkan bahwa pesantren dan santri kini menjadi episentrum transformasi sosial, ekonomi, dan keagamaan bangsa.

Menurutnya, pandangan lama yang menilai pesantren sebagai komunitas tertinggal dan kolot sudah tak relevan lagi.

Kini, pesantren menjelma menjadi laboratorium pemberdayaan masyarakat dan pusat lahirnya inovasi sosial-ekonomi berbasis nilai Islam rahmatan lil alamin.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Dulu santri sering diasosiasikan dengan kata ndeso, berpandangan sempit, dan jauh dari modernitas. Bahkan sempat ada tayangan televisi yang menggambarkan seperti itu. Tapi hari ini, penggambaran itu sudah usang. Dunia pesantren telah berubah jauh,” ujarnya Rabu (22/10/2025).

Baca Juga :  Melalui Bazar UMKM dan Pasar Murah, BPRS Bhakti Sumekar Jadi Penggerak Ekonomi Lokal

Politisi asal Sumenep itu menyampaikan, santri masa kini tak hanya mengaji dan menghafal kitab, tetapi juga mengelola bisnis, memproduksi karya digital, hingga menjadi penggerak ekonomi lokal.

“Pesantren hari ini bukan hanya pusat ilmu agama, tapi juga menjadi sekolah kehidupan. Para santri belajar teknologi, kewirausahaan, dan kepemimpinan,” katanya.

Ia pun mencontohkan Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, yang telah membangun jaringan ritel modern dengan lebih dari 125 cabang di Jawa dan Kalimantan.

Jaringan tersebut bukan hanya menggerakkan ekonomi pesantren, tetapi juga menjadi wadah bagi UMKM lokal untuk berkembang.

Contoh lain, Pesantren Lirboyo Kediri, di mana para santri mengelola Lirboyo Bakery, unit pengolahan sampah plastik, hingga depot air minum mandiri.

“Itu bukti nyata bagaimana pesantren membangun kemandirian ekonomi dari bawah,” tuturnya.

Menurutnya, semangat kewirausahaan di kalangan santri merupakan manifestasi nyata dari nilai-nilai Islam tentang kerja keras, kemandirian, dan keadilan sosial.

“Jika ditelusuri, ada ratusan pesantren di Indonesia yang kini menjadi motor ekonomi kreatif. Mereka bukan sekadar pusat pendidikan agama, tapi juga pilar pembangunan daerah,” ungkapnya.

Di era teknologi, kata dia, santri juga menunjukkan wajah baru Islam yang modern dan komunikatif.

Fenomena viralnya dakwah tokoh-tokoh seperti Gus Baha, KH Anwar Zahid, dan Gus Muwafiq menjadi bukti bahwa santri telah menguasai ruang digital untuk menyebarkan dakwah yang damai dan mencerdaskan.

“Dulu santri berdakwah di mimbar, sekarang mereka berdakwah lewat YouTube, TikTok, dan podcast. Dunia digital justru menjadi panggung baru bagi dakwah Islam yang sejuk dan moderat,” tuturnya.

Baca Juga :  DPRD Sahkan APBD Sumenep 2026, Fokus Keseimbangan Fiskal, Layanan Publik dan Ekonomi Lokal

Lanjut ia menambahkan, santri kini hadir di seluruh lini kehidupan nasional, dari akademisi, militer, tenaga medis, jurnalis, LSM, birokrasi, hingga politik.

“Saya sendiri santri. Sejak 1988 aktif di PDI, dan pada 1999 menjadi bagian dari PDI Perjuangan,” ujarnya.

Ia menyebutkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai teladan paling konkret bagaimana santri mampu memimpin bangsa dengan visi kebangsaan dan nilai kemanusiaan universal.

“Gus Dur adalah bukti hidup bahwa santri bukan hanya penjaga tradisi, tapi juga pelopor peradaban. Ia membawa Islam yang ramah, bukan marah,” bebernya.

Di akhir pesannya pada Hari Santri Nasional, ia menekankan, bahwa santri merupakan representasi Islam yang terbuka, toleran, dan mencintai kemanusiaan.

“Menjadi santri bukan sekadar identitas, tapi tanggung jawab moral. Di pundak santri, masyarakat melihat wajah Islam yang rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (EM)

*

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Harvick Hasnul Qolbi Disebut Sosok Ideal Jadi Mendag di Tengah Gejolak Perdagangan Global
Polda Riau Gagalkan Penyelundupan 2,2 Kg Sabu di Bandara SSK II, Kurir Ditangkap Jaringan Diburu
SKK Migas dan TNI Perkuat Pengamanan Hulu Migas, Bentengi Ketahanan Energi Nasional dari Berbagai Ancaman
Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, Usai Dicopot dari Kepala BGN
Dadan Hindayana Dicopot dari Kepala BGN, Dinilai Tak Becus Jalankan Program MBG
Mulai 2026, Bayar Pajak STNK Kendaraan Bekas Tak Wajib KTP Pemilik Lama
Tampil Mencolok di KPK, Haji Her Kooperatif Jalani Pemeriksaan
Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 21 Maret 2026

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:28 WIB

Harvick Hasnul Qolbi Disebut Sosok Ideal Jadi Mendag di Tengah Gejolak Perdagangan Global

Minggu, 26 Juli 2026 - 17:32 WIB

Polda Riau Gagalkan Penyelundupan 2,2 Kg Sabu di Bandara SSK II, Kurir Ditangkap Jaringan Diburu

Kamis, 16 Juli 2026 - 15:29 WIB

SKK Migas dan TNI Perkuat Pengamanan Hulu Migas, Bentengi Ketahanan Energi Nasional dari Berbagai Ancaman

Rabu, 3 Juni 2026 - 18:33 WIB

Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, Usai Dicopot dari Kepala BGN

Selasa, 2 Juni 2026 - 23:09 WIB

Dadan Hindayana Dicopot dari Kepala BGN, Dinilai Tak Becus Jalankan Program MBG

Berita Terbaru