SUMENEP, Seputar Jatim – Momentum Hari Raya Idul Fitri kerap diiringi lonjakan pengeluaran rumah tangga. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat kurang cermat dalam mengelola keuangan, sehingga Tunjangan Hari Raya (THR) habis tanpa perencanaan yang matang.
Melihat fenomena tersebut, PT BPRS Bhakti Sumekar meningkatkan edukasi literasi keuangan kepada masyarakat. Bank milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur itu mengimbau agar penggunaan THR direncanakan secara bijak sejak awal.
Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, menegaskan bahwa THR tidak seharusnya hanya digunakan untuk kebutuhan konsumtif saat Lebaran, melainkan juga menjadi bagian dari strategi menjaga kesehatan finansial.
“THR bukan sekadar tambahan penghasilan yang dihabiskan dalam waktu singkat. Jika tidak dikelola dengan baik, justru berpotensi menimbulkan masalah keuangan setelah Lebaran,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Ia menekankan, perencanaan keuangan yang sederhana namun disiplin dapat membantu masyarakat menjaga keseimbangan antara kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang.
“Kunci utamanya adalah disiplin dalam membagi pos pengeluaran. Dengan perencanaan yang jelas, masyarakat tetap bisa merayakan Lebaran dengan nyaman tanpa mengorbankan stabilitas keuangan,” tambahnya.
Hairil Fajar menyarankan agar THR dibagi ke dalam beberapa pos utama. Sekitar 40 persen dialokasikan untuk kebutuhan Lebaran, seperti konsumsi keluarga, pakaian, dan tradisi lainnya.
Selanjutnya, minimal 30 persen disisihkan untuk tabungan atau dana cadangan. Menurutnya, langkah ini penting untuk menghadapi kebutuhan tak terduga setelah Idulfitri.
“Setidaknya 30 persen harus ditabung. Dana ini bisa menjadi penyangga ketika ada kebutuhan mendesak, sehingga masyarakat tidak perlu bergantung pada utang,” tegasnya.
Selain itu, masyarakat juga didorong menyisihkan sekitar 20 persen THR untuk kegiatan sosial, seperti sedekah dan infak, terutama di momentum Ramadan dan Idul Fitri.
“Berbagi di bulan suci bukan hanya membantu sesama, tetapi juga membangun keseimbangan batin. Dalam banyak kasus, kebiasaan berbagi justru membuat pengelolaan keuangan menjadi lebih terarah dan penuh keberkahan,” ungkapnya.
Adapun 10 persen sisanya dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi atau self reward sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras. Namun, penggunaannya harus tetap terkendali.
“Self reward itu penting, tetapi jangan sampai berlebihan. Prinsipnya adalah menikmati hasil kerja tanpa mengganggu kondisi keuangan di masa depan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa tanpa perencanaan yang matang, THR kerap menjadi pemicu pengeluaran impulsif yang berujung pada tekanan ekonomi pasca-Lebaran.
“Sering kali euforia Lebaran membuat orang lupa batas. Inilah yang perlu diantisipasi dengan perencanaan sejak awal agar kondisi keuangan tetap stabil,” katanya.
BPRS Bhakti Sumekar, lanjutnya, akan terus berkomitmen meningkatkan literasi keuangan masyarakat melalui berbagai program edukasi yang mudah dipahami dan aplikatif.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menerima penghasilan, tetapi juga mampu mengelolanya dengan bijak. Literasi keuangan adalah kunci agar kesejahteraan bisa dirasakan secara berkelanjutan,” pungkasnya. (EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://seputarjatim.com









