Sudah Tahu? Sejarah Musik Saronen Madura

- Redaksi

Rabu, 4 September 2019 - 00:15 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

Kelompok musik Saronen berjumlah 9 orang. (dik/ SJ foto/ dok)

Kelompok musik Saronen berjumlah 9 orang. (dik/ SJ foto/ dok)

BANGKALAN, Seputarjatim.com– Saronen biasanya dimainkan dalam acara adat seperti arak-arakan pengantin atau dalam ritual adat lainnya. Musik tradisional Madura ini juga kerap dimainkan untuk mengiringi lomba karapan sapi atau lomba kecantikan sapi betina.

Musik saronen umumnya dimainkan secara berkelompok dengan alat musik lainnya, antara lain gong besar, kempul, kenong besar, kenong tengahan, kenong kecil, korca, gendang besar dan juga gendang kecil.

Alat musik saronen memiliki bentuk mirip seperti terompet atau seruling namun memiliki perbedaan di bagian peniupnya. Nah, di bagian peniupnya tersebut dibuat mirip seperti kumis-kumisan. Antara satu dengan yang lain memiliki bentuk yang berbeda sebagai kreasi dari pembuatnya.

Dua penari pria sedang berlenggak lenggok didepan grup musik saronen. (dik/ SJ foto/ dok)

Saronen terbuat dari kayu jati pilihan yang berbentuk kerucut dengan panjang sekitar 40 cm. Lubang yang ada pada saronen mirip seperti seruling, yaitu 7 lubang di mana ada 6 lubang yang berderet di bagian atas dan 1 lubang yang berada di bagian bawahnya.

Berdasarkan sejarahnya, awal mula kesenian Saronen ini dipakai sebagai media dakwah. Hal ini dilakukan agar banyak masyarakat yang tertarik untuk memeluk agama Islam. Dulu kegiatan ini dilakukan oleh cicit dari Sunan Kudus yaitu Kyai Khatib, yang tinggal di Desa Sendang, Kecamatan Pragaan, Sumenep.

Baca Juga :  Launching Kalender Wisata 2023, Addul Asnan Ingin Jadi Tour Guide
Pemerintah Kabupaten di Pulau Madura terus menjaga pelestarian musik saronen. (dik/ SJ foto/ dok)

Konon katanya setiap hari pasaran tertentu, Kyai Khatib dan para pengikutnya menghibur pengunjung pasar menggunakan saronen dengan berpakaian seperti badut. Setelah banyak pengunjung pasar yang berkumpul, mulailah Kyai Khatib berdakwah memberi pemaparan tentang agama Islam dan juga kritik sosial.

Gaya dakwah yang kocak dan humoris ini mampu menggetarkan hati pengunjung sehingga banyak masyarakat yang hadir lantas tertarik dan masuk Islam. Jadi, alat musik saronen ini memang sudah ada sejak lama dan bisa dikatakan sebagai alat musik yang membantu penyebaran agama islam di Pulau Madura. (lian/red)

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dua Kali Tembus KEN, Bupati Andalkan Musik Tong-Tong untuk Promosikan Budaya Madura
Bupati Bawa Pesan Persatuan di Puncak Perayaan Hari Jadi ke-757 Sumenep
Musik Tongtong Sumenep Siap Menggema di MotoGP Mandalika 2026, Bawa Budaya Madura ke Panggung Dunia
Bukan Sekadar Hiburan, Bupati Sumenep Sebut Festival Tong-Tong Jadi Ruang Kreativitas Seniman
Rukun Karya Genap 50 Tahun, Komitmen Lestarikan Ludruk Madura Tak Pernah Pudar
Disbudporapar Sumenep Perkuat Identitas Budaya Lewat Festival Jeren Serek 2026
Pelestarian atau Pemaksaan? Perbup Busana Budaya Sumenep Tuai Gelombang Kritik
Puluhan Pasang Sapi Kerap Meriahkan HUT Perdana DRT di Lapangan Giling Sumenep

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 07:33 WIB

Dua Kali Tembus KEN, Bupati Andalkan Musik Tong-Tong untuk Promosikan Budaya Madura

Minggu, 18 Oktober 2026 - 07:19 WIB

Bupati Bawa Pesan Persatuan di Puncak Perayaan Hari Jadi ke-757 Sumenep

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Musik Tongtong Sumenep Siap Menggema di MotoGP Mandalika 2026, Bawa Budaya Madura ke Panggung Dunia

Senin, 7 September 2026 - 06:58 WIB

Bukan Sekadar Hiburan, Bupati Sumenep Sebut Festival Tong-Tong Jadi Ruang Kreativitas Seniman

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:44 WIB

Rukun Karya Genap 50 Tahun, Komitmen Lestarikan Ludruk Madura Tak Pernah Pudar

Berita Terbaru

ILUSTRASI: H. Hamid Ali Munir dan H. Herman Dali Kusuma, keduanya merupakan mantan Ketua DPRD Kabupaten Sumenep (Foto Istimewa)

Opini Publik

Sumenep Butuh Sosok H. Hamid Ali Munir dan H. Herman Dali Kusuma

Kamis, 5 Nov 2026 - 15:58 WIB