SUMENEP, Seputar Jatim – Polemik di Dapur MBG SPPG Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur, di bawah Yayasan Dakwah Sosial Bani Ishak, kian memanas setelah pernyataan Kepala Dapur, Qiwam MH, beredar luas dan memicu gelombang kritik.
Alih-alih memberi klarifikasi soal legalitas, sertifikasi, serta pemenuhan standar operasional yang diwajibkan pemerintah, Qiwam justru melontarkan pernyataan yang dinilai arogan, provokatif, dan diduga menabrak aturan Presiden RI terkait standar kesehatan SPPG.
Kontroversi mencuat setelah percakapan media menampilkan sikap Qiwam yang dianggap ambigu dan defensif mengenai kelengkapan sertifikasi dapur.
Padahal, sejumlah dokumen penting dilaporkan belum terpenuhi. Meski demikian, Qiwam tetap bersikukuh bahwa dapur sudah memenuhi syarat.
“Dari sekian banyak menu yang disediakan oleh SPPG mana pun itu sudah dikonsultasikan dengan Ahli Gizi, dan itu bisa dipertanggungjawabkan,” ucapnya, melalui pesan WhatsApp, Rabu (3/12/2025).
Ia bahkan menyebut bahwa penunjukannya sebagai Kepala SPPG merupakan bukti bahwa dapur tersebut sudah siap beroperasi.
“Saya ini ditugaskan oleh BGN sebagai Kepala SPPG karena SPPG tersebut sudah dan dinyatakan siap beroperasi oleh BGN sendiri,” tegasnya.
Namun ketika wartawan menyinggung soal sertifikasi yang belum lengkap, pernyataannya kembali berubah menjadi pembenaran sepihak.
“Justru saya paham makanya SPPG ini masih beroperasi dan sertifikat-sertifikat yang dimaksud saat ini sudah dalam proses,” bebernya.
Respons Qiwam yang dianggap tidak kooperatif, bahkan sempat bernada membentak, membuat suasana semakin panas.
“Justru ini sudah tertata rapi, sampean (kamu, red) sudah baca juknis tidak?,” ujarnya dengan nada tinggi.
Atas sikap Qiwan yang arogan, Aktivis pemerhati pembangunan Sumenep, Syarifuddin, menyebut sikap Qiwam sebagai bentuk pengabaian terhadap aturan Presiden RI mengenai standar dapur SPPG.
“Sebagai pejabat yang diberi kewenangan, Kepala Dapur MBG SPPG Guluk-Guluk seharusnya memberi teladan, bukan justru meremehkan aturan. Sikap provokatif seperti itu menciptakan preseden buruk dan membahayakan keselamatan masyarakat,” tegasnya.
Syarifuddin juga mengkritisi pernyataan Qiwam yang justru memicu keraguan terhadap keberadaan ahli gizi dan juru masak profesional.
“Pernyataan Qiwan seperti Chef profesional atau bagaimana ini dan kalau tidak ada Ahli Gizi, SPPG tidak boleh beroperasi mas,” jelasnya.
Hal ini hanya mempertebal dugaan bahwa struktur tenaga ahli di dapur SPPG Guluk Guluk tersebut belum jelas.
Situasi semakin memanas setelah mencuat informasi bahwa dapur SPPG Guluk-Guluk berpotensi ditutup apabila sertifikasi yang diwajibkan pemerintah tidak segera dipenuhi.
Publik menuntut langkah cepat dari lembaga terkait untuk memastikan keamanan makanan yang dikonsumsi masyarakat serta menindak tegas pihak yang diduga mengabaikan standar keselamatan. (EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://www.seputarjatim.com









