SUMENEP, Seputar Jatim – Persoalan kualitas menu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, kini memasuki fase yang jauh lebih serius dan mengkhawatirkan.
Dugaan makanan basi dan berbau yang didistribusikan oleh SPPG Talang Yayasan Syita Ananta, tidak lagi berhenti pada keluhan, tetapi telah berujung pada dampak kesehatan nyata yang dialami siswa.
Kasus ini tidak hanya memicu kegelisahan, tetapi juga kemarahan terbuka dari para wali murid. Mereka menilai persoalan kualitas makanan dalam program MBG bukan kejadian insidental, melainkan indikasi masalah berulang tanpa adanya perbaikan signifikan.
Sejumlah orang tua bahkan menilai ada unsur pembiaran dalam distribusi makanan yang diduga tidak layak konsumsi. Situasi ini dinilai semakin memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan program MBG di lapangan.
Salah satu wali murid SDN Juluk II, Fajar membenarkan adanya kejadian siswa yang mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi menu MBG.
“Memang benar kemarin ada siswa keracunan di SDN Juluk II. Kenapa saya tahu, karena sekolah itu adalah sekolah anak saya,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut bukan yang pertama, melainkan sudah berulang kali terjadi tanpa solusi nyata.
“Ini bukan kejadian yang pertama. Ini sudah yang kesekian kalinya. Pernah ada menu yang tidak layak konsumsi, ada ulatnya dan bahkan busuk. Saya sebagai orang tua tidak terima anak kami diberikan makanan yang mengancam kesehatannya,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan ini seharusnya tidak terjadi jika pengawasan dan pengelolaan program berjalan dengan baik.
“Anggaran itu kan sudah pasti untuk siswa. Jadi jangan dikurangi. Imbasnya ya seperti ini, menu MBG berbau dan busuk dipaksakan didistribusikan ke siswa,” ujarnya dengan nada keras.
Ia juga mendesak agar pihak berwenang tidak tinggal diam.
“Saya berharap ada tindakan tegas dari Satgas MBG Kabupaten Sumenep dan juga Badan Gizi Nasional RI. Anak kami bukan bak sampah yang gampang disuruh makan menu yang tidak layak untuk kesehatannya,” tegasnya.
Nada serupa disampaikan wali murid lainnya yang menilai persoalan ini telah melampaui batas toleransi.
“Ini sudah berulang, tapi seperti tidak ada perbaikan. Jangan paksa anak kami makan yang tidak layak,” ujarnya.
Fakta di lapangan semakin memperkuat dugaan tersebut setelah pihak kecamatan bersama Forkopimcam melakukan klarifikasi langsung ke sekolah dan dapur MBG.
Hasilnya, baik pihak sekolah maupun SPPG mengakui adanya permasalahan pada kualitas makanan yang didistribusikan.
Camat Saronggi, Arman Mustofa, menyampaikan pihaknya telah melakukan mengecekan langsung.
“Iya kami melakukan kunjungan ke SDN Juluk II dan SPPG Syita Ananta Talang. Hasil klarifikasi ke pihak sekolah di sana mengakui bahwa menu MBG yang didistribusikan sebagian besar kondisinya basi dan berbau,” jelasnya.
Ia juga membenarkan adanya siswa yang mengalami gangguan kesehatan hingga harus mendapatkan penanganan medis.
“Ada tiga siswa mengalami sakit perut dibawa ke Puskesmas Saronggi oleh orang tuanya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengakuan juga datang dari pihak SPPG saat dilakukan klarifikasi langsung.
“Kami Forkopimcam juga melakukan kunjungan ke SPPG Talang, pada saat itu ada pengawas SPPG. Hasil klarifikasi pihak sana juga mengaku bahwasannya ada menu bau dan ada siswa dilarikan ke Puskesmas,” tuturnya.
Atas temuan tersebut, pihak kecamatan memastikan laporan resmi telah disampaikan ke pemerintah daerah untuk segera ditindaklanjuti.
“Hasil dari semua klarifikasi saat kunjungan ke SDN Juluk II dan SPPG Talang, kami laporkan ke Bapak Bupati, tembusan ke Pak Sekda, Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan,” paparnya.
Ia berharap laporan tersebut tidak berhenti sebagai formalitas.
“Semoga hal ini ada tindakan tegas dari pemerintah daerah untuk menyikapinya,” tambahnya.
Di tengah situasi yang semakin serius, upaya konfirmasi kepada pihak SDN Juluk II justru menemui kendala. Transparansi yang diharapkan publik belum sepenuhnya terpenuhi.
Saat media mendatangi sekolah SDN Juluk II untuk menemui Kepala Sekolah, yang bersangkutan tidak berada di tempat.
“Bapak tidak ada di kantor,” ujar salah satu guru singkat.
Saat ditanyakan mengenai penanggung jawab program MBG di sekolah tersebut, jawaban yang diberikan juga belum memberikan kejelasan.
“Yang bertanggung jawab MBG lagi keluar, mengajar di luar,” kata salah satu guru.
Kondisi ini semakin menambah tanda tanya terkait sistem pengawasan dan koordinasi program MBG di tingkat sekolah.
Kasus ini menjadi alarm keras bahwa persoalan MBG di Sumenep tidak lagi bisa dianggap sepele. Dari sekadar keluhan soal bau dan kualitas makanan, kini berkembang menjadi persoalan serius yang menyangkut kesehatan siswa.
Indikasi makanan basi, berbau, bahkan disebut mengandung ulat, menunjukkan adanya kegagalan dalam sistem pengawasan, pengelolaan, dan distribusi.
Minimnya respons dari pihak sekolah serta tidak adanya pihak yang siap memberikan klarifikasi langsung memperkuat kesan lemahnya tanggung jawab di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada Kepala Sekolah SDN Juluk II dan penanggung jawab MBG masih terus dilakukan. (EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://seputarjatim.com









