SUMENEP, Seputar Jatim – Kehadiran industri rokok lokal di Madura, Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Sumenep, semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Selain menjaga stabilitas harga tembakau, industri tersebut juga dinilai mampu meningkatkan serapan hasil panen petani sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Dalam tiga tahun terakhir, dampak positif itu mulai dirasakan para petani tembakau di berbagai wilayah. Pada musim panen 2024 lalu, harga tembakau di salah satu gudang lokal di Sumenep berada di kisaran Rp55 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram, tergantung kualitas tembakau yang dihasilkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya harga yang relatif stabil, daya serap hasil panen juga mengalami peningkatan signifikan. Salah satu gudang rokok lokal di Sumenep tercatat mampu menyerap sekitar 930 ton tembakau atau setara lebih dari 19.400 bal selama musim panen tahun lalu.
Petani tembakau asal Kecamatan Guluk-Guluk, Imam (48), mengaku kondisi tersebut jauh berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Menurutnya, harga tembakau dulu kerap anjlok hingga berada di bawah Rp30 ribu per kilogram.
“Dulu petani sering rugi karena harga tidak menentu. Sekarang, sejak banyak pabrik rokok lokal berdiri, harga lebih stabil dan hasil panen petani lebih mudah terserap,” ujarnya, Senin (18/5/2026).
Ia menilai keberadaan pabrik rokok lokal di Sumenep dan wilayah Madura memberikan kepastian pasar bagi petani sehingga mereka lebih percaya diri untuk kembali menanam tembakau.
Hal senada juga disampaikan petani asal Kecamatan Lenteng, Hazbul (38). Ia mengaku kini lebih tenang mengelola lahan tembakaunya karena hampir seluruh hasil panen petani dapat terserap industri lokal.
“Dalam beberapa tahun terakhir, hampir bisa dipastikan tembakau petani terjual semua. Kondisi ini tentu sangat membantu ekonomi petani,” katanya.
Selain berdampak pada sektor pertanian, industri rokok lokal juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja. Banyak warga kini bekerja di sektor linting rokok, pengemasan, hingga distribusi.
Sementara itu, warga Kecamatan Lenteng, Rina (35), yang bekerja sebagai buruh linting rokok, mengaku keberadaan industri tersebut membantu meningkatkan perekonomian keluarganya.
“Dulu saya hanya ibu rumah tangga tanpa penghasilan. Sekarang bisa ikut bekerja dan membantu kebutuhan keluarga,” tuturnya.
Keberadaan industri rokok lokal pun dinilai tidak hanya menjadi penopang ekonomi petani tembakau, tetapi juga membuka peluang usaha serta lapangan kerja baru bagi masyarakat di Kabupaten Sumenep dan Madura secara umum. (EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://seputarjatim.com









