PAMDAS Jadi Pilihan Unik pada Malam Penutupan PSM 9 Sanggar Lentera STKIP PGRI Sumenep

- Redaksi

Kamis, 19 Juni 2025 - 18:16 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

BAHAGIA: Ketua STKIP PGRI Sumenep, Asmoni, saat menyerahkan trophy kepada pemenang lomba baca puisi pada penutupan acara PSM ke-9 (SandiGT - Seputar Jatim)

BAHAGIA: Ketua STKIP PGRI Sumenep, Asmoni, saat menyerahkan trophy kepada pemenang lomba baca puisi pada penutupan acara PSM ke-9 (SandiGT - Seputar Jatim)

SUMENEP, Seputar Jatim — Pekan Seni Madura (PSM) ke-9 resmi ditutup oleh Ketua STKIP PGRI Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Meski perayaan budaya yang nyaris tak terlaksana sempurna, bukan karena kurang antusiasme, melainkan karena alam semesta menguji konsistensinya lewat hujan yang mengguyur hampir setiap hari.

Namun, panggung tetap menyala, gamelan tetap dipukul, dan penari tetap menari. Seakan-akan semua elemen PSM 9 bersikeras berkata budaya tidak akan menunggu cuaca cerah.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penampilan Pemerhati Artis Musik Dangdut Sumenep (PAMDAS) menjadi pilihan unik di malam penutupan. Di tengah festival yang sejak awal mengusung semangat pelestarian seni tradisi, kehadiran PAMDAS justru menjadi titik temu antara seni rakyat dan seni populer.

Tak sedikit yang awalnya meragukan kehadiran grup dangdut sebagai penutup, tapi justru di sanalah publik melihat bahwa budaya tidak pernah tunggal.

“Kami ingin menunjukkan bahwa seni Madura tidak monokrom. Ia bisa berdendang, bisa bergetar, dan bisa bergaul dengan musik masa kini tanpa kehilangan jati diri,” kata Ketua UKM Sanggar Lentera, Ari Firmansyah, Kamis (19/6/2025).

Baca Juga :  Susun RPJMD 2025–2029, Bappeda Sumenep Pastikan Kepulauan Tak Lagi Jadi Pinggiran

Menurutnya, PSM tahun ini tidak mudah digelar. Selain tantangan teknis akibat cuaca, panitia juga menghadapi keterbatasan anggaran dan dinamika koordinasi lintas lembaga.

“Namun bagi kami, mempertahankan PSM bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bentuk perlawanan terhadap kehilangan,” ucapnya.

Pihaknya sedang melawan pelupaan. Setiap panggung yang pihaknya dirikan adalah upaya menjaga jejak.

“Madura tidak boleh tercerabut dari identitas budayanya,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua STKIP PGRI Sumenep, Asmoni menyampaikan, bahwa keberlanjutan PSM adalah bagian penting dari pembangunan identitas kultural Kabupaten Sumenep sebagai kota budaya.

“Sumenep bukan hanya kota keris, tapi kota ekspresi. Kita harus merawat ruang-ruang semacam ini, bukan hanya untuk seniman, tapi untuk masyarakat luas agar tahu siapa mereka sebenarnya,” tuturnya.

Ia juga mendorong agar kegiatan seperti PSM tidak sekadar berakhir di panggung seremonial, tapi terus dievaluasi secara akademik dan kultural agar semakin berdampak pada pembangunan sektor kreatif dan pariwisata lokal.

Dengan berakhirnya PSM 9, tersisa semacam atmosfer antara lega dan rindu. Lega karena kegiatan berhasil digelar penuh, rindu karena panggung-panggung itu tak bisa dinyalakan setiap hari.

“Namun satu hal pasti mereka yang hadir, baik sebagai pelaku maupun penonton, membawa pulang lebih dari sekadar hiburan mereka membawa pulang kesadaran tentang siapa mereka dan ke mana mereka ingin membawa budaya Madura ke depan,” pungkasnya. (Sand/EM)

*

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dugaan Ancaman Celurit hingga Perusakan Usaha, Dear Jatim Desak Kapolres Pamekasan Tuntaskan dalam 7×24 Jam
Bahas Tambang Ilegal di Pamekasan, JIP Hadirkan Pemerintah, Polisi hingga Akademisi
Kasus DBD di Pamekasan Capai 380, Dinkes Siapkan 4 Langkah Antisipasi KLB
Puncak Festival Banjari Al-Habsyi, DRT Gemar Bershalawat Hadirkan Majelis At-Taufiq Meriahkan HSN 2026
Dua Kades Terjerat Kasus Narkoba, DPMD Sumenep Pilih Tegak Lurus pada Hukum
Geger! Bayi Laki-Laki Ditemukan di Atas Kursi Rusak di Pinggir Jalan Prenduan Sumenep
Dugaan Perusakan Rumah dan Teror Celurit di Pamekasan, Jaka Jatim Desak Polisi Usut Tuntas
Kuota Cuma 20 Grup, Jangan Lewatkan! Festival Banjari Al-Habsyi se-Sumenep Siapkan Hadiah Jutaan

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 19:14 WIB

Dugaan Ancaman Celurit hingga Perusakan Usaha, Dear Jatim Desak Kapolres Pamekasan Tuntaskan dalam 7×24 Jam

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:44 WIB

Bahas Tambang Ilegal di Pamekasan, JIP Hadirkan Pemerintah, Polisi hingga Akademisi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:23 WIB

Kasus DBD di Pamekasan Capai 380, Dinkes Siapkan 4 Langkah Antisipasi KLB

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:06 WIB

Puncak Festival Banjari Al-Habsyi, DRT Gemar Bershalawat Hadirkan Majelis At-Taufiq Meriahkan HSN 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:21 WIB

Dua Kades Terjerat Kasus Narkoba, DPMD Sumenep Pilih Tegak Lurus pada Hukum

Berita Terbaru