SUMENEP, Seputar Jatim – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, terus mengakselerasi pengendalian penyakit tidak menular (PTM) melalui strategi yang lebih progresif dan terukur.
Upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Evaluasi Program PTM Tahun 2026 yang digelar lebih awal sebagai respons atas kebutuhan penguatan deteksi dini di tengah masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel D’Bagraf Sumenep ini diikuti sebanyak 62 peserta, terdiri dari kepala puskesmas dan penanggung jawab program PTM dari seluruh wilayah, baik daratan maupun kepulauan.
Keterlibatan lintas wilayah ini menjadi penegasan bahwa pengendalian PTM tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi dan berkelanjutan.
Percepatan evaluasi dinilai sebagai langkah taktis untuk membaca capaian program sejak dini, sekaligus mengidentifikasi celah yang masih perlu diperbaiki.
Mengingat, tren PTM seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung masih menjadi ancaman serius yang kerap terdeteksi terlambat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri, menegaskan bahwa evaluasi tidak lagi sekadar rutinitas administratif, melainkan diarahkan pada penguatan kualitas intervensi di lapangan.
“Kami ingin memastikan program PTM ini benar-benar hidup di tengah masyarakat. Tidak hanya sekadar laporan, tetapi bagaimana upaya kita mampu menekan risiko penyakit melalui deteksi dan pencegahan sejak dini,” ujarnya, Rabu (22/04/2026).
Ia menjelaskan, percepatan evaluasi juga berkaitan erat dengan optimalisasi program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang mulai digencarkan sejak tahun sebelumnya.
Meski memiliki potensi besar, implementasinya masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal partisipasi masyarakat.
“Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan masih perlu ditingkatkan. Di sinilah inovasi layanan menjadi sangat penting,” tambahnya.
Sejumlah puskesmas di Sumenep kini mulai mengembangkan pendekatan jemput bola yang lebih adaptif. Salah satunya melalui pelaksanaan skrining kesehatan di lokasi-lokasi strategis, seperti tempat ibadah, khususnya pada waktu subuh.
Pendekatan ini dinilai efektif karena mampu menjangkau masyarakat tanpa harus menunggu mereka datang ke fasilitas kesehatan.
Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga edukasi kesehatan secara langsung.
“Inovasi seperti ini harus terus didorong. Semakin dekat layanan dengan masyarakat, semakin besar peluang kita mendeteksi risiko PTM lebih awal,” imbuhnya.
Menurutnya, deteksi dini merupakan fondasi utama dalam menekan angka kesakitan akibat PTM. Dengan mengetahui kondisi kesehatan lebih cepat, masyarakat dapat segera melakukan langkah pencegahan maupun pengobatan sebelum penyakit berkembang menjadi lebih parah.
Tidak hanya menyasar masyarakat, Dinkes P2KB Sumenep juga mulai memperluas cakupan skrining ke internal tenaga kesehatan.
Langkah ini, kata dia, bertujuan menjaga kesehatan sumber daya manusia sekaligus menjadi contoh nyata penerapan pola hidup sehat.
Dengan percepatan evaluasi dan inovasi layanan yang semakin variatif, Pemkab Sumenep optimistis pengendalian PTM dapat berjalan lebih efektif.
Upaya ini diharapkan mampu menekan beban penyakit sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat, baik di wilayah perkotaan maupun kepulauan yang memiliki tantangan akses tersendiri. (Sand/EM)
*
Penulis : Sand
Editor : EM
Sumber Berita: https://seputarjatim.com









