Diterpa Isu dan Tekanan, Direktur RSUDMA Erliyati Tampil sebagai Simbol Keteguhan di Mata Jurnalis Senior

- Redaksi

Sabtu, 26 Juli 2025 - 19:13 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

RAPI: Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, Erliyati (Doc. Seputar Jatim)

RAPI: Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, Erliyati (Doc. Seputar Jatim)

SUMENEP, Seputar Jatim – Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, Erliyati, tetap menunjukkan dedikasinya dalam membenahi layanan rumah sakit meski diterpa isu miring terkait rekrutmen tenaga melalui skema Ikatan Kerja Sama (IKS).

Dia pun menjadi sorotan usai RSUD menggunakan skema IKS dalam menambah kebutuhan tenaga kerja non-ASN.

Namun, Erliyati justru secara terbuka menantang siapa pun yang bisa membuktikan adanya praktik nepotisme.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Mas… Siapa pun yang bisa membuktikan bahwa saya merekrut saudara atau keponakan lewat IKS, silakan tunjukkan,” tegasnya, Erliyati dalam sebuah pertemuan pasca kepulangannya dari ibadah haji, sebagaimana dituturkan oleh, wartawan senior di Sumenep, Hambali Rasidi.

Baca Juga :  Achmad Fauzi Wongsojudo Raih Penghargaan dari BKN Atas Layanan Penetapan NIP Terbaik

Menurut penuturan Pemilik Media Online Mata Madura, Direktur RSUD itu menjelaskan bahwa perekrutan tenaga non-ASN melalui skema IKS merupakan bagian dari strategi jangka panjang RSUD dalam menyambut akreditasi tipe B pada tahun 2026.

Semua proses dilakukan sesuai regulasi, yakni Permendagri No. 79 Tahun 2018, Perbup Sumenep No. 57 Tahun 2020, dan Keputusan Direktur RSUD.

Sejak Februari 2025, RSUD dr. H. Moh. Anwar telah resmi naik kelas dari tipe C ke tipe B, menyusul penerapan program Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang merupakan kebijakan nasional.

Ia mencatat bahwa sebelum status tersebut diraih, Erliyati telah lebih dulu mencicil berbagai pembenahan, baik dari sisi layanan, infrastruktur, hingga manajemen.

Sosok Erliyati yang dikenal gesit bahkan dijuluki sebagai “Ibu Risma-nya Sumenep” karena gaya kerjanya yang cepat, tegas, dan penuh dedikasi.

Baca Juga :  Dapur Mandiri Pesantren Jadi Titik Awal Program MBG di Sumenep

Sejak dilantik pada April 2019 lalu, ia langsung berhadapan dengan krisis keuangan rumah sakit akibat tunggakan BPJS.

Saat pandemi Covif-19 datang, tantangan bertambah. Namun, keduanya justru menjadi momentum pembuktian kepemimpinannya.

Lewat strategi yang terukur dan responsif, RSUD Sumenep mampu bangkit dan mendapatkan Akreditasi Paripurna (Bintang Lima) dari Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) pada November 2022.

Dalam catatan Hambali, salah satu gebrakan Erliyati yang paling bersejarah adalah mendirikan Poli Onkologi yang menjadi satu-satunya di Pulau Madura.

Bahkan, di Jawa Timur, kata dia, layanan tersebut hanya tersedia di RSUD Sumenep dan RSUD dr. Soetomo Surabaya.

Selain itu, unit layanan hemodialisa direnovasi, ditambah fasilitas tempat tidur, hingga pengadaan layanan kemoterapi, patologi anatomi, dan ortopedi. Semua perubahan itu dilakukan secara bertahap, namun terarah untuk meningkatkan kenyamanan dan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Modernisasi juga dilakukan pada peralatan medis, seperti penambahan CT Scan kedua, mammografi, serta persiapan alat terapi hiperbarik senilai Rp 5 miliar. Sistem pelayanan pun dikembangkan menuju digitalisasi agar lebih efisien dan ramah pasien.

Meski banyak pencapaian, Erliyati tidak lupa akan nilai dasar yang ia tanamkan sejak awal  “Bismillah Melayani.” Sebuah filosofi pelayanan yang mengedepankan keikhlasan, kesabaran, dan kepekaan terhadap kebutuhan pasien.

“Rumah sakit ini milik masyarakat. Siapa pun berhak memberi saran atau kritik, dan kami wajib menindaklanjuti,” bebernya.

Ia juga memperkuat peran Instalasi Peduli Pelanggan (IPP) sebagai wadah pengaduan dan masukan langsung dari publik.

Bagi Erliyati, lanjut dia, transformasi rumah sakit tidak cukup hanya dengan fisik atau alat, melainkan juga dari budaya kerja yang humanis dan profesional.

Hambali juga mencatat bahwa di tengah tekanan dan sorotan, Erliyati pernah mengungkapkan keluhannya secara lirih. “Saya seperti lilin. Menerangi sekitar, tapi diri saya dibakar. Bukan terbakar,” tuturnya, menirukan ucapan Erliyati.

Baca Juga :  Pemkab Sumenep Tambah Dokter Spesialis untuk RS Abuya di Kepulauan

Ungkapan itu, kata dia, mencerminkan pengabdian dan pengorbanan yang senyap tapi menyala. Dalam diam, ia bekerja. Dalam tekanan, ia tetap melayani. (EM)

*

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Disbudporapar Sumenep Buka Pintu Kreativitas Masyarakat untuk Kalender Event 2027
Dugaan Ancaman Celurit hingga Perusakan Usaha, Dear Jatim Desak Kapolres Pamekasan Tuntaskan dalam 7×24 Jam
Bahas Tambang Ilegal di Pamekasan, JIP Hadirkan Pemerintah, Polisi hingga Akademisi
Kasus DBD di Pamekasan Capai 380, Dinkes Siapkan 4 Langkah Antisipasi KLB
Puncak Festival Banjari Al-Habsyi, DRT Gemar Bershalawat Hadirkan Majelis At-Taufiq Meriahkan HSN 2026
Dua Kades Terjerat Kasus Narkoba, DPMD Sumenep Pilih Tegak Lurus pada Hukum
Geger! Bayi Laki-Laki Ditemukan di Atas Kursi Rusak di Pinggir Jalan Prenduan Sumenep
Dugaan Perusakan Rumah dan Teror Celurit di Pamekasan, Jaka Jatim Desak Polisi Usut Tuntas

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 13:01 WIB

Disbudporapar Sumenep Buka Pintu Kreativitas Masyarakat untuk Kalender Event 2027

Kamis, 29 Oktober 2026 - 19:14 WIB

Dugaan Ancaman Celurit hingga Perusakan Usaha, Dear Jatim Desak Kapolres Pamekasan Tuntaskan dalam 7×24 Jam

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:44 WIB

Bahas Tambang Ilegal di Pamekasan, JIP Hadirkan Pemerintah, Polisi hingga Akademisi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:23 WIB

Kasus DBD di Pamekasan Capai 380, Dinkes Siapkan 4 Langkah Antisipasi KLB

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:06 WIB

Puncak Festival Banjari Al-Habsyi, DRT Gemar Bershalawat Hadirkan Majelis At-Taufiq Meriahkan HSN 2026

Berita Terbaru