Erotica Permaisuri

Oleh: Sulaisi Abdurrazaq

- Redaksi

Sabtu, 20 Mei 2023 - 22:31 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

(Foto Istimewa)

(Foto Istimewa)

Seputarjatim.com- Bangsa Indonesia nampaknya tengah terjerumus ke dalam satu situasi dimana batas antara benar – salah, baik – jahat, moral – amoral menjadi kabur dan simpang siur. Kita berada pada satu keadaan “ketidakpastian moral” (indeterminancy of moral), pada satu garis abu-abu moral, pada satu titik ambiguitas moral”.

– Yasraf Amir Piliang –
_________________________

MALAM itu. Taburan gemintang kedap kedip di langit cerah. Seumpama gadis desa, sengaja main mata, menggoda goda.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Udara sesekali meniup dahan dan ujung dedaunan yang baru kuncup, melongok ke arah dua sahabat yang duduk di bawah langit gemerlapan, bersila di ruang hampa dengan dada rusuh, berdua pelototi sutera terawang. Aurat. Mereka itulah Upin dan Ipin.

Video itu jelas, bukan sekadar pornokitsch. Wajah dan lawan pemerannya sama-sama politisi, hanya berbeda parpol.

Sang kumbang aktifis Parpol hijau, si kupu-kupu srikandi Parpol merah.

Baca Juga :  48 Pasang Sapi Siap Adu Cepat di Karapan Sapi Rebut Piala Bupati Sumenep

Yang satu Ketua Fraksi, satunya permaisuri. Tampak semacam cinta terlarang, cinta segitiga.

Ketika bibir permaisuri “melumat eskrim” si kumbang, Upin menelan ludah, menggigit bibir dan geleng kepala. Nalarnya terhenti, libidonya seketika membuncah hingga ubun-ubun, tak mampu sembunyikan suasana erotik dan sensual.

Upin tiba-tiba menarik nafas, lalu berdiri.

“Kasian sekali si Raja, terus menerus merawat tahta, namun gagal menjaga permata.”
Celoteh Upin merongos-rongos.

Ipin hanya ketawa. Tak menggubris.

Raja pasti tak sadar permaisuri selingkuh. Karena, saban hari kecantikan permatanya itu tak henti-henti dipamerkan ke ruang-ruang publik. Medsos, bener dan flyer di mana-mana.

Menurut Ipin, sang Raja fatal fatal, karena mentolerir permaisuri masuk ke arena politik, menjadi legislator cantik, tanpa hirau banalitas. Terlalu percaya. Karena tugas masing-masing, sering long dintance.

Peristiwa itu, –Meminjam istilah Yasraf Amir Piliang (2003)–, menjelma semacam libidonomics, sebuah sistem pendistribusian rangsangan, rayuan, kesenangan, dan “kegairahan” dengan menyuguhkan unsur-unsur sensualitas.

Baca Juga :  Wabup Sumenep Sebut Festival Hadrah Sumenep 2025 Mampu Dongkrak Ekonomi Lokal

Sang Raja seharusnya belajar dari peristiwa sejarah, cinta segitiga Ken Arok, Ken Dedes dan Tunggul Ametung.

Sebagai penguasa, Tunggul Ametung akhirnya frustasi. Situasi politik membuatnya stres. Ia sulit percaya pada pasukannya, bahkan pada bayang – bayangnya sendiri.

Hanya sang permaisuri, Ken Dedes yang diharap menjadi penyejuk jiwanya. Ia tak sadar, Dedes telah selingkuh dan bersekongkol dengan Arok.

Akhirnya, atas bantuan Ken Dedes, Tunggul Ametung, penguasa Tumapel, tewas di tangan Arok, diterjang keris Empu Grandring. Lalu, Ken Arok berkuasa, menjadi Raja Singhasari dengan dua permaisuri, Ken Umang dan Ken Dedes. Tamatlah riwayat Tunggul Ametung.

Kisah ini sekaligus peringatan bagi penguasa, yang saat ini bisa saja dikenal dengan sebutan Bupati, Wali Kota, atau sebutan lainnya. Berilah perhatian lebih pada permaisurimu. (red)

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dua Kali Tembus KEN, Bupati Andalkan Musik Tong-Tong untuk Promosikan Budaya Madura
Bupati Bawa Pesan Persatuan di Puncak Perayaan Hari Jadi ke-757 Sumenep
Musik Tongtong Sumenep Siap Menggema di MotoGP Mandalika 2026, Bawa Budaya Madura ke Panggung Dunia
Bukan Sekadar Hiburan, Bupati Sumenep Sebut Festival Tong-Tong Jadi Ruang Kreativitas Seniman
Rukun Karya Genap 50 Tahun, Komitmen Lestarikan Ludruk Madura Tak Pernah Pudar
Disbudporapar Sumenep Perkuat Identitas Budaya Lewat Festival Jeren Serek 2026
Pelestarian atau Pemaksaan? Perbup Busana Budaya Sumenep Tuai Gelombang Kritik
Puluhan Pasang Sapi Kerap Meriahkan HUT Perdana DRT di Lapangan Giling Sumenep
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 07:33 WIB

Dua Kali Tembus KEN, Bupati Andalkan Musik Tong-Tong untuk Promosikan Budaya Madura

Minggu, 18 Oktober 2026 - 07:19 WIB

Bupati Bawa Pesan Persatuan di Puncak Perayaan Hari Jadi ke-757 Sumenep

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Musik Tongtong Sumenep Siap Menggema di MotoGP Mandalika 2026, Bawa Budaya Madura ke Panggung Dunia

Senin, 7 September 2026 - 06:58 WIB

Bukan Sekadar Hiburan, Bupati Sumenep Sebut Festival Tong-Tong Jadi Ruang Kreativitas Seniman

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:44 WIB

Rukun Karya Genap 50 Tahun, Komitmen Lestarikan Ludruk Madura Tak Pernah Pudar

Berita Terbaru