SUMENEP, Seputar Jatim – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif Antarperguruan Tinggi (PT) Desa Gapurana memperkenalkan budidaya tanaman Azolla kepada masyarakat Desa Gapurana, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Tanaman air tersebut dikenalkan sebagai salah satu alternatif bahan pakan ternak yang berpotensi membantu menekan biaya peternakan.
Kegiatan sosialisasi dan praktikum berlangsung di Balai Desa Gapurana, yang dihadiri Kepala Desa Gapurana, Andiwarto, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Tri Sutrisno, perangkat desa, warga, serta komunitas peternak lokal.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Materi mengenai Azolla disampaikan Zaimul Mahasin, dengan Moh. Rifki sebagai moderator dan Koordinator Desa, Ach. Faqih Anas R.
Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan Azolla sebagai tanaman air yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, terutama untuk ternak unggas.
Tanaman tersebut diketahui memiliki kandungan protein kasar sekitar 24–30 persen, serta mengandung asam amino esensial dan mineral yang dibutuhkan ternak.
Potensi kandungan nutrisi tersebut menjadi alasan Azolla diperkenalkan kepada masyarakat sebagai salah satu pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial yang selama ini menjadi salah satu komponen biaya dalam pemeliharaan ternak.
Kepala Desa Gapurana, Andiwarto, menyambut positif program tersebut. Menurutnya, Azolla merupakan tanaman yang sebelumnya belum dikenal secara luas oleh masyarakat setempat.
Karena itu, ia berharap pengenalan tersebut dapat dilanjutkan dalam bentuk budidaya yang berkelanjutan.
“Saya sangat berharap dengan hadirnya percontohan tanaman Azolla ini, nantinya bisa benar-benar dibudidayakan secara berkelanjutan oleh mahasiswa bersama masyarakat di Desa Gapurana,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).
Sementara itu, DPL KKN, Tri Sutrisno, menegaskan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian materi.
Mahasiswa juga perlu memberikan pendampingan secara langsung agar pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan oleh masyarakat.
“Mahasiswa tidak hanya mentransfer ilmu di ruangan, tetapi juga bisa menyalurkannya lewat berbagai media. Selain itu, mahasiswa harus aktif terjun langsung ke lapangan mendampingi warga secara konkret,” bebernya.
Ia menilai budidaya Azolla memiliki peluang untuk dikembangkan guna mendukung kebutuhan pakan, khususnya bagi peternak ayam. Pemanfaatan tanaman tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam menghadapi tingginya biaya pakan.
Untuk memastikan program tidak berhenti setelah masa KKN berakhir, mahasiswa juga menyiapkan sejumlah langkah lanjutan. Salah satunya dengan membangun kolam percontohan atau demplot Azolla di lokasi yang mudah dijangkau masyarakat.
Demplot tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi warga untuk melihat secara langsung proses budidaya, perawatan, hingga pemanfaatan Azolla sebagai bahan pakan.
Selain demplot, mahasiswa berencana menyediakan materi edukasi melalui media sosial dan modul cetak ringkas. Materi tersebut akan memuat informasi mengenai teknik perawatan serta pengolahan Azolla sebagai bahan campuran pakan.
Pendampingan secara berkala kepada kelompok peternak ayam lokal juga menjadi bagian dari rencana keberlanjutan program.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mengembangkan budidaya Azolla secara mandiri setelah mahasiswa menyelesaikan kegiatan KKN.
Pengenalan Azolla di Desa Gapurana menjadi salah satu upaya mahasiswa KKN Kolaboratif untuk mendorong pemanfaatan sumber daya sederhana yang memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat.
Melalui edukasi, praktik langsung, demplot, dan pendampingan, program tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya para peternak di Desa Gapurana. (EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://seputarjatim.com










