Demokrasi Dijual Murah, Pilkada Langsung dalam Cengkeraman Politik Uang

- Redaksi

Sabtu, 10 Januari 2026 - 17:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Flayer Jong Sumeker (Doc. Seputar Jatim)

Flayer Jong Sumeker (Doc. Seputar Jatim)

OPINI PUBLIK, Seputar Jatim – Pilkada langsung yang sejak awal dipromosikan sebagai manifestasi kedaulatan rakyat, dalam praktiknya belum sepenuhnya menghadirkan demokrasi yang sehat dan bermartabat.

Di banyak daerah, pilkada justru masih didominasi praktik politik uang, mobilisasi suara berbasis transaksi, serta permainan elit yang menjauhkan rakyat dari esensi demokrasi itu sendiri.

Tingginya biaya politik mendorong para calon kepala daerah menghalalkan berbagai cara demi kemenangan. Kompetisi politik pun bergeser, bukan lagi adu gagasan, integritas, dan kapasitas kepemimpinan, melainkan perlombaan kekuatan modal.

Dalam situasi ini, rakyat lebih sering diposisikan sebagai objek politik, bukan subjek yang menentukan arah masa depan daerahnya.

Realitas tersebut melahirkan persoalan lanjutan yang tak kalah serius. Kepala daerah terpilih kerap disibukkan oleh upaya “mengembalikan modal politik” ketimbang fokus melayani kepentingan publik. Praktik korupsi, kolusi, serta kebijakan yang abai terhadap rakyat kecil menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.

Baca Juga :  Dua Dapur MBG Diduga Langgar Juknis, Koordinator SPPI Sumenep Tak Boleh Diam

Berangkat dari kondisi itu, Jong Sumekar memandang bahwa wacana pilkada melalui DPRD patut dipertimbangkan. Bukan sebagai kemunduran demokrasi, melainkan sebagai alternatif untuk memutus mata rantai politik uang yang kian mengakar. Meski demikian, dukungan terhadap opsi ini tidak boleh bersifat membabi buta.

Pilkada melalui DPRD harus disertai perbaikan mendasar dalam sistem dan etika politik. Transparansi proses pemilihan, pengawasan publik yang ketat, sanksi tegas terhadap praktik suap, serta keterlibatan aktif masyarakat sipil merupakan prasyarat mutlak. Tanpa itu, mekanisme ini hanya berpotensi memindahkan praktik politik uang dari ruang publik ke lingkaran elit.

Pada hakikatnya, demokrasi tidak semata-mata diukur dari mekanisme pemilihan langsung atau tidak langsung. Ukurannya terletak pada sejauh mana proses tersebut mampu melahirkan pemimpin yang berintegritas, berpihak pada rakyat, dan menjalankan amanat kekuasaan secara adil.

Selama pilkada langsung masih dikuasai oleh praktik transaksional, evaluasi menyeluruh adalah sebuah keniscayaan. Yang paling penting bukan sekadar soal mekanisme, melainkan bagaimana demokrasi dibersihkan dari politik uang yang merusak masa depan daerah. (JS/EM)

*

Penulis : JS

Editor : EM

Sumber Berita: https://www.seputarjatim.com

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PPPK untuk SPPG, Guru dan Nakes Masih Menunggu: Kebijakan yang Mengusik Rasa Keadilan
Saat Publik Gugat SPPG di Sumenep, SPPI Absen dari Klarifikasi
Pendidikan Kehilangan Arah: Saat Kebijakan Reaktif Mengalahkan Perencanaan
MENUMBUHKAN ASA DI PAUD RA: Integrasi Inquiry, PjBL, dan Computational Thinking Dalam Dekapan Kurikulum Berbasis Cinta
Mengawal Mutu dari Ujung Negeri, Kerja Sunyi Pengawas Madrasah RA–MI di Balik KBC dan RDM
Wajah Buram SPPG Guluk-Guluk Sumenep: Celah Kecil Runtuhkan Program Prabowo Subianto
Festival Tembakau Madura, Antara Meriahnya Pameran dan Bayang-Bayang ‘Pabrikan Hantu’
Mengapa Kurikulum Pendidikan Perlu Diganti? Menimbang Kembali Kurikulum Pendidikan di Indonesia

Berita Terkait

Rabu, 21 Januari 2026 - 19:14 WIB

PPPK untuk SPPG, Guru dan Nakes Masih Menunggu: Kebijakan yang Mengusik Rasa Keadilan

Selasa, 13 Januari 2026 - 18:58 WIB

Saat Publik Gugat SPPG di Sumenep, SPPI Absen dari Klarifikasi

Minggu, 11 Januari 2026 - 19:55 WIB

Pendidikan Kehilangan Arah: Saat Kebijakan Reaktif Mengalahkan Perencanaan

Sabtu, 10 Januari 2026 - 17:28 WIB

Demokrasi Dijual Murah, Pilkada Langsung dalam Cengkeraman Politik Uang

Jumat, 2 Januari 2026 - 17:30 WIB

MENUMBUHKAN ASA DI PAUD RA: Integrasi Inquiry, PjBL, dan Computational Thinking Dalam Dekapan Kurikulum Berbasis Cinta

Berita Terbaru