Pendidikan Kehilangan Arah: Saat Kebijakan Reaktif Mengalahkan Perencanaan

- Redaksi

Minggu, 11 Januari 2026 - 19:55 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

Dosen Muda, Imam Ghazali (Doc. Seputar Jatim)

Dosen Muda, Imam Ghazali (Doc. Seputar Jatim)

SEPUTAR JATIM – Carut marut dunia pendidikan kerap berakar dari kebijakan yang lahir secara reaktif, bukan dari perencanaan strategis yang matang. Keputusan diambil terburu-buru sebagai respons atas satu peristiwa tertentu, tanpa didahului proses perencanaan yang sistematis, seperti rapat kerja yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan pelaku operasional akademik.

Akibatnya, kebijakan pendidikan berjalan tanpa arah jangka panjang, bersifat tambal sulam, dan gagal menjawab kebutuhan riil dunia pendidikan. Padahal, pendidikan semestinya dibangun di atas visi, bukan sekadar reaksi.

Prinsip keadilan dalam pendidikan pun kerap terpinggirkan oleh kekuatan dan kekuasaan segelintir oknum. Praktik diskriminasi, pilih kasih, dan keputusan yang sarat subjektivitas bukan hanya merusak kinerja individu, tetapi juga melahirkan budaya kerja yang tidak sehat.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika integritas dikalahkan oleh kekuasaan, lembaga pendidikan kehilangan nilai moralnya sebagai ruang pembentukan karakter dan keadilan sosial.

Masalah lain yang tak kalah serius adalah tata kelola keuangan pendidikan yang tidak sehat. Campur aduk antara keuangan pribadi dan lembaga menjadi cermin lemahnya manajemen dan akuntabilitas.

Baca Juga :  Demokrasi Dijual Murah, Pilkada Langsung dalam Cengkeraman Politik Uang

Dampaknya sangat nyata, mulai dari keterlambatan pemenuhan hak tenaga pendidik hingga ketidakpastian kesejahteraan staf. Jika keuangan dikelola tanpa transparansi, pendidikan tak lagi menjadi ladang pengabdian, melainkan sumber ketidakadilan struktural.

Kesalahan mendasar dalam memandang kesejahteraan pendidik adalah mengukurnya semata dari besaran gaji. Padahal, kenyamanan bekerja, hubungan sosial yang sehat, rasa aman secara psikologis, serta penghargaan terhadap profesionalisme justru menjadi fondasi utama kesejahteraan.

Pendidikan akan sulit berkembang jika para pendidiknya bekerja dalam tekanan, konflik internal, dan ketidakpastian, meskipun secara material terlihat “cukup”.

Pada akhirnya, carut marut pendidikan tidak akan selesai hanya dengan mengganti kurikulum atau menerbitkan regulasi baru. Akar persoalan sesungguhnya terletak pada tata kelola manusia: bagaimana keputusan diambil, keadilan ditegakkan, keuangan dikelola, serta tenaga pendidik diperlakukan secara manusiawi. Pendidikan hanya akan bermartabat jika dikelola dengan etika, transparansi, dan empati, bukan dengan kekuasaan, kepentingan, dan angka semata.

*

Penulis: Imam Ghazali, S.Kep.,Ns.,M.Kep

Editor: EM

Penulis : Imam Ghazali

Editor : EM

Sumber Berita: https://www.seputarjatim.com

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mr. Ball Tetap Eksis, Gerakan Penolakan Mulai Redup, Kemana Nyali Penegak Perda?
SURAT AI PADA PRESIDEN DAN MENHAN
TEMPO BERJUDI DI MADURA
Antrean BBM di Sumenep: Ketika Masyarakat Membayar dengan Waktu dan Uang
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
PPPK untuk SPPG, Guru dan Nakes Masih Menunggu: Kebijakan yang Mengusik Rasa Keadilan
Saat Publik Gugat SPPG di Sumenep, SPPI Absen dari Klarifikasi
Demokrasi Dijual Murah, Pilkada Langsung dalam Cengkeraman Politik Uang

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:29 WIB

Mr. Ball Tetap Eksis, Gerakan Penolakan Mulai Redup, Kemana Nyali Penegak Perda?

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:37 WIB

SURAT AI PADA PRESIDEN DAN MENHAN

Sabtu, 12 September 2026 - 20:18 WIB

TEMPO BERJUDI DI MADURA

Kamis, 10 September 2026 - 14:26 WIB

Antrean BBM di Sumenep: Ketika Masyarakat Membayar dengan Waktu dan Uang

Senin, 3 Agustus 2026 - 20:27 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Berita Terbaru