SUMENEP, Seputar Jatim – Di tengah gencarnya pemberitaan yang menonjolkan apresiasi terhadap menu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG( Rubaru, suara kritis wali murid justru kian menguat.
Berbagai komentar bernada keras di media sosial mencerminkan kekecewaan mendalam, sekaligus kekhawatiran serius terhadap keamanan, mutu, dan kelayakan makanan yang dikonsumsi anak-anak setiap hari.
Sorotan tersebut mencuat seiring penilaian bahwa Kepala SPPG Rubaru lebih sibuk membangun citra positif di ruang publik.
Sementara di lapangan, sejumlah wali murid melaporkan adanya menu makanan yang diduga tidak layak konsumsi.
Salah satu wali murid mengeluhkan sate yang tercium basi serta kualitas nasi yang dinilai jauh dari standar.
“Menu sate kemarin ada yang basi, nasi gorengnya juga kurang bumbu. Tolong jangan dianggap sepele,” tulis seorang wali murid dalam kolom komentar TikTok, Senin (27/1/2026).
Keluhan tak berhenti pada persoalan rasa. Kritik semakin tajam ketika wali murid lain mempertanyakan proses perubahan menu, termasuk pihak yang memberi izin tanpa kejelasan prosedur dan transparansi.
“Siapa yang memberi izin SPPG diubah? Apakah tidak curiga sebelum memberi izin rakyatnya dijadikan bahan uji coba?,” tulis wali murid lainnya, dengan nada geram.
Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan yang lebih serius, kekhawatiran akan dampak kesehatan anak-anak, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Sejumlah wali murid bahkan menyinggung risiko keracunan hingga gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak.
“Memang gratis, tapi kalau anak-anak calon penerus bangsa jadi korban makanan yang tidak jelas, apa gunanya?,” lanjut komentar tersebut.
Sementara, saat media berupaya menemui salah satu wali murid asal Pakondang, ternyata masalah lain yang turut disorot adalah ketidaksesuaian antara porsi makanan yang dipublikasikan di media sosial dengan yang benar-benar diterima siswa di sekolah.
Bahkan, porsi dinilai disamaratakan tanpa mempertimbangkan perbedaan jenjang pendidikan.
“Porsinya nasi kuning tidak sesuai dengan yang ada di medsosnya. Masak porsi yang dihidangkan disamaratakan dari MI sampai MA? Saya tahu betul karena anak saya menerima tiap hari,” ucap Imam Mustain R.
Menariknya, kata dia, bahwa persoalan biaya bukan isu utama. Ia pun mengaku lebih memilih membayar, asalkan keselamatan dan kualitas makanan anak-anak benar-benar terjamin.
“Jujur, lebih baik makan bayar, yang penting anak-anak selamat dari hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya.
Situasi ini menyingkap jurang mencolok antara narasi pemberitaan yang sarat apresiasi dengan realitas yang dirasakan langsung wali murid.
Pemberitaan sepihak yang hanya menonjolkan sisi positif dinilai berpotensi menyesatkan opini publik dan menutup ruang kritik yang sah.
Dalam persoalan yang menyangkut kesehatan dan keselamatan anak, suara wali murid bukan sekadar pelengkap, melainkan alarm sosial yang seharusnya ditanggapi serius, bukan ditutupi dengan pencitraan
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG Rubaru terkait keluhan sejumlah wali murid. (EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://www.seputarjatim.com









