SUMENEP, Seputar Jatim – Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Juluk II, Mahelli, memberikan klarifikasi terkait dugaan gangguan pencernaan yang dialami sejumlah siswa setelah mengkonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan oleh SPPG Syita Ananta Talang, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu, 11 April 2026 kemarin. Saat kejadian, Mahelli mengaku tidak berada di sekolah karena kepentingan keluarga.
“Pada hari itu saya tidak disekolah, namun berdasarkan laporan yang saya terima dari teman-teman guru bahwa ada beberapa menu MBG dalam kondisi berbau tidak sedap. Kondisi tersebut langsung menjadi perhatian kami karena tidak sesuai dengan standar kelayakan konsumsi,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (17/4/2026).
Ia menjelaskan, tidak semua siswa yang mengkonsumsi makanan tersebut mengalami gangguan pencernaan.
“Setelah mengkonsumsi menu MBG hari itu, beberapa siswa mulai mengeluhkan sakit perut,” jelasnya.
Meski demikian, pihak sekolah bergerak cepat merespons kondisi tersebut dengan melakukan penanganan awal terhadap siswa yang terdampak.
“Setelah pihak sekolah melakukan penangan awal, maka siswa yang mengalami sakit perut kami antar kerumahnya” ungkapnya.
Setibanya di rumah, orang tua siswa langsung membawa anak mereka ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Setelah tiba dirumahnya, orang tua siswa langsung membawa anaknya ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis. Dan pihak sekolah melakukan pendampingan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kelembagaan,” tambahnya.
Mahelli menegaskan, pihaknya telah menginstruksikan seluruh tenaga pendidik untuk lebih selektif dalam menerima dan mendistribusikan menu MBG.
“Saya menyampaikan kepada para guru, apabila menemukan menu MBG yang berbau, tidak segar, atau tidak layak konsumsi, maka harus langsung ditolak dan tidak diberikan kepada siswa,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa kelayakan makanan tidak hanya dilihat dari kondisi fisik, tetapi juga kandungan gizinya.
“Tidak hanya soal bau, tetapi juga apabila menu tersebut tidak memenuhi standar gizi yang dibutuhkan siswa, maka itu juga akan kami tolak. Kesehatan dan kebutuhan gizi anak-anak adalah prioritas utama kami,” tandasnya.
Dalam pernyataannya, Mahelli menunjukkan sikap tegas terhadap penyedia makanan jika tidak ada perbaikan kualitas.
“Kami tidak main-main dalam persoalan ini karena menyangkut keselamatan dan kesehatan siswa. Jika pihak penyedia tidak melakukan evaluasi dan perbaikan secara serius, maka kami akan mempertimbangkan untuk berpindah ke penyedia lain,” pungkasnya.
Ia berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak, khususnya penyedia layanan MBG, agar lebih memperhatikan kualitas makanan sebelum didistribusikan ke sekolah.
“Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Penyedia harus benar-benar memastikan bahwa makanan yang diberikan kepada siswa aman, layak, dan memenuhi standar gizi, sesuai dengan harapan Bpk Presiden kita Prabowo Subianto,” harapnya. (EM)
*
Penulis : EM
Sumber Berita: https://seputarjatim.com









