SUMENEP, Seputar Jatim – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mulai mengarahkan kebijakan baru di sektor pertanian melalui program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP).
Program ini menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan dominasi lahan kering dan keterbatasan sumber air, sekaligus mendorong transformasi pertanian menuju sistem yang lebih produktif, modern, dan berorientasi pasar.
Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, menegaskan bahwa HDDAP tidak sekadar proyek pengembangan komoditas, melainkan bagian dari upaya menyeluruh dalam membenahi sistem pertanian daerah.
“Kami ingin petani tidak lagi bergantung pada pola lama yang rentan terhadap perubahan iklim. Melalui HDDAP, dilakukan intervensi teknologi, perbaikan manajemen budidaya, hingga penguatan kelembagaan petani secara berkelanjutan,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Ia menjelaskan, salah satu fokus utama program ini adalah penerapan teknologi irigasi hemat air serta pendampingan intensif bagi kelompok tani. Hal ini dinilai penting mengingat karakteristik wilayah Sumenep yang didominasi lahan kering dengan ketersediaan air terbatas.
Selain itu, DKPP juga menyiapkan penguatan rantai pasok agar hasil produksi petani tidak terjebak dalam fluktuasi harga pasar.
“Kami dorong setiap klaster terhubung dengan pasar, baik melalui kemitraan maupun penguatan distribusi lokal. Jadi tidak berdiri sendiri,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Sumenep, KH. Imam Hasyim, menilai HDDAP sebagai instrumen penting untuk menjawab persoalan struktural di sektor pertanian.
Menurutnya, pendekatan yang digunakan dalam program ini bersifat terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir.
“HDDAP dirancang agar petani tidak hanya mampu berproduksi, tetapi juga memiliki akses terhadap teknologi, kelembagaan yang kuat, serta pasar yang jelas,” tegasnya.
Sumenep sendiri menjadi salah satu dari 13 kabupaten di Indonesia yang mendapatkan intervensi program ini. Tiga komoditas strategis ditetapkan sebagai fokus pengembangan, yakni pisang, cabai, dan bawang merah, komoditas bernilai ekonomi tinggi yang dinilai adaptif terhadap lahan kering.
Pengembangannya dilakukan berbasis potensi wilayah. Komoditas pisang difokuskan di Kecamatan Batuputih seluas 32,53 hektare dalam dua klaster. Cabai dikembangkan di Kecamatan Ambunten dan Rubaru, dengan Ambunten mencakup dua klaster seluas 62,87 hektare, sedangkan Rubaru memiliki 16 klaster yang diproyeksikan menjadi sentra produksi baru.
Adapun bawang merah dikembangkan di Kecamatan Guluk-Guluk dan Pasongsongan. Di Guluk-Guluk, luas pengembangan mencapai 49,77 hektare dalam empat klaster, sementara di Pasongsongan seluas 53,94 hektare dalam tujuh klaster.
Pola klaster ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat jaringan distribusi hasil pertanian.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor pertanian di Sumenep tidak lagi dipandang sebagai sektor subsisten, melainkan sebagai penggerak utama ekonomi daerah.
“Dengan strategi yang terarah dan berbasis potensi lokal, lahan kering yang selama ini dianggap sebagai keterbatasan justru bisa menjadi kekuatan baru,” pungkasnya. (Sand/EM)
*
Penulis : Sand
Editor : EM
Sumber Berita: https://seputarjatim.com









