Banjir Bukan Lagi Sekadar Cuaca, Riset BRIDA dan ITS Bongkar Alarm Tata Kota Sumenep

- Redaksi

Senin, 15 Desember 2025 - 19:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MELUAP: Jalan raya di selamat datang Sumenep terendam banjir (SandiGT - Seputar Jatim)

MELUAP: Jalan raya di selamat datang Sumenep terendam banjir (SandiGT - Seputar Jatim)

SUMENEP, Seputar Jatim – Genangan air yang berulang di jantung Kota Sumenep, Madura, Jawa Timur, kini tak lagi dapat dipandang sebagai anomali cuaca semata.

Fenomena ini menjadi sinyal peringatan serius bagi sebuah kota yang bertumbuh cepat, namun belum sepenuhnya siap menanggung konsekuensi urbanisasi.

Fakta tersebut terungkap dalam penelitian kolaboratif Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Studi ini mengkategorikan banjir sebagai urban hazard, ancaman perkotaan yang lahir dari keterkaitan sistem alam dan aktivitas manusia.

Dalam konteks Sumenep, banjir dipicu oleh perluasan kawasan terbangun, menyusutnya daerah resapan air, serta sistem drainase yang tertinggal dari laju pembangunan.

Perubahan tata guna lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sarokah disebut menjadi faktor dominan meningkatnya limpasan air permukaan.

Kepala BRIDA Sumenep, Benny Irawan, menjelaskan, bahwa kondisi tersebut diperparah oleh karakter tanah dengan daya infiltrasi rendah serta dominasi permukiman dan sawah tadah hujan.

Baca Juga :  Bukan Makan Bergizi, Siswa Terima Snack, Pelaksanaan MBG di Rubaru Disorot Tajam

“Banjir di kawasan perkotaan tidak berdiri sendiri. Ia adalah akumulasi keputusan tata ruang dari waktu ke waktu,” ujarnya, Senin (15/12/2025).

Penelitian tersebut memetakan sejumlah kawasan yang secara konsisten mengalami genangan, seperti Perumahan Bumi Sumekar Asri, Perumahan Satelit, serta koridor jalan strategis Trunojoyo, Dr. Cipto, Urip Sumoharjo, Agus Salim, dan Dr. Wahidin.

Di luar pusat kota, genangan juga tercatat di Desa Patean (Batuan), Nambakor dan Muangan (Saronggi), Sendir (Lenteng), Bluto, hingga Kalianget.

Survei lapangan mengidentifikasi sedikitnya 15 titik genangan utama, dengan ketinggian air mencapai 30–45 sentimeter dan durasi genangan hingga beberapa jam.

Sistem drainase eksisting, khususnya di Kecamatan Kota Sumenep, dinilai tak lagi mampu menampung peningkatan debit air akibat urbanisasi dan sedimentasi.

“Fenomena backwater di hilir sungai, jebolnya tanggul Sungai Anjuk, serta alih fungsi saluran tanpa penyesuaian teknis semakin melemahkan daya tahan kota terhadap hujan ekstrem,” bebernya.

Tak berhenti pada diagnosis, riset BRIDA–ITS juga menawarkan peta jalan mitigasi banjir berbasis integrasi struktural dan sosial. Normalisasi dan pelebaran saluran air menjadi agenda utama, terutama di jalur Trunojoyo–Dr. Cipto. Proyek peningkatan drainase di Jalan Dr. Cipto, Kelurahan Kolor, pada 2024 disebut sebagai contoh intervensi awal.

Di tingkat lingkungan, peran warga dinilai krusial. Pembersihan drainase berkala, pembangunan sumur resapan dan biopori komunal, serta perawatan saluran mikro skala RT direkomendasikan sebagai bentuk adaptasi berbasis komunitas.

Pendekatan non-struktural diperkuat melalui pembentukan Forum Komunitas Warga Siaga Banjir, edukasi kebencanaan di sekolah, serta pengembangan sistem peringatan dini berbasis warga.

Informasi cuaca dari BMKG Kalianget disalurkan melalui jaringan komunikasi hingga tingkat RT/RW guna mempercepat respons saat hujan ekstrem.

Baca Juga :  Ribuan Warga Padati Sumenep Sun Run 2025, Olahraga Jadi Gaya Hidup Baru

Lanjut Benny menegaskan, hasil penelitian ini memiliki urgensi tinggi sebagai dasar perumusan kebijakan penanganan banjir yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Integrasi aspek hidrologi, geospasial, dan sosial dinilai mutlak agar kebijakan tidak lagi bersifat sektoral.

“Jika banjir terus dipahami sebagai kejadian alam semata, maka kota akan selalu tertinggal satu langkah. Padahal, banjir adalah alarm bagi tata kelola perkotaan,” pungkasnya.

Dengan riset ini, banjir tak lagi sekadar genangan yang surut bersama waktu, melainkan cermin yang memaksa Kota Sumenep menata ulang cara bertumbuh, sebelum air kembali datang lebih tinggi. (Sand/EM)

*

Penulis : Sand

Editor : EM

Sumber Berita: https://www.seputarjatim.com

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wabup Sumenep Kawal Diplomasi Pariwisata, Australia Bidik Wisata Kesehatan dan Budaya Dunia
Awal 2026, Bupati Sumenep Rombak OPD Inti, Gagal Capai Target Siap Dievaluasi
Investasi Sumenep Tembus Rp2 Triliun di Tengah Transisi Aturan Perizinan
Pelestarian atau Pemaksaan? Perbup Busana Budaya Sumenep Tuai Gelombang Kritik
Apel Perdana 2026, Wabup Sumenep Minta ASN Kerja Nyata, Bukan Sekadar Formalitas
Disnaker Sumenep Bangun Kepatuhan UMK Lewat Dialog, Dunia Usaha Diajak Jadi Mitra Kesejahteraan Pekerja
PAD Sumenep 2025 Lampaui Target, Digitalisasi Pajak Dorong Realisasi Tembus Rp94 Miliar
Serapan APBD Sumenep Masih 77 Persen, Rp612 Miliar Masih Tertahan

Berita Terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 19:13 WIB

Wabup Sumenep Kawal Diplomasi Pariwisata, Australia Bidik Wisata Kesehatan dan Budaya Dunia

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:25 WIB

Awal 2026, Bupati Sumenep Rombak OPD Inti, Gagal Capai Target Siap Dievaluasi

Selasa, 13 Januari 2026 - 11:54 WIB

Investasi Sumenep Tembus Rp2 Triliun di Tengah Transisi Aturan Perizinan

Sabtu, 10 Januari 2026 - 17:47 WIB

Pelestarian atau Pemaksaan? Perbup Busana Budaya Sumenep Tuai Gelombang Kritik

Senin, 5 Januari 2026 - 12:47 WIB

Apel Perdana 2026, Wabup Sumenep Minta ASN Kerja Nyata, Bukan Sekadar Formalitas

Berita Terbaru