Festival Ojhung Jadi Harapan Ekonomi Baru di Sumenep

- Redaksi

Minggu, 18 Mei 2025 - 10:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SIAP: Wabup Sumenep Imam Hasyim (tengah) saat membuka festival Ojhung Sumenep di Pantai Badur (SandiGT - Seputar Jatim)

SIAP: Wabup Sumenep Imam Hasyim (tengah) saat membuka festival Ojhung Sumenep di Pantai Badur (SandiGT - Seputar Jatim)

SUMENEP, Seputar Jatim – Festival Ojhung di Pantai Badur, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, sukses memikat mata masyarakat.

Festival Ojhung tak hanya digelar sebagai tontonan atraktif, tetapi perwujudan dari sebuah warisan budaya yang telah hidup berabad-abad di tengah Masyarakat Sumenep Madura.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Moh. Iksan menyampaikan, bahwa ini bagian dari strategi besar Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk menempatkan budaya sebagai lokomotif pariwisata dan ekonomi lokal.

“Melalui festival ini, kami ingin agar pelestarian budaya tidak hanya menjadi tujuan utama, tetapi juga sebagai sarana promosi pariwisata Pantai Badur kepada khalayak luas,” ujarnya. Minggu (18/5/2025).

Baca Juga :  Di Tengah Arus Digital, Budayawan Sumenep Sebut Buku Tetap Primadona Ilmu Pengetahuan

Lanjut ia menegaskan, Ojhung bukan hanya permainan fisik. Bagi pemahaman masyarakat Sumenep Madura, terutama di daerah pedesaan, Ojhung adalah bagian dari laku spiritual, doa yang dibacakan lewat rotan, harapan yang dibisikkan lewat luka, dan solidaritas yang ditempa dalam semangat bertarung.

“Di masa lalu, Ojhung biasa digelar untuk memohon turunnya hujan atau menolak mara bahaya, Ini adalah warisan leluhur yang tak boleh dilupakan. Di dalamnya ada doa, harapan, dan nilai-nilai kebersamaan,” tegasnya.

Tradisi ini, lanjut dia, dengan segala kekhasannya, menjadi potensi budaya yang otentik dan berdaya jual tinggi dalam industri pariwisata global yang semakin mencari pengalaman asli dan lokal.

Ia menyampaikan, festival ini menghadirkan sepuluh petarung profesional yang telah diseleksi oleh Paguyuban Ojung Sapo’ Angin, menghadirkan ketegangan dan daya tarik tersendiri bagi penonton.

“Namun di balik pertarungan itu, denyut ekonomi masyarakat juga ikut hidup. Sebanyak 14 desa dari Kecamatan Batuputih berpartisipasi dalam bazar produk lokal. Mulai dari kuliner tradisional hingga kerajinan tangan, semua ditampilkan untuk memikat wisatawan,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Sumenep, Imam Hasyim menyatakan, hal ini sejalan dengan harapan pemerintah daerah agar geliat budaya berdampak langsung pada peningkatan ekonomi warga, terutama pelaku UMKM.

Baca Juga :  Jelang Idul Adha 2025, DKPP Sumenep Belum Tentukan Jadwal Pemeriksaan Hewan Kurban

“Ini bukan hanya soal hiburan atau tontonan, tapi juga upaya strategis agar potensi wisata di daerah ini makin dikenal dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ucapnya.

Menurutnya, Pantai Badur yang dulunya hanya dikenal masyarakat sekitar, kini diarahkan menjadi destinasi unggulan di Kabupaten Sumenep. Posisinya yang berada di pesisir utara Madura dan lanskapnya yang masih alami menjadi nilai tambah. Dengan penyelenggaraan festival seperti ini, kawasan tersebut perlahan mulai naik kelas.

“Namun, ini bukan kerja sehari atau sebulan. Dibutuhkan konsistensi promosi, peningkatan infrastruktur, serta pelibatan komunitas lokal dalam jangka panjang,” tuturnya.

Ia berharap, Festival Ojhung agar bisa membawa pesan mendalam tentang pentingnya regenerasi budaya. Pelestarian tidak akan berarti tanpa keterlibatan generasi muda.

“Jika anak muda tidak mengenal budaya mereka sendiri, bagaimana mungkin mereka bisa mencintai daerahnya,” harapnya.

“Melalui festival ini, generasi muda diperkenalkan pada sejarah, nilai, dan semangat Ojhung bukan sekadar tontonan, tapi warisan yang perlu dirawat bersama,” pungkasnya. (Sand/EM)

*

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pelestarian atau Pemaksaan? Perbup Busana Budaya Sumenep Tuai Gelombang Kritik
Puluhan Pasang Sapi Kerap Meriahkan HUT Perdana DRT di Lapangan Giling Sumenep
Festival Kucing Busok Raas 2025: Ajang Konservasi Ras Langka yang Jadi Magnet Wisata
Hari Jadi Sumenep ke-756, 1000 Penari Topeng Meriahkan Puncak Prosesi Arya Wiraraja
Disbudporapar Sumenep Perjuangkan 5 Warisan Budaya Lokar Agar Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2025
Daftar Juara Festival Musik Tong-Tong 2025 di Sumenep
Festival Musik Tong-Tong Masuk KEN 2025, Disbudporapar Sumenep Siap Tampilkan Budaya Sumenep Tingkat Nasional
38 Grup Meriahkan Festival Musik Tong Tong se-Madura 2025

Berita Terkait

Sabtu, 10 Januari 2026 - 17:47 WIB

Pelestarian atau Pemaksaan? Perbup Busana Budaya Sumenep Tuai Gelombang Kritik

Sabtu, 13 Desember 2025 - 21:00 WIB

Puluhan Pasang Sapi Kerap Meriahkan HUT Perdana DRT di Lapangan Giling Sumenep

Rabu, 19 November 2025 - 14:25 WIB

Festival Kucing Busok Raas 2025: Ajang Konservasi Ras Langka yang Jadi Magnet Wisata

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 23:53 WIB

Hari Jadi Sumenep ke-756, 1000 Penari Topeng Meriahkan Puncak Prosesi Arya Wiraraja

Selasa, 21 Oktober 2025 - 10:02 WIB

Disbudporapar Sumenep Perjuangkan 5 Warisan Budaya Lokar Agar Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2025

Berita Terbaru