SUMENEP, Seputar Jatim – Perairan pesisir Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, tercemar tumpahan minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang diduga berasal dari kapal tongkang pengangkut CPO.
Puluhan ton minyak berwarna kecokelatan menggenangi perairan dangkal hingga mencapai bibir pantai Desa Banraas. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran warga terhadap dampak serius pencemaran lingkungan laut.
Peristiwa ini mencuat setelah video kondisi laut tercemar minyak beredar luas di media sosial, termasuk grup WhatsApp warga dan platform TikTok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam rekaman tersebut, terlihat lapisan minyak mengapung di permukaan air laut, membuat perairan tampak keruh, licin, dan tidak lagi jernih seperti biasanya.
Sejumlah warga di sekitar lokasi merekam langsung kondisi pantai yang tercemar. Di beberapa titik perairan dangkal, tumpahan CPO terlihat menempel pada pasir pantai dan bebatuan karang, menunjukkan dampak visual yang cukup mencolok.
Warga Desa Bancamara, Kecamatan Dungkek, Moh Yusuf, membenarkan adanya tumpahan minyak yang diduga berasal dari kapal tongkang pengangkut CPO tersebut. Ia menyebut, kejadian itu mulai diketahui warga sejak Kamis pagi.
“Benar, saya tahu pagi tadi. Minyaknya tumpah ke laut dan sampai ke pantai,” katanya, Jumat (23/1/2026).
Yusuf mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab awal insiden tersebut. Namun, berdasarkan informasi yang ia terima dari warga sekitar, cuaca buruk diduga kuat menjadi faktor pemicu kecelakaan kapal.
“Cuaca memang sedang buruk, angin kencang dan ombak cukup tinggi. Tongkangnya kandas,” ujarnya.
Menurut Yusuf, kapal tongkang pengangkut CPO itu dilaporkan kandas di karang sekitar pukul 21.00 WIB pada Rabu (21/1) malam.
Insiden terjadi setelah tali jangkar kapal diduga putus, sehingga kapal tidak mampu bertahan dari terjangan angin kencang dan gelombang tinggi.
“Kapalnya kandas sekitar jam sembilan malam. Karena terus dihantam angin kencang dan ombak besar, kapal mengalami kebocoran dan minyaknya tumpah,” ungkapnya.
Akibat kondisi laut yang ekstrem, para anak buah kapal (ABK) tidak dapat segera turun dari kapal. Proses evakuasi baru bisa dilakukan pada Kamis pagi setelah kondisi gelombang mulai memungkinkan.
“ABK baru bisa turun pagi tadi. Sebelumnya tidak bisa karena ombak masih tinggi,” tambahnya.
Kondisi ini memicu kekhawatiran warga, khususnya para nelayan di sekitar Pulau Gili Iyang yang menggantungkan hidup dari hasil laut. Mereka cemas tumpahan minyak akan berdampak pada ekosistem laut serta menurunkan hasil tangkapan ikan.
“Warga tentu khawatir. Kalau tidak segera ditangani, dampaknya bisa panjang bagi laut dan nelayan,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang maupun instansi terkait mengenai penyebab pasti tumpahan CPO tersebut serta langkah penanganan pencemaran di lokasi kejadian. Identitas pemilik kapal tongkang dan jumlah pasti muatan CPO yang tumpah ke laut juga belum diketahui. (Sand/EM)
*
Penulis : Sand
Editor : EM
Sumber Berita: https://www.seputarjatim.com









