Walhi Jatim Minta Cabut SHM Laut dan Hentikan Eksploitasi Pesisir di Gersik Putih

- Redaksi

Minggu, 26 Januari 2025 - 09:53 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

PAGAR LAUT: Laut Desa Gersik Putih, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep ber- SHM (SandiGT - Seputar Jatim)

PAGAR LAUT: Laut Desa Gersik Putih, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep ber- SHM (SandiGT - Seputar Jatim)

SUMENEP, Seputar Jatim – Desa Gersik Putih, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menghadapi ancaman serius dari privatisasi wilayah pesisir.

Dengan itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur, mendesak pemerintah mencabut Sertifikat Hak Milik (SHM) 21 hektar di sepanjang laut di desa tersebut.

Direktur Eksekutif Walhi Jatim, Wahyu Eka Setyawan mengatakan, wilayah pesisir seluas 21 hektar, yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat lokal, kini dipetak-petak oleh pihak tidak bertanggung jawab atau aktor bisnis dengan klaim kepemilikan lahan melalui Sertifikat Hak Milik (SHM).

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jika dibiarkan, hal ini tidak hanya akan menghancurkan ekosistem pesisir tetapi juga memiskinkan masyarakat yang sudah hidup dalam kondisi rentan,” ujarnya. Minggu (26/1/2025).

Baca Juga :  PT. POS Indonesia Cabang Sapeken Diduga Kurang Pengawasan dalam Penyaluran Bolug 2024, Oknum Perangkat Desa Sepanjang Jadi Otaknya

Privatisasi pesisir di Gersik Putih dapat dipastikan akan membawa dampak ekologis yang besar.

Berdasarkan fakt di lapangan, mangrove yang berfungsi sebagai pelindung alami dari abrasi dan perubahan iklim, kini terancam hilang akibat konversi lahan untuk tambak garam baru.

“Dengan hilangnya lahan hijau dalam hal ini kawasan lindung pesisir, karena proyek tambak garam, tentu akan memperparah bencana banjir rob yang kini terjadi setiap bulan, merusak rumah warga dan infrastruktur desa,” tegasnya.

Dari sisi sosial-ekonomi, kata wahyu, masyarakat Gersik Putih terjebak dalam dua pilihan sulit, yaitu menjadi buruh tambak garam musiman yang rentan terhadap cuaca atau merantau ke luar daerah.

“Keberadaan tambak garam yang mendominasi desa ini tidak memberi kontribusi signifikan terhadap kesejahteraan warga, melainkan hanya menguntungkan segelintir orang,” ujarnya.

Lanjut Wahyu menyatakan, privatisasi wilayah pesisir Gersik Putih adalah bentuk perampasan ruang hidup masyarakat lokal.

“Melalui pengalihfungsian wilayah ini, nelayan tidak lagi memiliki akses ke laut, dan masyarakat sekitar akan kesulitan memanfaatkan pesisir,” tandasnya.

Baca Juga :  Sosialisasi RAD-PG 2025-2029, Bappeda Siap Tingkatkan Ketahanan Pangan dan Gizi di Sumenep

“Masyarakat akan semakin terpinggirkan dan kehilangan kendali atas sumber daya alam yang selama ini menopang hidup mereka,” pungkasnya.

Berikut tuntutan yang disuarakan Walhi Jatim kepada pemerintah, antara lain:

1. Menolak segala bentuk privatisasi wilayah pesisir di Gersik Putih.

2. ATR/BPN harus mencabut SHM di laut Desa Gersik Putih, Sumenep.

3. Pemerintah Provinsi Jawa Timur harus konsekuen menjalankan PERDA No. 10 Tahun 2023 tentang RTRW yang menyebutkan jika kawasan pesisir Sumenep termasuk zona lindung.

4. Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Sumenep jangan sampai menerbitkan izin di kawasan tersebut, karena seharusnya konsekuen dengan melindungi wilayah pesisir dan mangrove sebagai bagian dari ekosistem yang vital bagi kehidupan masyarakat pesisir.

5. Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Sumenep wajib memberikan akses dan perlindungan kepada masyarakat lokal untuk mengelola sumber daya pesisir secara berkelanjutan. (Sand/EM)

*

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pengunjung Mr. Ball Positif Narkoba, PCNU dan Kiai Desak Pemkab Sumenep Tutup THM
Disbudporapar Sumenep Buka Pintu Kreativitas Masyarakat untuk Kalender Event 2027
Dugaan Ancaman Celurit hingga Perusakan Usaha, Dear Jatim Desak Kapolres Pamekasan Tuntaskan dalam 7×24 Jam
Bahas Tambang Ilegal di Pamekasan, JIP Hadirkan Pemerintah, Polisi hingga Akademisi
Kasus DBD di Pamekasan Capai 380, Dinkes Siapkan 4 Langkah Antisipasi KLB
Puncak Festival Banjari Al-Habsyi, DRT Gemar Bershalawat Hadirkan Majelis At-Taufiq Meriahkan HSN 2026
Dua Kades Terjerat Kasus Narkoba, DPMD Sumenep Pilih Tegak Lurus pada Hukum
Geger! Bayi Laki-Laki Ditemukan di Atas Kursi Rusak di Pinggir Jalan Prenduan Sumenep

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 10:31 WIB

Pengunjung Mr. Ball Positif Narkoba, PCNU dan Kiai Desak Pemkab Sumenep Tutup THM

Senin, 2 November 2026 - 13:01 WIB

Disbudporapar Sumenep Buka Pintu Kreativitas Masyarakat untuk Kalender Event 2027

Kamis, 29 Oktober 2026 - 19:14 WIB

Dugaan Ancaman Celurit hingga Perusakan Usaha, Dear Jatim Desak Kapolres Pamekasan Tuntaskan dalam 7×24 Jam

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:44 WIB

Bahas Tambang Ilegal di Pamekasan, JIP Hadirkan Pemerintah, Polisi hingga Akademisi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:23 WIB

Kasus DBD di Pamekasan Capai 380, Dinkes Siapkan 4 Langkah Antisipasi KLB

Berita Terbaru

ILUSTRASI: H. Hamid Ali Munir dan H. Herman Dali Kusuma, keduanya merupakan mantan Ketua DPRD Kabupaten Sumenep (Foto Istimewa)

Opini Publik

Sumenep Butuh Sosok H. Hamid Ali Munir dan H. Herman Dali Kusuma

Kamis, 5 Nov 2026 - 15:58 WIB