Petani Milenial Ciptakan Pupuk Organik Racikan Sendiri, DKPP Sumenep Siap Dukung Penuh

- Redaksi

Jumat, 17 Oktober 2025 - 10:58 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

TEGAS: Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, saat ditemui di kantornya (SandiGT - Seputar Jatim)

TEGAS: Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, saat ditemui di kantornya (SandiGT - Seputar Jatim)

SUMENEP, Seputar Jatim – Gelombang inovasi pertanian di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, kian menggairahkan.

Sekelompok petani milenial di bawah binaan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) setempat kini menciptakan pupuk organik racikan sendiri.

Koordinator Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) DKPP Sumenep, Dewo Ringgih mengatakan, bahwa inovasi tersebut telah menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

DKPP turut memberikan bimbingan teknis, pendampingan laboratorium, hingga fasilitasi perizinan agar produk pupuk ini dapat segera dipasarkan secara resmi.

Baca Juga :  Pemkab Sumenep Gagas Bupati Award 2025, Jadi Mesin Penggerak Birokrasi Kreatif

“Kami bantu mereka mulai dari uji kandungan pupuk di laboratorium hingga tahap pengurusan izin edar ke Kementerian Pertanian. Sekarang prosesnya sudah sampai pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) koperasi. Setelah izin keluar, mereka bisa memproduksi massal,” ujarnya, Jumat (17/10/25).

Meski izin edar belum rampung, kelompok ini sudah menggunakan pupuk hasil racikannya di lahan sendiri, dengan hasil yang cukup menjanjikan. Tanaman tumbuh lebih subur, dan biaya produksi menurun hingga 40 persen dibanding penggunaan pupuk kimia.

Di samping itu, Ketua kelompok, Abd. Halim, menjelaskan, bahwa seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri oleh para anggota muda di desanya. Mulai dari mengumpulkan bahan baku alami, melakukan fermentasi berhari-hari, hingga pengemasan dengan label lokal.

“Kami ingin mengubah cara pandang petani muda. Pupuk organik ini bukan sekadar produk, tapi simbol kemandirian. Target kami, setelah izin keluar, bisa kami pasarkan ke sesama petani dengan harga yang jauh lebih terjangkau dan aman bagi tanah,” katanya.

Menurutnya, pihaknya ingin menunjukkan bahwa petani muda juga bisa menjadi peneliti sekaligus pelaku usaha pertanian modern tanpa harus meninggalkan nilai-nilai lokal dan kearifan lingkungan.

Sementara itu, Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, menyambut baik semangat yang ditunjukkan kelompok ini.

Menurutnya, keberanian petani muda untuk berinovasi adalah tanda bahwa transformasi pertanian Sumenep ke arah modern dan ekologis sedang benar-benar terjadi.

“Kami ingin mencetak generasi petani baru yang tidak hanya bisa menanam, tapi juga menciptakan inovasi. Pupuk organik buatan mereka ini adalah wujud nyata kreativitas dan kemandirian. Pemerintah daerah tentu mendukung penuh,” tegasnya.

Lanjut ia menambahkan, DKPP telah menyiapkan berbagai program akselerasi petani milenial, termasuk pelatihan teknologi pertanian, manajemen usaha tani, dan sertifikasi produk pertanian lokal.

“Kami tidak ingin petani muda berhenti di ide. Harus bisa produksi, punya legalitas, dan mampu bersaing di pasar. Karena di tangan mereka, masa depan pertanian Sumenep ditentukan,” tambahnya.

Inovasi pupuk organik ini diharapkan menjadi model percontohan bagi desa-desa lain di Sumenep, bahkan di Madura.

Baca Juga :  Ribuan Pekerja Rentan dan Buruh Tani Tembakau di Sumenep Dapat Jaminan BPJS Ketenagakerjaan

Dengan meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya pertanian berkelanjutan, langkah kecil para petani milenial ini bisa menjadi loncatan besar menuju kemandirian pangan dan ekologi.

“Kami yakin, perubahan besar selalu dimulai dari tangan-tangan kecil yang berani mencoba. Dan saat ini, tangan-tangan itu ada di para petani muda Sumenep,” pungkasnya.(Sand/EM)

*

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kasus DBD di Pamekasan Capai 380, Dinkes Siapkan 4 Langkah Antisipasi KLB
Puncak Festival Banjari Al-Habsyi, DRT Gemar Bershalawat Hadirkan Majelis At-Taufiq Meriahkan HSN 2026
Dua Kades Terjerat Kasus Narkoba, DPMD Sumenep Pilih Tegak Lurus pada Hukum
Geger! Bayi Laki-Laki Ditemukan di Atas Kursi Rusak di Pinggir Jalan Prenduan Sumenep
Dugaan Perusakan Rumah dan Teror Celurit di Pamekasan, Jaka Jatim Desak Polisi Usut Tuntas
Kuota Cuma 20 Grup, Jangan Lewatkan! Festival Banjari Al-Habsyi se-Sumenep Siapkan Hadiah Jutaan
Peringati Hari Parlemen 2026, DPRD Sumenep Siapkan Hadiah Rp100 Juta dan Sembako
Dugaan Tiru Rokok Ilegal Marbol Berujung Teror dan Perusakan, Kendaraan Ibu di Pamekasan Diambil

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:23 WIB

Kasus DBD di Pamekasan Capai 380, Dinkes Siapkan 4 Langkah Antisipasi KLB

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:21 WIB

Dua Kades Terjerat Kasus Narkoba, DPMD Sumenep Pilih Tegak Lurus pada Hukum

Selasa, 20 Oktober 2026 - 06:58 WIB

Geger! Bayi Laki-Laki Ditemukan di Atas Kursi Rusak di Pinggir Jalan Prenduan Sumenep

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Dugaan Perusakan Rumah dan Teror Celurit di Pamekasan, Jaka Jatim Desak Polisi Usut Tuntas

Selasa, 13 Oktober 2026 - 12:22 WIB

Kuota Cuma 20 Grup, Jangan Lewatkan! Festival Banjari Al-Habsyi se-Sumenep Siapkan Hadiah Jutaan

Berita Terbaru