Jamasan Keris sebagai Warisan Tradisi Nenek Moyang

- Redaksi

Minggu, 14 Juli 2024 - 18:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sastrawan dan Budayawan Sumenep, Ibnu Hajar

Sastrawan dan Budayawan Sumenep, Ibnu Hajar

SUMENEP, Seputar Jatim – Haul dan jamasan pusaka Desa Aeng Tong-tong Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur akan digelar pada tanggal 15-16 Juli 2024 dengan kirab pusaka dari Aeng Tong-tong menuju keraton setempat.

Oleh karena itu, dapat diketahui bersama bahwa di Sumenep ini, merupakan Kota Keris bahkan beberapa waktu lalu memiliki keris terpanjang se-Indonesia, yang sudah masuk Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), kemudian keris terpanjang itu kita jadikan monumen.

Sastrawan dan Budayawan Sumenep, Ibnu Hajar mengatakan, bahwa dalam momentum jamasan keris ini, merupakan bentuk warisan tradisi dari nenek moyang kita.

“Jadi salah satunya ini merupakan prodak kebudayaan juga dalam bentuk tradisi turun-temurun. Kata jamas sendiri itu berasal dari Jawa kuno, yang berarti mencuci dan memandikan (membersihkan),” ujarnya. Minggu (14/07/2024).

Baca Juga :  Bupati Sumenep Sandang Gelar Doktor di Unmer Malang

Kata dia, Kabupaten Sumenep yang memiliki empu terbanyak dan keris-keris Sumenep mulai dari era Arya Wiraraja sampai sekarang.

“Hal itu kan dikenal bahwa kita, memiliki pusaka yang namanya Keris, dan tradisi jamasan ini tidak hanya terjadi di pulau jawa atau di kota-kota yang memiliki keris, tetapi Sumenep juga memiliki tradisi yang seperti ini. Salah satunya yang dilakukan oleh saudara-saudara kita yang berada di Desa Aeng Tong-tong. Jadi wajar saja jika di Aeng Tong-tong itu ada tradisi jamasan keris,” paparnya.

Ia juga menegaskan, oleh karena itu, juga dapat diketahui bahwa di Aeng Tong-tong merupakan salah satu sentra pembuatan keris.

“Nilai-nilai yang seperti ini, saya lebih melihatnya bagaimana merawat tradisi. Jadi lebih kepada merawat tradisi yang sudah diwariskan oleh leluhur kita, terutama para pencinta keris juga disamping itu merupakan bentuk penghargaan terhadap karya seni berupa keris yang dibuat oleh empu-empu kita terdahulu bahkan oleh empu-empu milenial, sehingga pelestarian ini memang sangat perlu tetap dilestarikan,” tegasnya.

Disamping itu, lanjut Ibnu Hajar, dibalik hal jamasan ini, harus mampu dalam artian sebagai generasi milenial harus menghargai nilai-nilai kebudayaan.

Baca Juga :  PAUD HI El-Fath Sumenep Gelar Orientasi Wali Murid Baru Tahun Ajaran 2024

“Sehingga tidak hanya keris sebagai pusaka, tidak hanya keris itu dianggap sebagai lambang prodak kebudayaan, akan tetapi bagaimana substansi dari jamasan ini, kita merawat tradisi yang dalam artian yang pertama yaitu bentuk penghargaan terhadap karya dan yang kedua bagaimana ini bisa menjadi ikhtibar untuk generasi sekarang agar tidak punah juga karya seni yang berbentuk keris ini kita rawat,” jelasnya.

Lanjut Ibnu Hajar mengatakan, ini juga bentuk upaya pelestarian dari benda-benda pusaka yang dimiliki dalam hal ini keris.

Baca Juga :  Pemkab Sumenep Launching Bupati Award 2024 untuk Dorong Kreativitas Camat dan Lurah

Oleh karena itu, kata dia, substansi-substansi dibalik jamasan ini memiliki nilai-nilai kearifan lokal, sehingga juga bisa memberikan motivasi kepada generasi-generasi sekarang untuk berkarya juga.

“Jadi keris-keris yang di prodak oleh nenek moyang kita dan empu-empu terdahulu itu tidak berhenti disitu saja, tetapi bagaimana empu-empu yang sekarang juga semakin produktif dan kreatif untuk melahirkan karya-karya yang berupa keris ituitu,” imbuhnya.

“Saya harapkan tradisi ini menjadi agenda rutin, karena biasanya tradisi jamasan ini di beberapa tempat biasanya dilaksanakan di bulan syura,” tukasnya.* (Sand/EM)

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pelestarian atau Pemaksaan? Perbup Busana Budaya Sumenep Tuai Gelombang Kritik
Puluhan Pasang Sapi Kerap Meriahkan HUT Perdana DRT di Lapangan Giling Sumenep
Festival Kucing Busok Raas 2025: Ajang Konservasi Ras Langka yang Jadi Magnet Wisata
Hari Jadi Sumenep ke-756, 1000 Penari Topeng Meriahkan Puncak Prosesi Arya Wiraraja
Disbudporapar Sumenep Perjuangkan 5 Warisan Budaya Lokar Agar Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2025
Daftar Juara Festival Musik Tong-Tong 2025 di Sumenep
Festival Musik Tong-Tong Masuk KEN 2025, Disbudporapar Sumenep Siap Tampilkan Budaya Sumenep Tingkat Nasional
38 Grup Meriahkan Festival Musik Tong Tong se-Madura 2025

Berita Terkait

Sabtu, 10 Januari 2026 - 17:47 WIB

Pelestarian atau Pemaksaan? Perbup Busana Budaya Sumenep Tuai Gelombang Kritik

Sabtu, 13 Desember 2025 - 21:00 WIB

Puluhan Pasang Sapi Kerap Meriahkan HUT Perdana DRT di Lapangan Giling Sumenep

Rabu, 19 November 2025 - 14:25 WIB

Festival Kucing Busok Raas 2025: Ajang Konservasi Ras Langka yang Jadi Magnet Wisata

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 23:53 WIB

Hari Jadi Sumenep ke-756, 1000 Penari Topeng Meriahkan Puncak Prosesi Arya Wiraraja

Selasa, 21 Oktober 2025 - 10:02 WIB

Disbudporapar Sumenep Perjuangkan 5 Warisan Budaya Lokar Agar Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2025

Berita Terbaru

ILUSTRASI: Menu MBG basi yang hampir dikonsumsi oleh siswa di sekolah (Doc. Seputar Jatim)

Peristiwa

Ayam Basi dalam Menu MBG, SPPG Marengan Daya Tuai Kecaman

Rabu, 28 Jan 2026 - 10:34 WIB

ILUSTRASI: Beberapa siswa membuang menu MBG karena tidak enak (Doc. Seputar Jatim)

Peristiwa

MBG Berakhir Dibuang, Wali Murid Nilai SPPG Saronggi Gagal

Rabu, 28 Jan 2026 - 10:09 WIB

ILUSTRASI : Kepala SPPG Saronggi memilih bungkam saat ada MBG  yang bau (Doc. Seputar Jatim)

Peristiwa

MBG Tak Aman, Siswa Terancam, Kepala SPPG Saronggi Bungkam

Selasa, 27 Jan 2026 - 22:20 WIB