Pulau Sepudi Sumenep Krisis BBM, Harga Eceran Meroket

- Redaksi

Kamis, 25 September 2025 - 12:48 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

ILUSTRASI: Aantrean panjang di SPBU Pulau Sepudi Sumenep (SandiGT - Seputar Jatim)

ILUSTRASI: Aantrean panjang di SPBU Pulau Sepudi Sumenep (SandiGT - Seputar Jatim)

SUMENEP, Seputar Jatim – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melumpuhkan aktivitas warga di Kecamatan Gayam dan Nonggunong, Pulau Sepudi, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, tidak berakar pada kuota pasokan.

Fakta terbaru mengungkapkan, krisis ini lahir dari lemahnya sistem distribusi yang belum siap menghadapi perubahan moda angkutan.

Pengelola tiga SPBU Gayam, Ardi menyatakan, kuota bulanan sebenarnya sudah lebih dari cukup. SPBU Gayam, misalnya, mendapat jatah 232 kiloliter (KL) Pertalite dan 80 KL Solar. Jumlah ini sudah dua kali lipat dari kuota lama.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kelangkaan bukan karena kuota. Hambatan justru muncul dari transisi pengangkutan, dari kapal kecil ke kapal besar,” ujarnya. Kamis (25/9/2025).

Baca Juga :  Tingkatkan Semangat Petani Lokal, DKPP Sumenep Gelar Festival Hari Tani Nasional 2025

Perubahan moda distribusi dipicu kerusakan kapal kecil reguler. Akibatnya, suplai harus dialihkan ke kapal besar. Dari sisi kapasitas, kapal tanker jelas unggul karena bisa mengangkut lebih banyak BBM. Namun, dari sisi waktu, proses bongkar muat lebih lambat.

Jika kapal kecil butuh tiga hingga empat hari, kapal besar memerlukan lima hingga enam hari. Selisih dua hari inilah yang berujung pada antrean kosong di SPBU.

“Distribusi terakhir masuk 15 September. Kalau masih pakai kapal kecil, seharusnya sudah tiba lagi dua hari lalu. Dengan kapal besar, paling cepat empat hari ke depan,” bebernya.

SPBU Gayam sudah seminggu tak beroperasi. SPBU Nonggunong lebih parah, tutup hampir setahun. Akibatnya, harga eceran BBM di lapangan meroket.

“Gayam: Rp 15.000 per liter (dari harga normal Rp 10.000), Nonggunong: Rp 25.000 per liter untuk bensin botolan,” tandasnya.

“Pulau ini tidak bisa menunggu terlalu lama. Setiap kali suplai terlambat, harga melambung, dan rakyat yang menanggung beban,” pungkasnya. (Sand/EM)

*

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

SMSI Kecam Dugaan Pengusiran Wartawan, Tolak Hadiri Undangan Polresta Sumenep
Hari Jadi ke-758 Sumenep, Logo Baru Jadi Simbol Sejarah dan Semangat Kemajuan
Aroma Dugaan Penyelewengan DD Meddelan Terungkap, Inspektorat Sumenep Dinilai Kecolongan
Inspektorat Sumenep Periksa Dana Desa Meddelan, Warga Mulai Bertanya?
Rambu Minim, Proyek Jembatan di Pakandangan Dikeluhkan Warga karena Rawan Kecelakaan
Inspektorat Sumenep Siap Telusuri Dugaan Penyimpangan Dana BUMDes Meddelan
Dana Desa Meddelan Diduga Tak Sesuai Peruntukan, Inspektorat Sumenep Didesak Turun Tangan
Suarakan Semangat Nasionalisme, IWO Sumenep Kembali Hadirkan Lomba Baca Puisi dan Pidato Bung Karno 2026 se-Madura

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 09:54 WIB

SMSI Kecam Dugaan Pengusiran Wartawan, Tolak Hadiri Undangan Polresta Sumenep

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:02 WIB

Hari Jadi ke-758 Sumenep, Logo Baru Jadi Simbol Sejarah dan Semangat Kemajuan

Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:40 WIB

Aroma Dugaan Penyelewengan DD Meddelan Terungkap, Inspektorat Sumenep Dinilai Kecolongan

Kamis, 28 Mei 2026 - 05:08 WIB

Inspektorat Sumenep Periksa Dana Desa Meddelan, Warga Mulai Bertanya?

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:35 WIB

Rambu Minim, Proyek Jembatan di Pakandangan Dikeluhkan Warga karena Rawan Kecelakaan

Berita Terbaru