Aktivis HMI UNIBA Madura Sebut Wacana Pilkada Lewat DPRD Alarm Kematian Demo

- Redaksi

Kamis, 15 Januari 2026 - 19:03 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

BERKALUNG: Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Bahauddin Mudhary (UNIBA) Madura, Moh. Marwan (Doc. Seputar Jatim)

BERKALUNG: Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Bahauddin Mudhary (UNIBA) Madura, Moh. Marwan (Doc. Seputar Jatim)

SUMENEP, Seputar Jatim – Wacana pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada) dari pemilihan langsung oleh rakyat ke pemilihan melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menuai kritik tajam dari kalangan aktivis mahasiswa.

Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Bahauddin Mudhary (UNIBA) Madura, Moh. Marwan, menilai gagasan tersebut sebagai kemunduran serius bagi demokrasi dan bentuk nyata pengingkaran terhadap prinsip kedaulatan rakyat.

“Demokrasi adalah ikrar suci kedaulatan rakyat. Ketika Pilkada ditarik ke tangan DPRD, itu bukan sekadar perubahan mekanisme, melainkan perampasan hak konstitusional rakyat untuk menentukan pemimpinnya sendiri,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga :  BRI Unit Pragaan Beri Tenggat Sepekan ke Keluarga, Klaim Asuransi Kematian Tak Kunjung Pasti

Ia merujuk pada data Litbang Kompas yang menunjukkan bahwa 77,3 persen masyarakat Indonesia masih menghendaki Pilkada dilakukan secara langsung.

Menurutnya, angka tersebut menjadi indikator kuat bahwa mayoritas rakyat menolak hak politiknya dikebiri oleh kepentingan elit.

“emaksakan Pilkada melalui DPRD berarti menutup ruang partisipasi publik dan berpotensi melahirkan pemimpin yang miskin legitimasi moral di mata rakyat,” tegasnya.

Lebih jauh, Marwan mencurigai wacana tersebut sarat kepentingan oligarki politik. Ia menilai alasan efisiensi anggaran dan pencegahan polarisasi yang kerap dikemukakan hanya menjadi dalih yang tidak menyentuh akar persoalan demokrasi.

“Jika alasan utamanya efisiensi dan polarisasi, itu argumen dangkal. Seperti yang pernah ditegaskan Adian Napitupulu, kegaduhan politik bukan kesalahan rakyat, melainkan kegagalan partai politik dalam melakukan kaderisasi,” ujarnya.

Ia juga mengutip pandangan analis politik Adi Prayitno yang menyebut penguatan koalisi permanen berpotensi menjadikan daerah sebagai arena eksperimen kekuasaan elit, sementara rakyat hanya menjadi penonton.

Menurut Marwan, dampak paling berbahaya dari Pilkada tidak langsung adalah pergeseran loyalitas kepala daerah.

Jika kepala daerah dipilih oleh DPRD, maka tanggung jawab moral mereka dikhawatirkan lebih condong kepada partai politik dibandingkan kepada rakyat.

“Kepala daerah akan terjebak dalam politik balas budi. Kebijakan publik berpotensi tersandera oleh kepentingan fraksi dan transaksi politik di parlemen,” katanya.

Ia juga menyinggung rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut, menurutnya, diperparah oleh gelombang demonstrasi besar pada 2025 yang menuntut perbaikan etika politik dan keadilan sosial.

Baca Juga :  Modernisasi Layanan dan SDM, RSUD Moh Anwar Sumenep Siap Jadi Rumah Sakit Rujukan Andal

“Di tengah kepercayaan publik yang belum pulih, merampas hak pilih rakyat justru berisiko memicu kemarahan sosial yang lebih besar. Ini bisa menjadi lonceng kematian demokrasi kita,” ujarnya.

Marwan menegaskan, jika pemerintah dan DPR tetap memaksakan wacana tersebut, maka langkah itu sama saja dengan menggali kubur bagi demokrasi Indonesia.

“Kedaulatan harus dikembalikan kepada pemilik sahnya, yaitu rakyat. Demokrasi hanya akan hidup jika rakyat dilibatkan, bukan disingkirkan dalam menentukan masa depan daerahnya,” pungkasnya. (EM)

*

Penulis : EM

Sumber Berita: https://www.seputarjatim.com

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dijanjikan Bisnis 37 Dapur MBG, Warga Sumenep Rugi Rp288,9 Juta, Nama Istri Anggota DPR RI Disebut
Viral! Avanza Putih Muat Jeriken Diduga Isi Pertalite di SPBU Kolor Sumenep
Kabel WiFi Semrawut di Jalan Pakondang Picu Warga Terjatuh, Pemuda: Haruskah Menunggu Korban Lagi?
Geger! Warga Batang-Batang Daya Sumenep Temukan Mayat Diduga Bakar Diri
Dituding Pelakor, Perempuan di Sampang Lapor Polisi Usai Alat Kelaminnya Diolesi Cabai
SMSI Kecam Dugaan Pengusiran Wartawan, Tolak Hadiri Undangan Polresta Sumenep
Hari Jadi ke-758 Sumenep, Logo Baru Jadi Simbol Sejarah dan Semangat Kemajuan
Aroma Dugaan Penyelewengan DD Meddelan Terungkap, Inspektorat Sumenep Dinilai Kecolongan

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 16:34 WIB

Dijanjikan Bisnis 37 Dapur MBG, Warga Sumenep Rugi Rp288,9 Juta, Nama Istri Anggota DPR RI Disebut

Rabu, 9 September 2026 - 11:20 WIB

Viral! Avanza Putih Muat Jeriken Diduga Isi Pertalite di SPBU Kolor Sumenep

Minggu, 30 Agustus 2026 - 13:57 WIB

Kabel WiFi Semrawut di Jalan Pakondang Picu Warga Terjatuh, Pemuda: Haruskah Menunggu Korban Lagi?

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:14 WIB

Geger! Warga Batang-Batang Daya Sumenep Temukan Mayat Diduga Bakar Diri

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Dituding Pelakor, Perempuan di Sampang Lapor Polisi Usai Alat Kelaminnya Diolesi Cabai

Berita Terbaru

Pengamat Kebijakan Publik, Fauzi As (Doc. Seputar Jatim)

Opini Publik

TEMPO BERJUDI DI MADURA

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:18 WIB

PAKAIAN: Polresta Sumenep, mengamankan sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan kasus persetubuhan pelajar (Dok. Seputar Jatim)

Hukum & Kriminal

Terbongkar! Pria di Sumenep Diduga Setubuhi Pelajar 17 Tahun Dua Kali

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:11 WIB