CERPEN: Banjir, para Kadis Melihat air

Oleh: Didik Setia Budi, Penulis, suka mancing

- Redaksi

Senin, 2 Januari 2023 - 16:16 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Dukung Jurnalis Kami !
+ Traktir Kopi

(Foto Istimewa)

(Foto Istimewa)

Seputarjatim.com- Addul Asnan diatas pohon. Nangkring di dahannya. Sesekali melongok ke bawah. Air masih menggenang. Dua hari, Dusun Pelangi mati. Tak ada aktifitas warga, sejak banjir menggenang.

“Kenapa bisa banjir besar begini, Dul?” Asnan membuka percakapan.

“Mungkin karena hujannya deras. Air laut naik. Jadi aliran sungai mandek, dan membanjiri Dusun kita,” jawab Addul ilmiah.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keduanya lalu memandang permukiman. Sawah banjir. Tambak meluap. Kasur, bantal, kambing, ayam, diatas genting. Diikat. Sepi warga, mereka mengungsi. Addul Asnan diberi mandat menjaga.

“Pak Kadus harus segera bertindak. Bila tidak, habis dusun kita. Setiap hujan turun, banjir mesti terjadi. Parah,” keluh Addul ke Asnan. Asnan manggut-manggut.

Baca Juga :  Ini Perbedaan Antara Teman dan Sahabat

Di kejauhan nampak sebuah rakit melaju. Pak apel mendayung diatasnya. Membawa bungkusan nasi. “Dul, Asnan, kalian dimana?” Panggil Pak Apel.

Addul Asnan gembira, waktu makan siang tiba. “Disini Pak Apel, pohon asam,” teriak Addul keras.

Rakit mendekat ke pohon asam. Tali diikat. Pak Apel bergabung naik ke atas. Wajahnya tampak lelah. Menjulurkan bungkusan plastik.

“Ini Nasinya. Dimakan dulu,” kata Pak Apel.

“Airnya belum surut-surut, Pak Apel,” lapor Addul Asnan.

“Iya. Saya juga bingung melapor ke siapa. Airnya masih tinggi. Tapi tenang, semua pejabat sudah turun ke bawah,” kata Pak Apel optimis.

Baca Juga :  7 Gaya Rambut Ponytail Artis Indonesia Bisa Jadi Inspirasi, Kamu suka yang mana?

Addul Asnan senyum sambil membuka nasi bungkusan. Perut keduanya keroncongan. Nasi lauk teripang disantapnya.

Tak berselang lama, rakit lebih besar terlihat di kejauhan. Seorang kepala dinas rupanya sedang melihat kondisi banjir. Sepatu bootnya kering. Wajahnya sibuk menelepon. Di sebelahnya, berdiri seorang staf. Menulis ini-itu sebagai laporan.

“Saya sudah difoto?” Tanya sang Kepala Dinas pada staf.

“Sudah Pak. Bagus fotonya,” ujar staf sambil menunjukkan hasil jepretannya.

“Ya sudah, ayo kita pulang,” lanjut Pak Kadis.

Diatas pohon Asam, Addul, Asnan, termasuk Pak Apel diam. (dik/red)

Follow WhatsApp Channel seputarjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polemik Toko Kelontong Madura di Yogyakarta Memanas, KMY Kawal Pemeriksaan dan Tempuh Jalur Hukum
Dari Ponsel Sederhana ke Gerakan Sosial, Abdul Aziz di Purbalingga Angkat Martabat Kaum Pekerja
Produk UMKM Sumenep Dibawa KEI ke Yogyakarta, Buka Peluang Pasar Baru
Kena Tipu Saat Kirim Barang, Ketum IWO Desak Pertanggungjawaban PT Indah Logistik
Al-Quran Diduga Jadi Materi Promosi Alkohol, Wamenag: Harus Ada Konsekuensi Tegas
Jelang HUT ke 14, IWO Berbagi Kebahagiaan di SD Muhammadiyah 16 
Jelang Pemeliharaan Oprit Jembatan, Hutama Karya Uji Skema Contraflow di Tol Binjai-Langsa
Harvick Hasnul Qolbi Disebut Sosok Ideal Jadi Mendag di Tengah Gejolak Perdagangan Global

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 16:14 WIB

Polemik Toko Kelontong Madura di Yogyakarta Memanas, KMY Kawal Pemeriksaan dan Tempuh Jalur Hukum

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 19:32 WIB

Dari Ponsel Sederhana ke Gerakan Sosial, Abdul Aziz di Purbalingga Angkat Martabat Kaum Pekerja

Sabtu, 19 September 2026 - 09:40 WIB

Produk UMKM Sumenep Dibawa KEI ke Yogyakarta, Buka Peluang Pasar Baru

Rabu, 16 September 2026 - 16:38 WIB

Kena Tipu Saat Kirim Barang, Ketum IWO Desak Pertanggungjawaban PT Indah Logistik

Selasa, 11 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Al-Quran Diduga Jadi Materi Promosi Alkohol, Wamenag: Harus Ada Konsekuensi Tegas

Berita Terbaru